Tradisi Kuliner Minang Buka Peluang Riset Virus Cabai sebagai Indikator Pencemaran

Sumbardaily.com – Cabai yang menjadi bagian penting dalam kuliner masyarakat Sumatera Barat (Sumbar) ternyata memiliki keterkaitan dengan penelitian kualitas air. Tanaman yang digunakan dalam berbagai masakan Minangkabau itu menjadi inang Pepper mild mottle virus (PMMoV), virus tanaman yang juga dapat ditemukan dalam jumlah tinggi pada tinja manusia dan limbah domestik.

Karakteristik tersebut membuka peluang pemanfaatan PMMoV sebagai indikator molekuler untuk membantu mendeteksi pencemaran fekal di sungai, danau, saluran drainase, serta sumber air lainnya. Pendekatan ini dinilai menarik untuk dikaji karena keberadaan virus dapat membantu memberikan gambaran mengenai pengaruh limbah domestik terhadap kualitas perairan.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Unand), M. Fadli, Ph.D., menjelaskan PMMoV merupakan virus yang menginfeksi tanaman cabai. Virus tersebut dapat masuk ke saluran pencernaan manusia melalui konsumsi cabai atau produk pangan yang mengandung PMMoV, kemudian sebagian materi virus dikeluarkan bersama tinja.

“Temuan ini membuka peluang menarik untuk memanfaatkan PMMoV sebagai indikator molekuler dalam pemantauan pencemaran fekal di sungai, danau, saluran drainase, dan sumber air lainnya,” ujarnya, dilansir dari Kepakaran Unand, Selasa (20/10/2026).

Menurut Fadli, karakteristik PMMoV memberikan dasar untuk mengembangkan penelitian mengenai pencemaran perairan. Namun, potensi tersebut tetap perlu diuji melalui pengambilan sampel dan pengukuran langsung untuk mengetahui konsentrasi virus di lingkungan.

Mengenal PMMoV, Virus yang Menginfeksi Tanaman Cabai

Pepper mild mottle virus atau PMMoV merupakan virus tanaman dari kelompok Tobamovirus. Dalam nomenklatur taksonomi yang disebutkan Fadli, nama barunya adalah Tobamovirus capsici menurut ICTV. Virus ini diketahui menginfeksi tanaman cabai dari genus Capsicum.

PMMoV memiliki materi genetik berupa RNA untai tunggal dengan polaritas positif atau positive-sense single-stranded RNA (+ssRNA). Partikelnya berbentuk batang dan dilindungi oleh kapsid protein yang kuat.

Pada tanaman inangnya, infeksi PMMoV dapat menimbulkan perubahan warna atau pola belang pada daun dan buah cabai. Meski demikian, gejala yang muncul tidak selalu sama pada setiap tanaman. Perbedaannya dapat dipengaruhi varietas, kondisi lingkungan, serta ketahanan dan imunitas tanaman yang terinfeksi.

“Pada inangnya, PMMoV dapat menimbulkan gejala perubahan warna atau pola belang di daun dan buah, meskipun gejalanya dapat bervariasi bergantung pada varietas tanaman, kondisi lingkungan serta ketahanan dan imunitas inang,” katanya.

Hal yang membuat PMMoV menarik bagi penelitian kualitas air bukan hanya kemampuannya menginfeksi tanaman cabai. Karakteristik fisik partikel virus tersebut juga berperan dalam menjelaskan mengapa materi genetiknya dapat ditemukan setelah melalui berbagai proses di lingkungan.

PMMoV tidak memiliki selubung lipid atau envelope. Sebaliknya, materi genetiknya dilindungi oleh kapsid protein. Struktur ini berkontribusi terhadap kestabilan partikel virus dalam berbagai kondisi lingkungan.

Penelitian Rosario dan kolega yang diterbitkan pada 2009 menunjukkan PMMoV ditemukan secara luas dan dalam jumlah melimpah pada air limbah domestik. Penelitian tersebut juga menjelaskan virus ini dapat mempertahankan kemampuan menginfeksi tanaman setelah melewati saluran pencernaan manusia.

