Gajah Zidan Agresif sejak 2022, TMSBK Bukittinggi Terpaksa Rantai Kakinya

Gajah Zidan Agresif sejak 2022, TMSBK Bukittinggi Terpaksa Rantai Kakinya

Gajah Zidan yang menjadi penghuni Taman Marga Satwa Budaya Kinantan (TMSBK) Kota Bukittinggi harus menjalani perawatan dan pengawasan secara intensif setelah menunjukkan perubahan perilaku sejak 2022. (Foto: Pemko Bukittinggi)

Sumbardaily.com - Gajah Zidan yang menjadi penghuni Taman Marga Satwa Budaya Kinantan (TMSBK) Kota Bukittinggi harus menjalani perawatan dan pengawasan secara intensif setelah menunjukkan perubahan perilaku sejak 2022.

Gajah jantan yang kini berusia sekitar 34 tahun itu diketahui mengalami periode musth yang tidak teratur. Kondisi tersebut membuat perilaku Zidan berubah menjadi agresif hingga sulit dilatih oleh keeper.

Situasi itu juga membuat sejumlah orang yang pernah menjadi pawangnya terluka. Bahkan, Zidan beberapa kali dilaporkan melukai gajah betina bernama Lia.

Kondisi tersebut akhirnya menjadi perhatian serius pengelola TMSBK karena Zidan juga berpotensi membahayakan pengunjung. Langkah pengamanan pun dilakukan setelah pihak TMSBK berkoordinasi dengan dokter hewan dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Bukittinggi, Rofie Hendria, mengatakan pemantauan terhadap Zidan dilakukan secara ketat. Setelah melalui beberapa kali koordinasi dengan pihak terkait, diputuskan bahwa kaki Zidan harus dirantai untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan.

"Untuk itu, kami dari TMSBK, melakukan pemantauan ketat pada Gajah Zidan dan berkoordinasi dengan pihak terkait, langkah apa yang akan dilakukan. Setelah berkoordinasi beberapa kali dengan dokter hewan dan BKSDA itu, kita ambil keputusan untuk mengantisipasi kejadian yang tidak kita inginkan, dengan merantai kaki Zidan sejak 2023 lalu," ungkap Rofie, Minggu, 13 September 2026.

Zidan sendiri sebelumnya dikenal sebagai salah satu satwa yang menjadi daya tarik TMSBK. Sejak menghuni kebun binatang tersebut pada 2001, gajah jantan itu dapat berinteraksi dengan baik bersama wisatawan.

Sampai akhir 2021, keberadaan Zidan bahkan menjadi salah satu magnet bagi pengunjung TMSBK. Perubahan terjadi mulai 2022 ketika perilakunya menjadi semakin agresif akibat periode musth yang tidak teratur.

Perubahan perilaku itu tidak hanya membuat Zidan sulit dilatih oleh keeper, tetapi juga menyebabkan pawang yang biasa menangani gajah tersebut memilih mengundurkan diri.

Rofie mengatakan pawang tersebut mengaku tidak lagi sanggup menghadapi kondisi Zidan yang semakin agresif dan sulit dikendalikan.

"Kondisi ini juga sudah dilaporkan kepada Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Sumbar, termasuk tim ahli yang melaksanakan sertifikasi TMSBK. Kita juga minta pada tim sertifikasi itu, agar Zidan dievakuasi ke lembaga konservasi yang lebih lengkap sarana prasarananya," lanjutnya.

Menurut Rofie, perhatian terhadap kondisi Zidan tidak hanya dilakukan dari sisi keamanan. Seluruh satwa yang berada di TMSBK tetap mendapatkan perhatian maksimal, termasuk pemenuhan makanan serta obat-obatan yang menunjang kesehatan satwa.

Namun, perilaku agresif Zidan membuat penanganannya membutuhkan perhatian lebih. Terlebih, gajah tersebut tidak hanya pernah mencederai beberapa pawang, tetapi juga beberapa kali melukai gajah betina Lia.

Karena itu, pengawasan terhadap Zidan dilakukan secara ketat sembari menunggu tindak lanjut dari pihak terkait mengenai opsi penanganan dan evakuasinya.

Pemerintah Kota Bukittinggi juga telah beberapa kali menyampaikan kondisi Zidan kepada Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Sumbar. Surat tersebut berisi laporan mengenai kondisi gajah jantan tersebut sekaligus permintaan agar persoalan itu segera ditindaklanjuti.

Pemko Bukittinggi juga meminta agar Zidan dapat dievakuasi ke lembaga konservasi yang memiliki sarana dan prasarana lebih lengkap. Permintaan tersebut telah disampaikan melalui koordinasi dengan BKSDA Sumbar dan tim ahli yang terlibat dalam sertifikasi TMSBK.

Dengan kondisi tersebut, keberadaan Zidan di TMSBK kini mendapat pengawasan lebih ketat dibandingkan sebelumnya. Gajah yang dahulu dapat berinteraksi dengan wisatawan itu harus menjalani penanganan khusus setelah perilakunya berubah menjadi agresif sejak 2022. (*)

Baca Juga

Update Hotspot Karhutla Sumatera: Sumsel 62 Titik, Riau dan Jambi Nihil
Update Hotspot Karhutla Sumatera: Sumsel 62 Titik, Riau dan Jambi Nihil
Karhutla Nasional: Hotspot Kalbar Turun Tajam, Sumsel 34 dan Riau 18 Titik
Karhutla Nasional: Hotspot Kalbar Turun Tajam, Sumsel 34 dan Riau 18 Titik
Karhutla Nasional: Sumsel Catat 35 Hotspot, Riau 15 Titik, Kalimantan Barat Tertinggi
Karhutla Nasional: Sumsel Catat 35 Hotspot, Riau 15 Titik, Kalimantan Barat Tertinggi
Kabut Asap Mengancam Warga Bukittinggi, Bayi hingga Lansia Diminta Tak Banyak Keluar
Kabut Asap Mengancam Warga Bukittinggi, Bayi hingga Lansia Diminta Tak Banyak Keluar
Pemko Bukittinggi Mulai Benahi Halaman TMSBK, Anggaran Rp1,7 Miliar
Pemko Bukittinggi Mulai Benahi Halaman TMSBK, Anggaran Rp1,7 Miliar
Udara Bukittinggi Masuk Kategori Sedang, Anak-anak hingga Lansia Diminta Waspada
Udara Bukittinggi Masuk Kategori Sedang, Anak-anak hingga Lansia Diminta Waspada