Karhutla Bisa Hancurkan Lapisan Gambut 15 Cm, Ini Dampaknya bagi Tanah

Karhutla Bisa Hancurkan Lapisan Gambut 15 Cm, Ini Dampaknya bagi Tanah

Ilustrasi Kebakaran Hutan (Foto: Pixabay)

Sumbardaily.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menyisakan pepohonan hangus dan kabut asap. Di bawah permukaan yang menghitam, kebakaran juga dapat menghancurkan bahan organik, mengurangi kemampuan tanah menyimpan air, mengganggu kehidupan mikroorganisme, bahkan menghilangkan sebagian lapisan tanah yang terbentuk selama ratusan hingga ribuan tahun.

Dampak tersebut terutama menjadi perhatian pada lahan gambut. Berbeda dengan tanah mineral yang umumnya mengalami kerusakan akibat panas di permukaan, tanah gambut dapat ikut terbakar hingga ke bagian bawah permukaan. Api bahkan bisa bertahan melalui proses pembaraan tanpa menghasilkan nyala yang mudah terlihat, sehingga sumber panasnya sulit ditemukan dan dipadamkan.

Penelitian di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan menunjukkan kebakaran dapat mengubah sifat fisik, kimia, dan biologis tanah. Pada lahan gambut yang terbakar, ketebalan tanah dapat berkurang, sementara kemampuan menyimpan air dan unsur hara juga berpotensi mengalami penurunan.

Ancaman karhutla masih menjadi perhatian sepanjang 2026, khususnya di enam provinsi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Berdasarkan data Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan, hingga 14 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB, terdeteksi 294 titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi. Sebaran terbanyak tercatat di Kalimantan Tengah dengan 130 titik, disusul Sumatera Selatan sebanyak 91 titik dan Kalimantan Barat sebanyak 59 titik.

Selama ini, perhatian terhadap karhutla umumnya tertuju pada kobaran api, asap yang menyelimuti wilayah terdampak, serta vegetasi yang musnah. Padahal, kerusakan tidak berhenti ketika api padam. Perubahan pada tanah dapat berlangsung setelah kebakaran selesai dan memengaruhi kemampuan lahan mendukung pertumbuhan tanaman maupun menjalankan fungsi ekologisnya.

Prof. Dian Fiantis, dosen Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, sekaligus Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas (Unand), menjelaskan karakteristik tanah menentukan bagaimana kebakaran memengaruhi lahan.

“Perbedaan ini penting dipahami karena menentukan tingkat kerusakan, teknik pemadaman, dan proses pemulihan lahan. Sejumlah penelitian di Sumatera dan Kalimantan memberikan gambaran ilmiah mengenai perubahan yang terjadi pada kedua jenis tanah tersebut,” ujar Dian dilansir dari Kepakaran Unand, Selasa (20/10/1026).

Tanah Mineral dan Gambut Menghadapi Risiko Berbeda

Tanah mineral dan gambut memiliki komposisi serta proses pembentukan yang berbeda. Perbedaan mendasar ini membuat keduanya memberikan respons yang tidak sama ketika terpapar panas akibat kebakaran.

Tanah mineral terbentuk melalui proses pelapukan batuan dan perkembangan bahan tanah. Komponen utamanya terdiri atas partikel pasir, debu, dan liat. Ketiga fraksi mineral tersebut tidak menjadi bahan bakar pada suhu yang lazim ditemukan dalam kebakaran vegetasi.

Meski demikian, kondisi tersebut bukan berarti tanah mineral sepenuhnya terbebas dari kerusakan. Paparan panas dengan suhu sangat tinggi masih dapat mengubah sifat dan susunan mineral tertentu. Panas juga dapat memengaruhi bahan organik, organisme, serta struktur tanah yang berada di sekitar permukaan.

Sementara itu, gambut terbentuk melalui penumpukan sisa tumbuhan dalam lingkungan yang jenuh air. Kondisi tersebut memperlambat proses dekomposisi sehingga material organik terakumulasi selama ratusan hingga ribuan tahun. Di sejumlah lokasi, proses ini menghasilkan lapisan gambut dengan ketebalan lebih dari 10 meter.

