Sumbardaily.com, Padang - Kebangkitan Stasiun Pauh Lima di Kecamatan Pauh, Kota Padang menandai perubahan signifikan dalam layanan transportasi berbasis rel di Sumatera Barat (Sumbar).
Setelah puluhan tahun hanya berfungsi sebagai titik teknis bagi kereta barang, fasilitas yang berada pada ketinggian sekitar 90 meter di atas permukaan laut itu kini beralih menjadi simpul mobilitas masyarakat yang semakin diminati.
Transformasi ini dilakukan PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional II Sumatera Barat (KAI Divre II Sumbar) sebagai bagian dari strategi menghadirkan moda transportasi yang lebih aman, terjangkau dan relevan dengan kebutuhan harian warga.
Stasiun Pauh Lima semula dibangun pada 16 November 1979. Pada masa itu, perannya sangat khas, menjadi titik persilangan dan pengaturan rangkaian kereta barang yang mengangkut material Pabrik Semen Padang menuju Pelabuhan Teluk Bayur.
Selama bertahun-tahun, aktivitasnya berlangsung dalam kesenyapan, tanpa sentuhan layanan penumpang. Meski demikian, posisinya tidak pernah kehilangan nilai strategis karena berada di jalur vital Indarung-Bukit Putus.
Seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat akan moda transportasi cepat dan terjangkau, terutama di kawasan permukiman padat, pusat aktivitas harian, serta kawasan pendidikan seperti Universitas Andalas (Unand), potensi Stasiun Pauh Lima mulai kembali dilirik.
Lingkungan yang semakin berkembang tersebut menunjukkan kebutuhan akan akses mobilitas baru yang lebih efektif daripada transportasi jalan raya yang kian padat.
Kepala Humas KAI Divre II Sumbar, Reza Shahab, menyebut transformasi ini sebagai bagian dari langkah perusahaan merespons dinamika kebutuhan mobilitas masyarakat.
"Kehadiran Stasiun Pauh Lima sebagai stasiun penumpang merupakan komitmen KAI dalam menyediakan layanan yang relevan dengan kebutuhan mobilitas masyarakat masa kini. Transformasi ini bukan hanya membuka akses transportasi baru, tetapi juga menghadirkan pilihan perjalanan yang lebih aman, efektif, dan terjangkau, khususnya bagi mahasiswa dan pekerja di kawasan Pauh dan sekitarnya,” katanya, Rabu (19/11/2025) malam.
Momentum penting terjadi pada 1 Maret 2023, ketika untuk pertama kalinya stasiun ini melayani kereta penumpang. Kereta Pariaman Ekspres relasi Pauh Lima-Naras resmi berhenti di stasiun tersebut dan langsung mendapat sambutan hangat dari masyarakat.
Kini, sebanyak 10 perjalanan kereta berhenti di Pauh Lima setiap hari dengan tarif yang sangat ekonomis, mulai dari Rp5 ribu.
Tarif ini menjadi salah satu alasan mengapa stasiun tersebut cepat menjadi pilihan utama warga maupun mahasiswa yang beraktivitas di pusat kota.
Perubahan fungsi stasiun ini bukan sekadar menambah titik naik-turun penumpang, tetapi juga mengubah ruang sosial kawasan Pauh.
Rel yang dahulu mengalirkan muatan industri kini mengantar pelajar, mahasiswa, pekerja, hingga wisatawan. Arus mobilitas baru ini menghidupkan kembali kawasan sekitar stasiun dan mendekatkan layanan transportasi publik ke tengah permukiman.
Reza menambahkan, pembukaan kembali stasiun ini menjadi bukti bahwa infrastruktur lama dapat memberi manfaat besar bila dikelola dengan pendekatan yang tepat.
“Kami berharap kehadiran kembali Stasiun Pauh Lima dapat menjadi katalis bagi peningkatan kualitas hidup warga. Ini adalah bukti bahwa infrastruktur yang pernah tidur panjang pun dapat kembali memberi manfaat besar bagi publik bila dihadirkan dengan tepat,” katanya.
Dengan penataan yang lebih fungsional dan layanan yang disesuaikan kebutuhan penumpang, Stasiun Pauh Lima kini hadir sebagai bagian dari ekosistem mobilitas modern di Padang.
Tidak lagi hanya simbol industri masa lalu, stasiun ini menjelma menjadi fasilitas transportasi publik yang manusiawi, mudah dijangkau dan lebih dekat dengan kehidupan warga.
“KAI akan terus memastikan Pauh Lima memberi layanan terbaik bagi masyarakat serta menjadi simpul perjalanan yang andal dan berkelanjutan,” tutur Reza. (adl)















