Sumbardaily.com - Di tengah bentang alam Nagari Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, berdiri satu bangunan yang telah menyaksikan berbagai fase perkembangan transportasi di Sumatera Barat (Sumbar). Stasiun Kayu Tanam, yang berstatus sebagai bangunan cagar budaya, bukan sekadar peninggalan sejarah perkeretaapian masa kolonial Belanda, tetapi kini kembali memainkan peran penting sebagai penghubung mobilitas masyarakat modern.
Kebangkitan fungsi Stasiun Kayu Tanam semakin terlihat dari melonjaknya jumlah pengguna KA Lembah Anai sepanjang tahun 2026.
Data PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional II Sumatera Barat (KAI Divre II Sumbar) menunjukkan peningkatan volume pelanggan yang sangat signifikan, mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap moda transportasi berbasis rel.
Fenomena ini menjadi menarik karena terjadi di stasiun yang dahulu dikenal sebagai salah satu simpul utama jaringan perkeretaapian Sumbar.
Pada masa lalu, Stasiun Kayu Tanam menjadi titik penting yang menghubungkan kawasan pesisir dengan wilayah pedalaman.
Dari lokasi inilah pernah beroperasi jalur kereta api bergerigi atau rack railway, satu-satunya di Sumbar yang memungkinkan perjalanan kereta melintasi medan pegunungan menuju Padang Panjang.
Meski jalur bersejarah tersebut kini telah menjadi bagian dari catatan masa lalu, bangunan stasiun tetap berdiri kokoh dengan karakter arsitektur kolonial yang masih terjaga hingga sekarang. Keberadaannya menjadi simbol perjalanan panjang perkembangan transportasi rel di Ranah Minang.
Seiring perkembangan zaman, fungsi Stasiun Kayu Tanam terus mengalami transformasi. Setelah kembali melayani perjalanan kereta api lokal sejak tahun 2016, stasiun ini kini menjadi titik awal operasional KA Lembah Anai yang menghubungkan masyarakat dengan berbagai pusat aktivitas di Kota Padang.
Peran tersebut semakin diperkuat setelah PT KAI Divre II Sumbar melakukan perubahan relasi perjalanan KA Lembah Anai mulai 1 Januari 2026. Jika sebelumnya kereta melayani rute Kayu Tanam-Bandara Internasional Minangkabau (BIM), kini relasi perjalanan diperpanjang menjadi Kayu Tanam-Padang.
Kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan konektivitas wilayah sekaligus menghadirkan layanan transportasi publik yang lebih mudah dijangkau masyarakat.
Selain memperluas cakupan layanan, perubahan relasi juga memberikan akses yang lebih besar bagi masyarakat yang melakukan perjalanan menuju pusat aktivitas ekonomi, pendidikan, maupun pemerintahan di Kota Padang.
Tak hanya mengubah relasi perjalanan, KAI Divre II Sumbar juga meningkatkan kapasitas angkut KA Lembah Anai secara signifikan. Sebelumnya layanan menggunakan Railbus dengan kapasitas 78 tempat duduk.
Kini operasional kereta menggunakan rangkaian kereta ekonomi (K3) yang mampu menampung hingga 192 penumpang dalam satu perjalanan.
Peningkatan kapasitas tersebut menjadi langkah strategis untuk mengakomodasi tingginya minat masyarakat menggunakan transportasi kereta api.
Di saat yang sama, aspek keselamatan, keamanan, dan kenyamanan tetap menjadi prioritas utama dalam pelayanan.
Hasilnya terlihat jelas pada data jumlah pelanggan dalam beberapa tahun terakhir. Selama periode Januari hingga Mei 2023, KA Lembah Anai melayani sebanyak 11.680 pelanggan. Angka tersebut meningkat menjadi 13.135 pelanggan pada periode yang sama tahun 2024.
Pertumbuhan masih berlanjut pada tahun berikutnya. Sepanjang Januari hingga Mei 2025, jumlah pelanggan tercatat sebanyak 13.260 orang.