Karena tersusun dari bahan organik, gambut memiliki karakteristik berbeda dari tanah mineral. Ketika kadar airnya terjaga, gambut relatif sulit terbakar. Namun, situasinya berubah ketika kemarau panjang menyebabkan lahan mengering atau ketika drainase membuat air keluar dari kawasan gambut secara berlebihan.

Dian menerangkan bahwa penurunan muka air tanah dapat membuat lapisan gambut kehilangan kelembapan. Kondisi tersebut meningkatkan kerentanannya terhadap kebakaran.

“Dalam keadaan basah, gambut relatif sulit terbakar. Namun, ketika kemarau panjang atau dibuatkan kanal saluran agar air berkurang (didrainase), akan menyebabkan muka air tanah turun, lapisan gambut mengering dan menjadi rentan terhadap kebakaran,” terangnya.

Perbedaan susunan material tersebut juga berpengaruh terhadap penjalaran panas. Pada tanah mineral, kebakaran umumnya menghanguskan vegetasi dan bahan organik di permukaan. Sebaliknya, pada gambut, material penyusun tanah itu sendiri dapat menjadi bahan bakar sehingga kerusakan tidak hanya terjadi pada bagian yang terlihat dari atas.

Suhu Kebakaran Bisa Mencapai Ratusan Derajat Celsius

Besarnya kerusakan tanah akibat karhutla berkaitan dengan suhu yang diterima, lama paparan panas, kadar air, serta kedalaman rambatan panas. Dengan kata lain, suhu tertinggi yang tercatat di permukaan tidak dapat digunakan sendirian untuk menggambarkan tingkat kerusakan seluruh lapisan tanah.

Suhu kebakaran hutan dan lahan dapat mencapai ratusan derajat Celsius. Kajian internasional terhadap berbagai kejadian kebakaran mencatat suhu maksimum di permukaan tanah mineral berada pada rentang 240–964 derajat Celsius, dengan rata-rata sekitar 544 derajat Celsius.

Namun, panas tersebut berkurang ketika bergerak ke lapisan yang lebih dalam. Pada kedalaman satu sentimeter, rata-rata suhu maksimum yang tercatat turun menjadi sekitar 129 derajat Celsius.

Kondisi berbeda ditemukan dalam penelitian eksperimental pada lahan gambut di Sumatera Selatan. Penelitian tersebut mencatat suhu pembaraan di bawah permukaan mencapai 400–600 derajat Celsius.

Perbedaan hasil pengukuran itu memperlihatkan pentingnya memahami lokasi dan kedalaman terjadinya pembakaran. Suhu permukaan yang tinggi tidak selalu berarti panas dengan intensitas serupa mencapai bagian tanah yang lebih dalam. Sebaliknya, pembaraan di dalam gambut dapat mempertahankan sumber panas di bawah permukaan, bahkan ketika api tidak lagi terlihat.

“Perbedaan ini menunjukkan bahwa kebakaran tanah mineral umumnya menghasilkan pemanasan yang relatif dangkal, sedangkan pada gambut, panas dapat bertahan lebih lama dan merambat melalui lapisan tanah yang kaya bahan organik. Oleh karena itu, tingkat kerusakan tanah tidak hanya ditentukan oleh tingginya suhu, tetapi juga oleh durasi pembakaran, kadar air, dan kedalaman penetrasi panas,” ujar Dian, yang juga merupakan pengurus dan anggota Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI).

Ketika kebakaran berlangsung, vegetasi seperti rumput, semak, pepohonan, dan serasah menjadi material yang terbakar. Serasah merupakan kumpulan daun, ranting, serta sisa tumbuhan yang menumpuk di permukaan tanah dan belum terurai secara sempurna.