Temuan itu menunjukkan proses konsumsi pangan tidak selalu menghancurkan seluruh partikel PMMoV. Sebagian virus atau materi genetiknya dapat tetap ditemukan setelah makanan melewati sistem pencernaan, sehingga berpotensi terbawa ke dalam limbah domestik.

Karakteristik tersebut menjadi salah satu alasan PMMoV dipertimbangkan sebagai kandidat indikator molekuler untuk memantau pencemaran fekal. Keberadaannya di dalam air dapat diteliti untuk mengetahui keterkaitan antara limbah domestik dan kondisi mikrobiologis suatu perairan.

Mengapa Virus Tanaman Cabai Bisa Ditemukan dalam Tinja Manusia?

PMMoV merupakan virus tanaman, bukan virus yang secara khusus menginfeksi manusia. Namun, virus ini dapat ditemukan dalam tinja manusia karena masuk ke tubuh melalui makanan yang dikonsumsi.

Ketika seseorang mengonsumsi cabai atau produk olahan yang mengandung PMMoV, sebagian materi virus dapat melewati saluran pencernaan. Materi tersebut kemudian dapat dikeluarkan bersama tinja dan masuk ke saluran pembuangan sebagai bagian dari limbah domestik.

“Karena PMMoV dapat ditemukan dalam jumlah tinggi pada produk cabai tertentu, virus ini juga muncul dalam konsentrasi tinggi pada limbah domestik,” sebut Fadli.

Gambaran mengenai kelimpahan PMMoV dalam tinja manusia dijelaskan dalam ulasan ilmiah yang diterbitkan Symonds, Rosario, dan Breitbart pada 2019. Dalam kajian tersebut, PMMoV disebut sebagai salah satu virus RNA yang paling melimpah dalam sejumlah penelitian virom tinja manusia.

Virom merupakan kumpulan virus yang terdeteksi dalam suatu lingkungan atau sampel biologis. Dalam konteks penelitian tersebut, pengamatan dilakukan terhadap virus yang ditemukan dalam tinja manusia.

Para penulis melaporkan konsentrasi PMMoV dapat mencapai sekitar 10⁹ salinan gen per gram tinja pada individu sehat. Sementara itu, produk saus cabai tertentu dilaporkan mengandung hingga 10⁸ salinan gen per mililiter.

Angka tersebut menggambarkan tingginya materi genetik PMMoV yang dapat ditemukan pada sampel tertentu. Meski demikian, jumlah salinan gen tidak secara otomatis menunjukkan jumlah partikel virus yang masih utuh atau memiliki kemampuan menginfeksi.

Perbedaan ini penting ketika PMMoV digunakan untuk penelitian kualitas air. Pemeriksaan molekuler dapat mendeteksi materi genetik virus, tetapi penafsiran hasilnya perlu memperhatikan apa yang sebenarnya diukur oleh metode pemeriksaan tersebut.

Ketika limbah domestik mengalir menuju sungai, danau, saluran drainase, atau badan air lainnya, PMMoV berpotensi ikut terbawa bersama material dari saluran pembuangan. Karena itu, keberadaan dan konsentrasinya di perairan dapat diteliti sebagai salah satu petunjuk mengenai pengaruh limbah domestik.

Meski demikian, keberadaan PMMoV di dalam tinja manusia tidak berarti virus tersebut secara langsung menunjukkan adanya penyakit pada manusia. Dalam penelitian yang diusulkan, perhatian utamanya adalah pemanfaatan materi genetik virus sebagai indikator molekuler pencemaran fekal.

Tradisi Kuliner Minangkabau Membuka Peluang Penelitian di Sumbar

Sumatera Barat menjadi salah satu wilayah yang menarik untuk menguji potensi PMMoV sebagai indikator pencemaran air. Cabai memiliki peran penting dalam berbagai hidangan masyarakat setempat, mulai dari makanan rumahan hingga masakan yang disajikan di rumah makan Padang.

Bahan pangan tersebut digunakan dalam beragam olahan, seperti rendang, gulai, dendeng balado, sambal lado, serta berbagai masakan khas Minangkabau lainnya. Cabai dapat digunakan dalam bentuk segar, digiling, dijadikan sambal, maupun diolah bersama bahan makanan lain.