Namun lonjakan paling mencolok terjadi pada tahun 2026. Dalam periode Januari hingga Mei 2026, jumlah pelanggan KA Lembah Anai mencapai 24.783 orang.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2025 yang mencatat 13.260 pelanggan, maka terjadi peningkatan sebesar 87 persen.
Kenaikan tersebut menjadi indikator kuat bahwa masyarakat semakin menjadikan kereta api sebagai moda transportasi pilihan.
Selain menawarkan ketepatan waktu, perjalanan dengan kereta api juga memberikan kenyamanan lebih karena bebas dari kemacetan serta didukung tarif yang relatif terjangkau.
Tingginya minat masyarakat juga menunjukkan bahwa pengembangan layanan KA Lembah Anai mendapat respons positif dari berbagai kalangan.
Kereta ini dimanfaatkan tidak hanya untuk kebutuhan mobilitas harian, tetapi juga untuk perjalanan menuju tempat kerja, fasilitas pendidikan, hingga mendukung aktivitas wisata.
Dari sisi tarif, KAI tetap mempertahankan harga yang ramah bagi masyarakat. Untuk relasi Padang-Duku maupun sebaliknya, tarif yang dikenakan sebesar Rp3 ribu. Sementara untuk relasi Padang-Kayu Tanam maupun sebaliknya, tarif perjalanan ditetapkan Rp5 ribu.
Dengan jadwal yang teratur serta biaya perjalanan yang ekonomis, KA Lembah Anai diharapkan semakin menjadi pilihan utama masyarakat dalam memenuhi kebutuhan transportasi sehari-hari sekaligus mendorong penggunaan moda transportasi massal berbasis rel yang lebih ramah lingkungan.
Kepala Humas KAI Divre II Sumbar, Reza Shahab mengatakan bahwa peningkatan jumlah pelanggan menjadi indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan KA Lembah Anai.
“Pertumbuhan volume pelanggan KA Lembah Anai hingga 87 persen menjadi bukti bahwa masyarakat semakin percaya dan menjadikan kereta api sebagai pilihan transportasi yang andal. Pencapaian ini menjadi motivasi bagi KAI Divre II Sumbar untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan sehingga setiap perjalanan dapat berlangsung dengan aman, nyaman, selamat, dan tepat waktu,” katanya, Sabtu (6/6/2026) siang.
Menurut Reza, pengembangan layanan KA Lembah Anai merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menghadirkan transportasi publik yang semakin mudah diakses, efisien, dan sesuai kebutuhan masyarakat.
“Kereta api menawarkan kepastian waktu tempuh, kenyamanan selama perjalanan, serta menjadi solusi mobilitas yang bebas dari kemacetan. Kami berharap KA Lembah Anai terus menjadi pilihan masyarakat Sumatera Barat, baik untuk aktivitas sehari-hari, perjalanan menuju tempat kerja dan pendidikan, maupun sebagai sarana menikmati potensi wisata di sepanjang jalur Lembah Anai,” ucapnya.
Selain melakukan pengembangan layanan, KAI Divre II Sumbar juga terus menjalankan berbagai program peningkatan kualitas pelayanan secara berkelanjutan.
Upaya tersebut meliputi peningkatan kebersihan sarana, peningkatan keandalan armada, optimalisasi pelayanan di stasiun, hingga penguatan aspek keselamatan dan keamanan perjalanan.
Di balik angka pertumbuhan penumpang yang terus meningkat, terdapat cerita mengenai hidupnya kembali peran Stasiun Kayutanam sebagai simpul transportasi penting di Sumbar.
Stasiun yang pernah menjadi bagian penting sejarah perkeretaapian daerah ini kini kembali menjadi titik temu mobilitas masyarakat modern.
Dari sebuah bangunan bersejarah yang pernah menghubungkan kawasan pesisir dan pegunungan melalui jalur kereta bergigi, Stasiun Kayu Tanam kini menjalankan fungsi baru sebagai penggerak konektivitas masyarakat.
Kehadirannya tidak hanya mendukung transportasi publik yang modern dan andal, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan sistem transportasi berkelanjutan di Sumbar. (*)
