Meskipun partikel mineral tidak ikut menjadi bahan bakar seperti material organik, panas dari kebakaran tetap dapat merambat ke dalam tanah. Peningkatan suhu berpotensi menyebabkan kematian sebagian organisme tanah, mengurangi karbon organik, serta mengubah kestabilan agregat atau kumpulan partikel tanah.

Perubahan tersebut dapat mengurangi kemampuan tanah mempertahankan air. Ketika struktur tanah terganggu dan bahan organiknya berkurang, lahan juga menjadi lebih rentan terhadap erosi, terutama setelah vegetasi penutup hilang.

Pada gambut, persoalannya lebih kompleks karena pembakaran dapat merambat secara perlahan ke arah samping maupun ke lapisan bawah permukaan. Proses yang disebut pembaraan atau smouldering tersebut bisa berlangsung tanpa nyala api yang terlihat jelas.

Karena sumber panas tersembunyi, kebakaran gambut dapat sulit dideteksi secara visual. Pemadaman yang hanya menyasar permukaan berisiko tidak menjangkau seluruh bagian yang masih membara. Kondisi ini menjadi salah satu alasan penanganan kebakaran perlu disesuaikan dengan karakteristik tanah di lokasi kejadian.

Abu Kebakaran Bisa Menaikkan pH Tanah, tetapi Bukan Berarti Tanah Makin Sehat

Salah satu perubahan yang dapat ditemukan setelah kebakaran adalah peningkatan pH dan kadar beberapa unsur hara. Pada kondisi tertentu, perubahan tersebut bisa menimbulkan kesan bahwa pembakaran memberikan keuntungan bagi kesuburan tanah.

Namun, peningkatan sejumlah indikator kimia tidak serta-merta menunjukkan kualitas tanah membaik secara keseluruhan. Kebakaran juga dapat menghilangkan bahan organik dan mengganggu aktivitas biologis yang berperan penting dalam menjaga fungsi tanah.

Penelitian Basuki Wasis, Bambang Hero Saharjo, dan Robi Deslia Waldi pada 2019 di tanah mineral Kabupaten Pelalawan, Riau, menemukan bahwa kebakaran meningkatkan pH serta kandungan kalsium dan magnesium tanah.

Perubahan tersebut berkaitan dengan abu yang terbentuk dari pembakaran vegetasi dan bahan organik. Abu mengandung unsur-unsur basa yang dapat mengurangi kemasaman tanah dan meningkatkan ketersediaan beberapa unsur hara dalam jangka pendek.

Akan tetapi, penelitian yang sama juga mencatat penurunan karbon organik, populasi mikroorganisme, fungi, dan respirasi tanah. Temuan tersebut menunjukkan bahwa dampak kebakaran tidak dapat dinilai hanya dengan melihat perubahan pH atau peningkatan unsur tertentu.

Karbon organik memiliki peran penting dalam menjaga kualitas tanah. Bahan organik membantu pembentukan agregat, mendukung penyimpanan air, menyediakan unsur hara, dan menjadi bagian dari lingkungan hidup organisme tanah.

Ketika bahan organik terbakar atau berkurang, berbagai fungsi tersebut dapat terganggu. Penurunan jumlah mikroorganisme dan fungi juga menunjukkan bahwa kebakaran dapat memengaruhi kehidupan biologis di dalam tanah, bukan hanya mengubah penampilannya.

Kerusakan menjadi lebih berisiko ketika api turut menghilangkan vegetasi penutup. Tanpa perlindungan dari tumbuhan dan serasah, permukaan tanah menerima benturan butir hujan secara langsung. Air hujan kemudian dapat memicu limpasan permukaan dan membawa partikel tanah yang mudah terlepas.

“Kerusakan menjadi semakin serius apabila kebakaran menghilangkan vegetasi penutup. Ketika musim hujan tiba, permukaan tanah yang terbuka lebih mudah mengalami pukulan butir hujan, limpasan permukaan, dan erosi,” ungkap Dian.