Keterkaitan antara konsumsi cabai dan keberadaan PMMoV memberikan dasar untuk mengajukan penelitian di wilayah tersebut. Namun, kebiasaan kuliner masyarakat tidak dapat langsung dijadikan ukuran konsentrasi virus di sungai atau sumber air lainnya.

Fadli menegaskan hubungan antara konsumsi cabai dan keberadaan PMMoV di perairan perlu dibuktikan melalui pengukuran langsung. Banyaknya konsumsi cabai tidak otomatis berarti seluruh badan air di Sumbar memiliki konsentrasi PMMoV yang tinggi.

“Tingginya konsumsi cabai tidak langsung diterjemahkan menjadi tingginya konsentrasi PMMoV di semua perairan. Hubungan tersebut perlu dibuktikan melalui pengambilan sampel dan pengukuran langsung,” ungkapnya.

Penelitian awal dapat dilakukan dengan membandingkan keberadaan dan konsentrasi PMMoV pada beberapa jenis perairan yang memiliki karakteristik berbeda. Lokasi yang dapat diteliti antara lain sungai yang menerima buangan domestik, saluran drainase perkotaan, badan air dengan tekanan aktivitas manusia yang relatif rendah, serta titik masuk dan keluar instalasi pengolahan air limbah.

Perbandingan antarlokasi tersebut dapat membantu peneliti melihat pola keberadaan virus pada kondisi lingkungan yang berbeda. Pengukuran juga diperlukan untuk mengetahui apakah konsentrasi PMMoV berubah di antara wilayah dengan pengaruh limbah domestik yang berbeda.

Selain itu, pemeriksaan pada titik masuk dan keluar instalasi pengolahan air limbah dapat memberikan informasi mengenai perubahan konsentrasi PMMoV selama proses pengolahan. Data tersebut dapat menjadi bagian dari penelitian untuk menilai apakah indikator molekuler ini berguna dalam pemantauan kualitas air limbah.

“Hasilnya dapat membantu menjawab pertanyaan mendasar apakah PMMoV memang banyak ditemukan di perairan Sumbar, bagaimana konsentrasinya berubah antarwilayah, dan seberapa baik keberadaannya mencerminkan pengaruh limbah domestik?” tanyanya.

Dengan penelitian lapangan, potensi PMMoV di Sumbar dapat dinilai berdasarkan hasil pengukuran, bukan hanya berdasarkan dugaan yang berkaitan dengan pola konsumsi cabai. Hasil penelitian juga dapat membantu menentukan apakah virus tersebut cukup konsisten untuk digunakan sebagai pelengkap pemantauan pencemaran perairan di wilayah setempat.

PMMoV dan E. coli, Apa Perbedaannya sebagai Indikator Pencemaran?

Selama ini, Escherichia coli atau E. coli banyak digunakan sebagai indikator pencemaran fekal dan memiliki peran penting dalam perlindungan kesehatan masyarakat. Bakteri tersebut membantu memberikan informasi mengenai kontaminasi yang berkaitan dengan kotoran.

Namun, tidak ada satu indikator yang dapat menjawab seluruh pertanyaan mengenai kualitas mikrobiologis air. Bakteri dan virus memiliki karakteristik biologis yang berbeda, termasuk dalam hal ketahanan terhadap kondisi lingkungan dan respons terhadap proses pengolahan air.

Fadli menjelaskan keberadaan E. coli dapat menunjukkan kontaminasi fekal, tetapi jumlah bakteri tersebut tidak selalu sejalan dengan keberadaan virus enterik manusia. Oleh karena itu, pemeriksaan satu indikator belum tentu memberikan gambaran lengkap mengenai seluruh komponen mikrobiologis yang terdapat dalam air.

“Keberadaan E. coli dapat menunjukkan kontaminasi fekal, tetapi jumlahnya tidak selalu sejalan dengan keberadaan virus enterik manusia. Bakteri dan virus memiliki karakteristik biologis yang berbeda, termasuk ketahanan terhadap kondisi lingkungan dan proses pengolahan air,” jelasnya.

