Karhutla Meningkat, Sumatera Selatan Catat 91 Hotspot dan Jambi 9 Titik

Karhutla Meningkat, Sumatera Selatan Catat 91 Hotspot dan Jambi 9 Titik

Ilustrasi karhutla. (Foto: Kemenhut)

Sumbardaily.com - Kementerian Kehutanan memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) setelah jumlah titik panas atau hotspot meningkat di sejumlah wilayah Indonesia. Di Pulau Sumatera, Sumatera Selatan mencatat 91 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi, sedangkan Jambi terdeteksi memiliki sembilan titik berdasarkan pemantauan terbaru.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, menyampaikan bahwa penanganan karhutla terus diperkuat melalui operasi darat dan udara. Upaya tersebut difokuskan pada wilayah yang mengalami peningkatan hotspot serta lokasi kebakaran yang masih memerlukan penanganan lanjutan.

“Pengendalian kebakaran hutan dan lahan terus diperkuat melalui operasi darat dan udara, terutama pada wilayah yang masih menunjukkan peningkatan hotspot dan kondisi kebakaran yang memerlukan penanganan lanjutan,” kata Ristianto Pribadi, dikutip dari Kementerian Kehutanan, Jumat (16/10/2026).

Berdasarkan pemantauan Sistem Pemantauan Karhutla atau SiPongi Kementerian Kehutanan hingga Rabu (14/10/2026) pukul 21.00 WIB, terdapat 372 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence di seluruh Indonesia. Angka tersebut meningkat 128 titik atau sekitar 52,5 persen dibandingkan sehari sebelumnya yang mencatat 244 hotspot.

Peningkatan juga terjadi di enam provinsi prioritas penanganan karhutla. Jumlah hotspot di wilayah tersebut mencapai 294 titik, bertambah 146 titik dibandingkan hari sebelumnya yang mencatat 148 titik.

Di Sumatera Selatan, jumlah hotspot meningkat dari 59 menjadi 91 titik. Sementara itu, Jambi yang sehari sebelumnya tidak mencatat hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi kini memiliki sembilan titik.

Adapun Riau masih mencatat nihil hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi. Perkembangan di setiap wilayah menjadi bagian dari pemantauan untuk menentukan kebutuhan pemeriksaan dan langkah pengendalian kebakaran di lapangan.

Di luar Sumatera, Kalimantan Tengah mencatat 130 hotspot, meningkat dari 65 titik. Kalimantan Barat juga mengalami kenaikan dari 15 menjadi 59 titik. Sebaliknya, Kalimantan Selatan mengalami penurunan dari sembilan menjadi lima hotspot.

Berdasarkan data tersebut, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat menjadi wilayah yang mendapat perhatian lebih karena peningkatan titik panas yang terdeteksi.

Ristianto menjelaskan bahwa data hotspot perlu dipahami sebagai indikasi awal, bukan angka pasti jumlah kebakaran maupun luas lahan yang terbakar.

“Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot, sehingga jumlah hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas area yang terbakar,” kata Ristianto, dikutip dari Kementerian Kehutanan, Jumat (16/10/2026).

Karena itu, seluruh indikasi yang ditemukan melalui pemantauan satelit tetap harus diverifikasi secara langsung di lapangan. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan kondisi sebenarnya dan menentukan tindakan yang sesuai.

Kemenhut Perkuat Operasi Darat dan Udara

Penanganan karhutla dilakukan melalui kerja sama berbagai pihak. Kementerian Kehutanan melalui Manggala Agni bersama BNPB, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, dan pihak terkait lainnya terus menjalankan operasi lapangan.

Kegiatan tersebut mencakup pemeriksaan langsung terhadap hotspot, patroli, pemadaman langsung, penyekatan bagian kepala dan sisi api, pembasahan, pendinginan, penyisiran bara, serta mopping up atau penanganan lanjutan untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa.