Dengan demikian, peningkatan pH atau kandungan kalsium dan magnesium setelah kebakaran perlu dipahami bersama perubahan lain yang terjadi. Hilangnya karbon organik dan menurunnya aktivitas organisme tanah dapat menimbulkan dampak yang berbeda dari manfaat kimia yang terlihat dalam jangka pendek.

Kebakaran Dapat Menghilangkan Ketebalan Gambut hingga 15 Sentimeter

Pada tanah gambut, dampak kebakaran tidak hanya berkaitan dengan perubahan tingkat kesuburan. Lapisan tanah yang terbentuk dari penumpukan bahan organik selama waktu yang sangat panjang juga dapat berkurang akibat pembakaran.

Penelitian Wasis, Saharjo, dan Putra pada 2019 terhadap lahan gambut terbakar di Riau menemukan pengurangan ketebalan gambut sekitar 10–15 sentimeter. Penelitian tersebut juga mengidentifikasi kerusakan organisme tanah dan penurunan sejumlah indikator aktivitas biologis.

Kehilangan ketebalan tersebut menggambarkan bahwa kebakaran dapat menghancurkan sebagian material penyusun tubuh tanah. Kerusakan semacam ini berbeda dari sekadar hilangnya tanaman atau serasah yang berada di atas permukaan.

Besarnya kehilangan material dapat digambarkan melalui perhitungan volume. Jika lapisan gambut setebal 10 sentimeter hilang pada lahan seluas satu hektare, volume gambut yang berkurang setara dengan sekitar 1.000 meter kubik.

Angka tersebut merupakan gambaran volume material tanah yang hilang, bukan ukuran langsung jumlah karbon yang dilepaskan ke atmosfer. Penghitungan emisi karbon memerlukan informasi tambahan mengenai bobot isi gambut, kadar karbon, dan proporsi material yang benar-benar terbakar.

Perbedaan tersebut penting karena volume gambut yang hilang tidak dapat langsung dikonversi menjadi jumlah emisi tanpa memperhitungkan karakteristik materialnya. Oleh sebab itu, penilaian dampak kebakaran terhadap cadangan karbon membutuhkan data yang sesuai dengan kondisi lahan.

Penelitian lain oleh Sulaeman dan rekan-rekannya pada 2021 di Sumatera Selatan menunjukkan sejumlah perubahan pada sifat tanah gambut setelah kebakaran. Dibandingkan kondisi pembanding, kadar abu meningkat sebesar 57 persen dan pH naik sekitar 6 persen secara relatif.

Di sisi lain, penelitian itu mencatat penurunan nitrogen total sekitar 6 persen, kapasitas tukar kation sebesar 8 persen, karbon organik sebesar 2 persen, serta kemampuan menahan air sekitar 1–12 persen.

Hasil tersebut memperlihatkan bahwa perubahan sifat gambut setelah kebakaran berlangsung pada beberapa aspek sekaligus. Peningkatan kadar abu dan pH terjadi bersamaan dengan penurunan sejumlah komponen yang mendukung fungsi tanah.

Nitrogen merupakan salah satu unsur yang dibutuhkan tanaman. Sementara itu, karbon organik berperan dalam mempertahankan karakteristik tanah, mendukung organisme, serta membantu penyimpanan air dan unsur hara.

Kapasitas tukar kation atau KTK adalah kemampuan tanah mempertahankan dan menyediakan unsur hara yang bermuatan positif bagi tanaman. Apabila kapasitas tersebut menurun, kemampuan tanah menyimpan unsur hara juga dapat terpengaruh.

Penurunan kemampuan menahan air turut menjadi perhatian karena kondisi air merupakan bagian penting dari karakteristik gambut. Perubahan ini menunjukkan bahwa kerusakan akibat kebakaran tidak hanya berkaitan dengan unsur hara, tetapi juga fungsi tanah dalam mempertahankan kelembapan.

Temuan di Sumatera Selatan tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan beberapa sifat kimia tidak meniadakan risiko penurunan fungsi lainnya. Tanah yang menunjukkan kenaikan pH setelah terbakar tetap dapat mengalami kehilangan karbon organik, nitrogen, kemampuan menyimpan unsur hara, dan kapasitas menahan air.