PMMoV menawarkan pendekatan alternatif karena dapat ditemukan dalam konsentrasi tinggi pada limbah domestik dan memiliki karakteristik partikel yang relatif stabil di lingkungan. Keberadaannya juga tidak bergantung secara langsung pada tingkat infeksi virus tertentu pada manusia.

Karakteristik tersebut membuat PMMoV berpotensi melengkapi informasi yang diperoleh melalui pemeriksaan E. coli. Jika keduanya diperiksa secara bersamaan, peneliti dapat membandingkan pola hasil pengukuran dan menilai apakah PMMoV memberikan informasi tambahan mengenai pencemaran fekal.

Pemeriksaan PMMoV dapat dilakukan menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR) dan quantitative PCR (qPCR) melalui pendekatan yang melibatkan transkripsi balik untuk target RNA. Metode tersebut memungkinkan materi genetik virus dideteksi secara spesifik, sedangkan pendekatan kuantitatif dapat digunakan untuk memperkirakan jumlah salinan genetik dalam sampel.

Hasil pemeriksaan dapat membantu peneliti memantau perubahan konsentrasi PMMoV di antara lokasi atau mengevaluasi perubahan selama pengolahan air limbah. Namun, manfaatnya perlu dibuktikan melalui validasi metode dan perbandingan dengan indikator lain yang relevan.

Salah satu hal yang juga perlu diperhatikan adalah kemungkinan PMMoV ditemukan dalam feses hewan yang mengonsumsi tanaman terinfeksi. Dengan demikian, keberadaan virus tersebut tidak selalu dapat dianggap berasal dari manusia saja.

Faktor itu perlu diperhitungkan dalam penelitian agar hasil pemeriksaan tidak ditafsirkan secara berlebihan. PMMoV merupakan kandidat indikator molekuler pencemaran fekal, tetapi sumber materi genetik yang terdeteksi tetap perlu dipahami berdasarkan kondisi lingkungan dan karakteristik sampel.

Bagaimana PMMoV Dideteksi dari Sampel Air?

Deteksi PMMoV pada air dilakukan menggunakan pendekatan biologi molekuler. Prosesnya berbeda dari pemeriksaan bakteri yang menggunakan metode kultur atau pemeriksaan DNA secara langsung karena PMMoV memiliki materi genetik berupa RNA.

Secara umum, pemeriksaan dapat dimulai dari pengambilan sampel air. Sampel kemudian dapat melalui tahap pemekatan atau pemrosesan apabila diperlukan, sebelum materi genetik diekstraksi untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Setelah RNA diperoleh, proses berikutnya adalah sintesis DNA komplementer atau complementary DNA (cDNA). Tahap ini diperlukan karena materi genetik PMMoV berupa RNA, sedangkan proses amplifikasi dalam metode yang digunakan memanfaatkan DNA sebagai cetakan.

Berikutnya, materi genetik target diamplifikasi menggunakan primer spesifik yang dirancang untuk mengenali bagian tertentu dari materi genetik PMMoV. Hasil pemeriksaan kemudian dianalisis untuk menentukan apakah target genetik virus terdeteksi dalam sampel.

Secara garis besar, rangkaian pemeriksaan meliputi pengambilan sampel air, pemekatan atau pemrosesan sampel jika diperlukan, ekstraksi RNA, sintesis cDNA, amplifikasi dengan primer spesifik, serta interpretasi hasil.

Alur tersebut dapat digunakan dalam pemeriksaan menggunakan PCR konvensional maupun reverse-transcription quantitative PCR (RT-qPCR). Keduanya memiliki prinsip dasar untuk mendeteksi target genetik, tetapi memberikan jenis informasi yang berbeda.

PCR konvensional pada prinsipnya digunakan untuk mengetahui keberadaan target genetik. Hasilnya dapat membantu menjawab apakah materi genetik PMMoV terdeteksi pada sampel yang diperiksa.