Ristianto mengatakan strategi pengendalian disesuaikan dengan karakteristik kebakaran di setiap lokasi. Penanganan kebakaran di lahan gambut membutuhkan perhatian lebih karena api dapat menjalar di bawah permukaan tanah dan tidak selalu terlihat dari luar.

“Pada kebakaran gambut, operasi membutuhkan penanganan lebih intensif karena api dapat menjalar di bawah permukaan. Personel tidak hanya memadamkan api yang terlihat, tetapi juga mencari sumber panas dan bara yang berpotensi menyebabkan penyalaan kembali,” kata Ristianto, dikutip dari Kementerian Kehutanan, Jumat (16/10/2026).

Tahapan pemadaman tidak berhenti ketika kobaran api di permukaan berhasil dikendalikan. Petugas perlu melanjutkan pembasahan, pendinginan, penyisiran, dan mopping up karena bara yang tertinggal dapat kembali menyala ketika lahan mengering atau angin bertiup.

Penanganan Karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting

Selain memantau peningkatan hotspot di sejumlah provinsi, Kementerian Kehutanan memperkuat penanganan kebakaran di kawasan konservasi. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengunjungi Balai Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, pada Rabu (14/10/2026).

Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan pengendalian kebakaran di kawasan taman nasional berjalan lebih intensif.

Di Kantor Balai TN Tanjung Puting, Raja Juli Antoni menggelar rapat terbatas bersama unsur pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, BNPB, pengelola taman nasional, serta pihak terkait lainnya.

Pembahasan difokuskan pada percepatan penanganan di lokasi prioritas, penambahan personel dan logistik pemadaman, ketersediaan sumber air, serta penguatan koordinasi operasi darat dan udara.

Penanganan diarahkan pada empat lokasi prioritas dengan tambahan dukungan sekitar 160 personel darat. Untuk memperkuat pemadaman, sumber air ditambah melalui sumur bor. Pemerintah juga menyiapkan alternatif dukungan operasi udara melalui Kuala Pembuang apabila diperlukan sesuai kondisi lapangan.

Ristianto menyampaikan bahwa penanganan di kawasan gambut harus dilanjutkan setelah api di permukaan berhasil dikendalikan.

“Penanganan tidak boleh berhenti setelah api di permukaan berhasil dikendalikan. Pada area gambut, pembasahan, pendinginan, penyisiran, dan mopping up perlu dilakukan karena bara dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali menyala ketika kondisi kering atau berangin,” kata Ristianto, dikutip dari Kementerian Kehutanan, Jumat (16/10/2026).

Habitat Orangutan Turut Dilindungi

Pengendalian karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting juga memperhatikan perlindungan zona inti dan habitat satwa liar, terutama orangutan.

Patroli dan pemantauan kawasan terus dilakukan untuk mengantisipasi dampak kebakaran terhadap habitat maupun pergerakan satwa. Upaya ini diperlukan agar penanganan kebakaran turut memperhatikan keselamatan satwa yang hidup di kawasan konservasi.

Masyarakat yang menemukan satwa terdampak kebakaran, terluka, terjebak, atau keluar dari habitatnya diminta tidak melakukan evakuasi secara mandiri.

“Jika menemukan satwa yang terdampak, terluka, terjebak, atau keluar dari habitatnya, masyarakat diminta menjaga jarak aman dan tidak melakukan evakuasi sendiri. Lokasi serta kondisi satwa dapat dicatat apabila memungkinkan, kemudian dilaporkan kepada petugas Balai TN Tanjung Puting, BKSDA, atau petugas kehutanan untuk dilakukan asesmen dan penyelamatan sesuai prosedur,” kata Ristianto, dikutip dari Kementerian Kehutanan, Jumat (16/10/2026).

Pelaporan tersebut diperlukan agar petugas dapat menilai kondisi satwa dan menentukan tindakan penyelamatan yang tepat. Masyarakat juga diimbau menghindari tindakan yang berisiko bagi keselamatan diri sendiri maupun satwa.