Citra Satelit Sentinel-1A Mengungkap Penurunan Permukaan Gambut

Perubahan pada lahan gambut tidak selalu dapat diketahui hanya melalui pengamatan langsung di permukaan. Teknologi penginderaan jauh memungkinkan peneliti memantau perubahan elevasi lahan dalam cakupan wilayah yang lebih luas.

Penelitian Khakim dan rekan-rekannya pada 2020 menggunakan citra radar satelit Sentinel-1A untuk menganalisis perubahan permukaan gambut di Sumatera Selatan setelah kebakaran besar pada 2015.

Hasil penelitian menunjukkan laju penurunan permukaan gambut setelah kebakaran meningkat sekitar 6,4 kali dibandingkan periode sebelumnya.

Penurunan permukaan tersebut dikenal sebagai subsidence. Fenomena ini menggambarkan perubahan elevasi lahan yang dapat berkaitan dengan hilangnya material gambut, pemadatan, dan proses oksidasi.

Namun, perubahan permukaan tidak selalu disebabkan oleh pembakaran secara langsung. Drainase dan perubahan kondisi air tanah juga dapat memengaruhi besarnya penurunan elevasi.

Karena itu, penurunan permukaan gambut perlu dianalisis dengan mempertimbangkan berbagai proses yang terjadi pada lahan. Data perubahan elevasi memberikan informasi penting, tetapi penyebab dan besarnya kontribusi setiap proses tidak dapat ditentukan hanya dari perubahan permukaan.

Penggunaan citra radar memiliki kelebihan karena pengamatan tetap dapat dilakukan dalam kondisi berawan. Karakteristik tersebut memungkinkan pemantauan berkala terhadap perubahan permukaan lahan, termasuk pada kawasan gambut yang luas.

Teknologi penginderaan jauh dapat membantu menyediakan gambaran perubahan lahan dari waktu ke waktu. Data tersebut juga memberikan pendekatan untuk mengamati kondisi wilayah yang sulit dipantau hanya dengan pemeriksaan langsung di lapangan.

Dalam konteks kerusakan akibat karhutla, pengamatan perubahan permukaan menjadi salah satu cara untuk memahami dampak yang tidak selalu terlihat setelah api padam. Informasi mengenai penurunan elevasi dapat melengkapi penelitian sifat kimia, fisik, dan biologis tanah dalam menilai perubahan yang terjadi setelah kebakaran.

Pemadaman Gambut Tidak Cukup Hanya Membasahi Permukaan

Perbedaan karakteristik tanah mineral dan gambut juga menentukan pendekatan yang diperlukan untuk memadamkan api. Metode yang efektif untuk menangani kebakaran vegetasi di permukaan belum tentu cukup untuk menghentikan pembaraan yang berlangsung di bawah tanah.

Pada tanah mineral, pemadaman umumnya diarahkan pada vegetasi dan serasah yang terbakar, pembatasan penjalaran api, serta pengurangan bahan bakar di permukaan. Meski demikian, pemeriksaan tetap diperlukan untuk memastikan tidak ada bara yang tertinggal pada kayu, akar, atau lapisan humus yang tebal.

Bara yang tersisa dapat menjadi sumber panas meskipun api utama telah padam. Karena itu, kondisi material di sekitar lokasi kebakaran tetap perlu diperhatikan dalam proses penanganan.

Sementara itu, pemadaman di lahan gambut menghadapi tantangan karena api dapat merambat melalui lapisan organik di bawah permukaan. Air yang hanya membasahi bagian atas lahan belum tentu mencapai titik pembaraan yang menjadi sumber panas.

Penelitian Mulyasih dan rekan-rekannya pada 2022 membandingkan metode pemadaman gambut melalui penyemprotan air dari permukaan dengan teknik injeksi air langsung menuju titik panas di bawah permukaan.