Sementara itu, RT-qPCR memungkinkan peneliti memperkirakan jumlah salinan genetik melalui pemantauan sinyal fluoresensi selama proses amplifikasi. Pendekatan ini memberikan informasi kuantitatif yang dapat digunakan untuk membandingkan konsentrasi PMMoV pada sampel berbeda.

Meski menggunakan pendekatan molekuler, keandalan hasil tetap bergantung pada kualitas sampel dan tahapan pemeriksaan. Karena itu, metode yang digunakan perlu memperhitungkan kemungkinan gangguan selama ekstraksi, pengaruh zat penghambat reaksi, serta variasi karakteristik sampel air.

RT-qPCR untuk Mengukur Konsentrasi PMMoV dalam Air

RT-qPCR menjadi salah satu metode yang dapat dipertimbangkan ketika penelitian membutuhkan perkiraan jumlah materi genetik PMMoV dalam sampel air. Berbeda dari PCR konvensional yang terutama digunakan untuk mendeteksi keberadaan target, RT-qPCR memantau proses amplifikasi melalui sinyal fluoresensi.

Salah satu parameter yang digunakan dalam pemeriksaan tersebut adalah cycle threshold (Ct). Nilai Ct menunjukkan siklus ketika sinyal amplifikasi melewati ambang yang ditentukan dalam pengujian.

Dalam kondisi pemeriksaan yang tervalidasi, nilai Ct yang lebih rendah umumnya menunjukkan jumlah target genetik awal yang lebih tinggi. Sebaliknya, nilai Ct yang lebih tinggi dapat menunjukkan jumlah target awal yang lebih rendah.

Namun, hubungan tersebut perlu ditafsirkan dengan memperhatikan kondisi pengujian. Perbedaan nilai Ct tidak dapat langsung diterjemahkan menjadi perbedaan konsentrasi yang pasti apabila metode belum tervalidasi atau faktor teknis lainnya belum dikendalikan.

Estimasi kuantitatif membutuhkan kurva standar atau metode kuantifikasi lain yang telah divalidasi. Peneliti juga perlu memperhitungkan efisiensi ekstraksi, kemungkinan inhibisi reaksi, dan variasi sampel agar hasil pengukuran dapat dibandingkan secara tepat.

Setelah proses kuantifikasi dilakukan, hasil dapat dinyatakan sebagai jumlah salinan gen per liter air. Satuan tersebut memungkinkan perbandingan konsentrasi PMMoV antarlokasi atau pengamatan perubahan konsentrasi sebelum dan sesudah pengolahan air limbah.

Data kuantitatif juga dapat membantu penelitian untuk melihat pola perubahan konsentrasi dari waktu ke waktu. Meski demikian, perubahan jumlah materi genetik yang terukur tetap perlu dibaca sesuai tujuan pemeriksaan dan keterbatasan metode yang digunakan.

“Namun, RT-qPCR mendeteksi materi genetik dan tidak secara langsung memastikan bahwa virus masih utuh atau infektif, sehingga hasilnya perlu ditafsirkan sebagai indikator molekuler pencemaran, bukan ukuran langsung jumlah virus hidup atau tingkat risiko penyakit,” katanya.

Penjelasan tersebut menegaskan bahwa deteksi materi genetik berbeda dari pembuktian keberadaan virus yang masih mampu menginfeksi. Hasil RT-qPCR dapat digunakan untuk mengamati keberadaan dan perkiraan jumlah target genetik, tetapi tidak secara langsung menetapkan jumlah partikel virus yang masih infektif.

Karena itu, pemanfaatan PMMoV dalam pemantauan pencemaran air perlu disesuaikan dengan tujuan analisis. Apabila tujuannya menilai keberadaan materi genetik sebagai indikator molekuler, hasil RT-qPCR dapat memberikan informasi yang relevan setelah metode dan prosedur pengukurannya tervalidasi.

Pengembangan Metode PMMoV di Indonesia Perlu Validasi Lokal

Pengembangan pemeriksaan PMMoV di Indonesia dapat dilakukan secara bertahap, dimulai dari penelitian untuk mengetahui keberadaan virus pada sampel air dari lokasi berbeda. Tahap awal ini diperlukan untuk memperoleh gambaran apakah PMMoV terdeteksi dan bagaimana pola konsentrasinya pada kondisi perairan yang diteliti.