Kualitas Udara di Sejumlah Wilayah Sumatera Dipantau

Di tengah peningkatan hotspot, kualitas udara di berbagai wilayah Indonesia juga menjadi perhatian. Berdasarkan pemantauan PM2.5, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam kategori baik hingga sedang.

Namun, sejumlah bagian Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Papua masih menunjukkan kondisi udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Bahkan, terdapat kondisi berbahaya secara lokal.

Masyarakat di wilayah terdampak diminta terus mengikuti informasi kualitas udara dan arahan pemerintah daerah. Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Apabila harus beraktivitas di luar, penggunaan masker dianjurkan. Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan atau penyakit kronis.

“Kualitas udara di wilayah terdampak perlu terus diperhatikan. Masyarakat diimbau mengikuti informasi kualitas udara dan arahan pemerintah daerah, mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi memburuk, serta menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar,” kata Ristianto, dikutip dari Kementerian Kehutanan, Jumat (16/10/2026).

Pemantauan kualitas udara menjadi salah satu pertimbangan bagi masyarakat untuk menyesuaikan kegiatan sehari-hari. Kelompok rentan perlu mendapat perhatian lebih ketika kondisi udara berada pada kategori tidak sehat.

Kemenhut Ingatkan Masyarakat Tidak Membakar Lahan

Kementerian Kehutanan kembali mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha agar tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Praktik tersebut berpotensi memicu kebakaran yang meluas dan membutuhkan penanganan lebih intensif.

Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan asap, titik api, maupun aktivitas pembakaran. Pelaporan sedini mungkin diperlukan agar petugas dapat melakukan pemeriksaan dan penanganan sebelum kebakaran meluas.

“Setiap asap, titik api, maupun aktivitas pembakaran agar segera dilaporkan sehingga penanganan dapat dilakukan sedini mungkin,” kata Ristianto, dikutip dari Kementerian Kehutanan, Jumat (16/10/2026).

Pelaporan informasi karhutla dapat disampaikan melalui Posko Karhutla Kementerian Kehutanan.

Peningkatan hotspot di Sumatera Selatan dan Jambi menjadi salah satu perkembangan yang perlu terus dipantau. Meskipun titik panas dari satelit harus diverifikasi di lapangan, informasi tersebut dapat membantu petugas menentukan lokasi pemeriksaan dan langkah penanganan.

Melalui operasi darat dan udara, koordinasi lintas instansi, pemantauan kualitas udara, serta partisipasi masyarakat, pengendalian karhutla terus diperkuat untuk menekan risiko kebakaran, melindungi kawasan hutan, dan mencegah dampak yang lebih luas terhadap lingkungan maupun kesehatan masyarakat. (*)

Baca Juga

Bahan Pemadam Karhutla dari Brasil Diuji di Sumsel, Diklaim Efektif Atasi Api Gambut
Bahan Pemadam Karhutla dari Brasil Diuji di Sumsel, Diklaim Efektif Atasi Api Gambut
Hotspot Karhutla Sumatera Masih Tinggi, Sumsel Catat 107 Titik Panas
Hotspot Karhutla Sumatera Masih Tinggi, Sumsel Catat 107 Titik Panas
Sumatera Selatan Catat 130 Titik Panas, Karhutla Masih Jadi Ancaman di Sumatera
Sumatera Selatan Catat 130 Titik Panas, Karhutla Masih Jadi Ancaman di Sumatera
Karhutla Meningkat di Sumsel, 224 Hotspot Terdeteksi dalam Pemantauan Terbaru
Karhutla Meningkat di Sumsel, 224 Hotspot Terdeteksi dalam Pemantauan Terbaru
Karhutla Meluas, 1.359 Hotspot Terdeteksi di Kalimantan hingga Sumatera
Karhutla Meluas, 1.359 Hotspot Terdeteksi di Kalimantan hingga Sumatera
Hotspot Nasional Turun Tajam, Sumatera Selatan Justru Jadi Titik Panas Tertinggi
Hotspot Nasional Turun Tajam, Sumatera Selatan Justru Jadi Titik Panas Tertinggi