Eksperimen laboratorium menggunakan gambut dari Jambi menunjukkan bahwa kebutuhan air melalui metode injeksi mencapai sekitar 3,81 liter untuk setiap kilogram gambut. Waktu pemadaman dengan teknik tersebut tercatat sekitar separuh dibandingkan metode penyemprotan permukaan.

Meski demikian, angka tersebut merupakan hasil percobaan laboratorium dan tidak dapat langsung dijadikan dosis baku untuk pemadaman kebakaran gambut di lapangan.

Kebutuhan air dalam situasi nyata dapat berbeda, bergantung pada kedalaman bara, kadar air gambut, karakteristik material, dan luas kawasan yang terbakar. Faktor-faktor tersebut menentukan seberapa banyak air yang diperlukan untuk menjangkau sumber panas dan menghentikan pembaraan.

“Temuan ini menegaskan pentingnya memastikan air mencapai bagian gambut yang membara, bukan sekadar membasahi permukaannya,” kata Dian.

Perbedaan cara kerja kedua metode tersebut menunjukkan pentingnya mengetahui posisi sumber panas sebelum menentukan pendekatan pemadaman. Jika pembaraan berlangsung di bawah permukaan, penanganan perlu menjangkau lapisan yang terbakar agar sumber panas tidak tertinggal.

Pada gambut, tantangan tersebut diperbesar oleh karakteristik material yang kaya bahan organik. Selama lapisan itu masih kering dan terdapat sumber panas, pembaraan dapat berlangsung tanpa nyala api yang mudah dikenali. Karena itu, keberhasilan pemadaman tidak cukup ditentukan oleh kondisi permukaan yang tampak basah atau tidak lagi mengeluarkan asap.

Pemulihan Tanah Mineral dan Gambut Memerlukan Penanganan Berbeda

Setelah kebakaran dipadamkan, perhatian berikutnya adalah memulihkan fungsi tanah yang terdampak. Upaya pemulihan tidak hanya berhubungan dengan tumbuhnya kembali vegetasi, tetapi juga dengan perlindungan struktur tanah, pemulihan bahan organik, dan pengendalian perubahan kondisi air.

Pada tanah mineral, pemulihan dapat dilakukan melalui penanaman vegetasi penutup, penambahan bahan organik yang sesuai, serta pengendalian erosi. Langkah-langkah tersebut diarahkan untuk memperbaiki kondisi tanah sekaligus melindungi permukaannya dari kerusakan lanjutan.

Vegetasi penutup berperan mengurangi paparan langsung permukaan tanah terhadap hujan. Sementara itu, penambahan bahan organik yang sesuai dapat mendukung perbaikan kondisi tanah yang mengalami kehilangan material organik akibat kebakaran.

Namun, kebutuhan pemulihan perlu mempertimbangkan tingkat kerusakan yang terjadi. Perubahan sifat kimia, fisik, dan biologis tanah dapat berbeda pada setiap lokasi sehingga kondisi tanah menjadi bagian penting dalam menentukan upaya rehabilitasi.

Pada lahan gambut, pengelolaan air menjadi perhatian utama. Pemulihan memerlukan pembasahan kembali atau rewetting, termasuk pengendalian saluran drainase yang menyebabkan pengeringan berlebihan.

“Pada lahan gambut, pemulihan memerlukan pengelolaan tata air melalui pembasahan kembali atau rewetting, termasuk pengendalian saluran drainase yang menyebabkan pengeringan berlebihan,” ujar Dian.

Pengelolaan tata air berkaitan dengan kondisi yang membuat gambut rentan terbakar. Ketika air berkurang dan lapisan gambut mengering, bahan organik yang menyusun tanah menjadi lebih mudah terbakar. Karena itu, pemulihan kondisi air merupakan bagian penting dalam penanganan lahan gambut pascakebakaran.

Meski sejumlah sifat tanah dapat mengalami perbaikan, proses tersebut tidak berarti seluruh kerusakan bisa dipulihkan dalam waktu singkat. Terutama pada gambut, kembalinya sebagian indikator kimia mendekati kondisi awal tidak sama dengan terbentuknya kembali lapisan tanah yang telah hilang.