Setelah pemeriksaan awal, metode ekstraksi dan primer spesifik perlu melalui proses validasi. Aspek yang perlu diperiksa meliputi batas deteksi, efisiensi, spesifisitas, dan kemungkinan inhibisi yang dapat memengaruhi hasil pengukuran.

Batas deteksi berkaitan dengan kemampuan metode menemukan target genetik pada konsentrasi tertentu. Sementara itu, efisiensi dan spesifisitas perlu diperhatikan untuk memastikan metode bekerja sesuai tujuan serta mengenali target yang hendak diperiksa.

Pengujian juga perlu memperhitungkan kemungkinan adanya zat dalam sampel air yang menghambat reaksi molekuler. Gangguan tersebut dapat memengaruhi hasil sehingga prosedur pengendalian mutu diperlukan untuk membantu memastikan hasil pemeriksaan dapat dipercaya.

Tahap berikutnya adalah membandingkan hasil pemeriksaan PMMoV dengan E. coli serta indikator fekal atau patogen lain yang relevan. Perbandingan tersebut diperlukan untuk menilai hubungan antara keberadaan PMMoV dan indikator pencemaran yang sudah digunakan dalam pemantauan kualitas air.

Penelitian juga perlu mempertimbangkan perubahan kondisi lingkungan. Variasi musim, curah hujan, debit sungai, kepadatan penduduk, sistem sanitasi, dan karakteristik sumber limbah dapat memengaruhi pengenceran, perpindahan, serta keberlangsungan materi genetik virus di perairan.

Faktor-faktor tersebut membuat hasil dari satu lokasi atau satu periode pengambilan sampel belum tentu mewakili kondisi wilayah lain. Karena itu, penelitian lokal perlu dirancang untuk menangkap variasi yang relevan dengan karakteristik perairan dan sumber pencemarannya.

Dalam tahap penerapan, RT-qPCR dapat dipertimbangkan untuk laboratorium rujukan atau pemantauan berkala yang membutuhkan data kuantitatif. Sementara itu, PCR konvensional dapat dimanfaatkan pada penelitian awal untuk menguji keberadaan target genetik.

Metode yang lebih sederhana juga berpotensi dikembangkan untuk kebutuhan skrining. Namun, penggunaannya tetap perlu didasarkan pada pembuktian kinerja agar hasilnya sesuai dengan tujuan pemeriksaan.

“Dengan demikian, metode ini sangat mungkin dikembangkan di Indonesia, tetapi penerapannya sebagai sistem pemantauan rutin membutuhkan validasi lokal, prosedur kendali mutu, tenaga terlatih, serta pertimbangan biaya,” ujarnya.

Kebutuhan validasi dan kendali mutu menjadi bagian penting dalam pengembangan metode tersebut. Selain memastikan hasil pemeriksaan dapat ditafsirkan dengan benar, penerapan rutin juga perlu mempertimbangkan kesiapan laboratorium, ketersediaan tenaga terlatih, dan biaya pemeriksaan.

PMMoV dan Virus Manusia sebagai Indikator Pencemaran Fekal

Selain PMMoV, sejumlah virus enterik manusia telah diusulkan sebagai indikator pencemaran fekal. Virus-virus tersebut berasal dari kelompok yang ditularkan melalui jalur fekal-oral, yakni perpindahan agen infeksi melalui kontaminasi yang berkaitan dengan tinja dan masuk melalui mulut.

Kelompok virus yang pernah diteliti untuk tujuan tersebut meliputi Adenoviridae, Caliciviridae, Picornaviridae, Reoviridae, dan Anellovirus.

Penggunaan virus manusia sebagai indikator memiliki keterbatasan karena keberadaannya dalam air limbah tidak selalu konsisten. Kelimpahan virus tertentu dapat berbeda di antara lokasi maupun periode pengambilan sampel.