Penelitian Hartono dan rekan-rekannya pada 2022 di Kubu Raya, Kalimantan Barat, menunjukkan sejumlah sifat kimia gambut dua tahun setelah kebakaran tidak berbeda nyata dibandingkan dengan gambut yang tidak terbakar.

Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa sebagian indikator kualitas kimia tanah dapat kembali mendekati kondisi pembanding setelah periode tertentu. Namun, hasil itu tidak menunjukkan bahwa semua aspek tanah telah pulih, terlebih jika kebakaran menyebabkan berkurangnya ketebalan lapisan gambut.

Pemulihan sifat kimia perlu dibedakan dari pemulihan material tanah. Sebagian karakteristik dapat berubah kembali seiring waktu, sedangkan pembentukan lapisan gambut berlangsung melalui akumulasi sisa tumbuhan dalam kondisi yang mendukung proses tersebut selama periode panjang.

Gambut Terbentuk Ribuan Tahun, tetapi Dapat Rusak dalam Hitungan Minggu

Gambut terbentuk melalui proses alam yang berlangsung sangat lambat. Penumpukan sisa tumbuhan dalam kondisi jenuh air memungkinkan bahan organik terakumulasi selama ratusan hingga ribuan tahun. Pada lokasi tertentu, proses tersebut menghasilkan lapisan dengan ketebalan lebih dari 10 meter.

Sebaliknya, kebakaran dapat menghancurkan sebagian lapisan yang terbentuk dalam rentang waktu panjang tersebut. Kerusakan dapat berlangsung selama kebakaran yang terjadi dalam hitungan minggu hingga beberapa bulan.

Perbedaan rentang waktu itu menjadi salah satu karakteristik penting dalam memahami kerentanan ekosistem gambut. Lapisan tanah yang hilang akibat pembakaran tidak dapat dibentuk kembali hanya dalam hitungan tahun. Proses pembentukan gambut kembali bahkan dapat memerlukan waktu ratusan hingga ribuan tahun.

Kerusakan yang terjadi juga tidak terbatas pada vegetasi di atas tanah. Ketika gambut ikut terbakar, sebagian material penyusun tubuh tanah dapat hilang bersama cadangan karbon yang tersimpan di dalamnya.

Karena itu, pemulihan vegetasi di permukaan tidak otomatis menunjukkan bahwa kondisi lahan telah kembali seperti semula. Tumbuhan dapat kembali tumbuh, tetapi lapisan gambut yang terbakar membutuhkan proses pembentukan yang jauh lebih lama.

Kondisi tersebut membuat penilaian pascakebakaran perlu memperhatikan beberapa aspek sekaligus. Perubahan tutupan vegetasi, ketebalan lapisan gambut, kondisi air tanah, serta sifat kimia dan biologis tanah memberikan informasi yang berbeda mengenai dampak kebakaran.

Penelitian tentang perubahan sifat kimia gambut dua tahun setelah kebakaran di Kubu Raya, misalnya, menunjukkan bahwa sebagian indikator dapat mendekati kondisi lahan yang tidak terbakar. Namun, hasil tersebut tidak menghapus kenyataan bahwa material gambut yang hilang tidak dapat terbentuk kembali dalam waktu singkat.

Dengan demikian, terdapat perbedaan antara membaiknya sejumlah sifat tanah dan pulihnya seluruh fungsi ekosistem. Perubahan yang terlihat melalui pengukuran kimia perlu dibaca bersama kondisi fisik dan hidrologis, terutama pada lahan yang mengalami kehilangan ketebalan gambut.

Kerusakan Tanah Pascakarhutla Berpengaruh terhadap Pertanian

Dampak karhutla terhadap tanah juga berkaitan dengan keberlanjutan kegiatan pertanian. Perubahan kondisi tanah dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman, kemampuan lahan menyediakan air, serta risiko kerusakan lanjutan ketika hujan turun.