Dalam penelitian yang dirujuk pada draf, hanya adenovirus yang dilaporkan ditemukan secara luas pada sampel air limbah mentah dari berbagai wilayah di Amerika Serikat. Virus lain, seperti Picobirnavirus dan Torque teno virus, juga dilaporkan memiliki kelimpahan tinggi di wilayah tertentu, tetapi konsentrasinya dapat bervariasi.

Salah satu keterbatasan utama penggunaan virus manusia adalah ketergantungan konsentrasi virus dalam limbah pada tingkat infeksi dan pelepasan virus atau viral shedding di dalam populasi pada waktu tertentu.

Ketika tingkat infeksi dan pelepasan virus berubah, jumlah virus manusia yang masuk ke saluran pembuangan juga dapat berubah. Kondisi tersebut dapat memengaruhi konsentrasi yang terukur dalam sampel air limbah.

PMMoV menawarkan pendekatan yang berbeda karena merupakan virus tanaman yang dapat masuk ke saluran pencernaan manusia melalui konsumsi pangan. Keberadaannya berpotensi memberikan indikator pencemaran fekal yang lebih konsisten karena berkaitan dengan pola konsumsi cabai, bukan secara langsung dengan prevalensi infeksi virus pada manusia.

Meski demikian, konsistensi tersebut tidak dapat dianggap berlaku untuk semua wilayah dan kondisi. Keberadaan PMMoV tetap perlu diuji melalui penelitian lapangan, termasuk dengan mempertimbangkan kemungkinan sumber dari feses hewan yang mengonsumsi tanaman terinfeksi.

“Kelimpahannya yang tinggi dalam tinja dan air limbah domestik, serta kestabilan partikelnya di lingkungan, menjadikan PMMoV kandidat yang menjanjikan untuk melengkapi indikator virus manusia dalam pemantauan pencemaran fekal,” lanjut Fadli.

Di Sumatera Barat, pengujian dapat dilakukan dengan membandingkan konsentrasi PMMoV pada perairan yang menerima buangan domestik dan badan air dengan tekanan aktivitas manusia yang lebih rendah. Hasilnya dapat dibandingkan dengan E. coli serta indikator lain yang relevan untuk mengetahui sejauh mana PMMoV memberikan informasi tambahan.

M. Fadli menyampaikan Sumbar menjadi wilayah yang menarik untuk pengembangan penelitian ini karena tradisi konsumsi cabai memberikan alasan ilmiah untuk menguji relevansi PMMoV dalam konteks lokal. Namun, tingkat konsumsi cabai tidak dapat dijadikan bukti tunggal bahwa virus tersebut memiliki konsentrasi tinggi di seluruh perairan.

“Bagi Indonesia, termasuk Sumbar, peluang pengembangannya terbuka. Penelitian lokal yang terencana dapat menentukan apakah PMMoV cukup konsisten, sensitif, dan ekonomis untuk melengkapi metode pemantauan yang sudah digunakan,” tutup Fadli. (*)

Baca Juga

Kimpul Ramai Dibahas di Medsos, Ini Potensinya Menurut Guru Besar Unand
Kimpul Ramai Dibahas di Medsos, Ini Potensinya Menurut Guru Besar Unand
Banjir Padang Berulang, Pakar Unand Ungkap Peran Pegunungan dan Sedimen
Banjir Padang Berulang, Pakar Unand Ungkap Peran Pegunungan dan Sedimen
Sering Mengkritik Orang Lain? Kenali Batas Kritik Sehat dan Toksik
Sering Mengkritik Orang Lain? Kenali Batas Kritik Sehat dan Toksik
Dari Temulawak Jadi Sabun Herbal: Pemberdayaan Perempuan di Seberang Padang
Dari Temulawak Jadi Sabun Herbal: Pemberdayaan Perempuan di Seberang Padang
Tak Hanya Paru-paru, Polusi Udara Bisa Berdampak ke Jantung dan Otak
Tak Hanya Paru-paru, Polusi Udara Bisa Berdampak ke Jantung dan Otak
Saat Politik Masuk FYP: Gen Z dan Gen Alpha Jadi Sasaran Algoritma
Saat Politik Masuk FYP: Gen Z dan Gen Alpha Jadi Sasaran Algoritma