Pada tanah mineral, berkurangnya bahan organik dan terganggunya struktur tanah dapat menghambat pertumbuhan akar. Penurunan kemampuan menyimpan air juga dapat memengaruhi kondisi yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh.

Hilangnya vegetasi penutup menambah risiko erosi. Ketika permukaan tanah terbuka, air hujan dapat menyebabkan partikel tanah terlepas dan terbawa aliran permukaan. Jika berlangsung pada lahan pertanian, perubahan tersebut dapat memengaruhi kondisi lahan yang digunakan untuk produksi tanaman.

Pada gambut, persoalannya mencakup berkurangnya ketebalan tanah, penurunan permukaan, dan perubahan tata air. Kondisi tersebut dapat mengganggu produktivitas lahan sekaligus meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran berikutnya apabila gambut kembali mengering.

Dampak pada tanah dapat berimbas terhadap hasil tanaman dan pendapatan masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada sektor pertanian. Dengan demikian, kerusakan pascakarhutla tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan lahan mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.

Karakteristik tanah yang berbeda membuat luas kawasan terbakar saja tidak cukup untuk menggambarkan tingkat kerusakan. Satu hektare tanah mineral yang mengalami kebakaran permukaan memiliki konsekuensi berbeda dari satu hektare lahan gambut yang kehilangan sebagian ketebalan lapisannya.

Perbedaan tersebut perlu diperhatikan ketika menilai kondisi lahan setelah kebakaran. Luas wilayah terdampak memberikan gambaran sebaran kejadian, sedangkan perubahan sifat tanah menjelaskan jenis kerusakan yang berlangsung di lokasi tersebut.

“Keberhasilan penanganan kebakaran perlu dinilai bukan hanya dari padamnya api dan hilangnya asap, tetapi juga dari sejauh mana sifat fisik, kimia, biologi, dan fungsi hidrologis tanah dapat dipertahankan atau dipulihkan,” jelas Dian.

Perbedaan respons tanah mineral dan gambut menjadi dasar ilmiah untuk menentukan metode pemadaman, rehabilitasi lahan, dan pencegahan kebakaran berulang. Penanganan yang mempertimbangkan kondisi tanah diperlukan karena dampak karhutla dapat menjangkau lebih jauh daripada kerusakan vegetasi yang terlihat di permukaan.

“Alam membutuhkan ribuan tahun untuk membentuk gambut, tetapi kebakaran dapat menghancurkan sebagian tubuh tanah tersebut hanya dalam hitungan minggu,” kata Dian. (*)

Baca Juga

Siswa sekolah di Padang menggunakan masker saat mengikuti proses belajar mengajar di tengah kabut asap dan kualitas udara buruk.
IDAI Beberkan Cara Melindungi Anak dari Asap Karhutla, Orang Tua Wajib Tahu
Pemprov Sumbar Minta Temuan Lahan Bekas Kebakaran Hutan di Dharmasraya Ditanami Sawit Diusut
Pemprov Sumbar Minta Temuan Lahan Bekas Kebakaran Hutan di Dharmasraya Ditanami Sawit Diusut
Kemenhut Sanksi 32 Perusahaan terkait Karhutla, Luas Area Terbakar Capai 12.926 Hektare
Kemenhut Sanksi 32 Perusahaan terkait Karhutla, Luas Area Terbakar Capai 12.926 Hektare
Karhutla Picu Kabut Asap di Padang, Aktivitas Warga Berlangsung di Tengah Polusi Udara
Karhutla Picu Kabut Asap di Padang, Aktivitas Warga Berlangsung di Tengah Polusi Udara
Update Karhutla Sumatera, Hotspot Sumsel Turun dari 132 Jadi 9 Titik
Update Karhutla Sumatera, Hotspot Sumsel Turun dari 132 Jadi 9 Titik
Kabut Asap Memburuk, PJJ di Padang Diperpanjang hingga 21 Oktober
Kabut Asap Memburuk, PJJ di Padang Diperpanjang hingga 21 Oktober