Dari Temulawak Jadi Sabun Herbal: Pemberdayaan Perempuan di Seberang Padang

Sumbardaily.com – Temulawak selama ini dikenal masyarakat sebagai salah satu tanaman obat tradisional yang banyak ditemukan di Indonesia. Namun, tanaman bernama ilmiah Curcuma xanthorrhiza Roxb. tersebut mulai mendapat nilai tambah di Kelurahan Seberang Padang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang.

Di kawasan tersebut, kelompok perempuan diperkenalkan pada pemanfaatan temulawak bukan hanya sebagai tanaman herbal, tetapi juga sebagai bahan dalam pembuatan sabun cair. Melalui kegiatan pemberdayaan, para peserta tidak sekadar mendapatkan pengetahuan mengenai manfaat tanaman, tetapi juga langsung mempraktikkan proses mengolahnya menjadi produk perawatan kulit.

Kegiatan itu menjadi bagian dari upaya memperkenalkan pemanfaatan potensi lokal kepada masyarakat. Temulawak yang tersedia di lingkungan sekitar diarahkan untuk memiliki nilai guna lebih luas melalui pengetahuan, praktik pengolahan, sekaligus budidaya kembali tanaman tersebut.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut dilaksanakan pada 19 September 2026 di Wahana Pendidikan Program Studi Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand), Klinik Griya Satya Estetik, Seberang Padang.

Rangkaian kegiatan tersebut meliputi pembentukan Dasawisma Temulawak yang dilengkapi dengan Taman Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di pekarangan rumah warga. Kegiatan melibatkan staf pengajar, mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), dokter muda, serta Kelompok Ibu-Ibu Griya Sehat.

Ketua Pelaksana kegiatan sekaligus Ketua Departemen Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Prof. Dr. dr. Satya Wydya Yenny, Sp.D.V.E, Subsp.D.K.E, M.Ag, FINSDV, FAADV, menjelaskan temulawak merupakan salah satu tanaman herbal khas Indonesia yang telah lama dimanfaatkan secara tradisional.

Menurutnya, kandungan berbagai senyawa bioaktif yang terdapat dalam temulawak membuat tanaman tersebut berpotensi dikembangkan dan dimanfaatkan secara lebih luas, termasuk dalam bidang kesehatan dan estetika.

“Temulawak merupakan salah satu tanaman herbal yang banyak ditemukan di Indonesia. Tanaman ini mengandung berbagai senyawa bioaktif, antara lain kurkuminoid dan xanthorrhizol, yang diketahui memiliki berbagai aktivitas biologis seperti antioksidan, antiinflamasi, antibakteri, dan antijamur,” kata Prof. Wydya, Rabu (7/10/2026).

Kandungan senyawa bioaktif tersebut membuka peluang pemanfaatan temulawak tidak hanya sebagai tanaman obat tradisional. Tanaman tersebut juga dapat digunakan sebagai salah satu bahan alami dalam pengembangan produk perawatan kulit, termasuk sabun.

Penggunaan bahan alami berpotensi menghasilkan produk perawatan kulit yang lebih ramah terhadap kulit dengan risiko iritasi yang minimal apabila diformulasikan secara tepat. Meski demikian, pengembangan produk berbahan herbal tetap membutuhkan pengetahuan mengenai formulasi, efektivitas, dan keamanan.

Hal tersebut menjadi salah satu materi penting dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat di Seberang Padang. Peserta diberikan pemahaman bahwa penggunaan bahan alami tidak secara otomatis membuat sebuah produk aman digunakan tanpa memperhatikan proses pembuatannya.

Formulasi, kebersihan proses, konsentrasi bahan, hingga cara penggunaan menjadi sejumlah hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan produk yang digunakan pada kulit. Karena itu, edukasi mengenai keamanan dan higienitas turut menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Ibu-Ibu Langsung Praktik Membuat Sabun

Kegiatan pemberdayaan tersebut tidak berhenti pada penyampaian materi mengenai temulawak. Setelah mendapatkan penyuluhan, para peserta langsung mengikuti praktik pembuatan sabun cair berbahan temulawak.

Rangkaian kegiatan diawali dengan penyuluhan mengenai temulawak dan manfaatnya bagi kesehatan kulit. Peserta mendapatkan edukasi mengenai pemilihan bahan, kebersihan alat dan bahan, serta pentingnya memperhatikan aspek keamanan produk yang akan digunakan pada kulit.

Setelah memperoleh materi, peserta kemudian mengikuti praktik pembuatan sabun cair. Praktik dilakukan dengan pendekatan learning by doing. Dengan metode tersebut, peserta tidak hanya menerima informasi secara teori, tetapi juga mengikuti secara langsung tahapan pembuatan produk.

Lampiran Gambar

Sebanyak 20 orang mengikuti kegiatan tersebut. Sebagian besar peserta merupakan perempuan berusia di atas 50 tahun. Berdasarkan data kegiatan, sebanyak 70 persen peserta berada dalam kelompok usia tersebut.

Sementara itu, sebanyak 95 persen peserta merupakan ibu rumah tangga. Para peserta kemudian dibagi menjadi tiga kelompok untuk mengikuti praktik pembuatan sabun cair berbahan temulawak.

Masing-masing kelompok mendapatkan pendampingan dari tim dosen, mahasiswa PPDS, serta dokter muda yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Pendampingan diberikan selama peserta mengikuti tahapan pembuatan sabun.

Proses pembuatan dilakukan secara bertahap. Peserta terlibat langsung mulai dari pencampuran bahan, pengaturan tingkat kekentalan, hingga pengukuran pH.

Setelah seluruh proses pembuatan selesai, sabun cair yang dihasilkan kemudian dikemas ke dalam botol. Produk tersebut selanjutnya diberi label sebelum dibawa pulang oleh peserta.

Dari praktik yang dilakukan, dihasilkan sekitar 4 liter sabun cair berbahan temulawak. Sabun yang telah selesai dibuat kemudian dibawa pulang oleh peserta untuk dimanfaatkan.

Praktik tersebut memberikan pengalaman langsung kepada masyarakat mengenai proses pengolahan bahan herbal menjadi produk yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, peserta tidak hanya mengetahui bahwa temulawak merupakan tanaman herbal yang memiliki berbagai kandungan bioaktif. Mereka juga mendapatkan pengalaman mengenai bagaimana bahan tersebut dapat diolah menjadi produk perawatan kulit dengan tetap memperhatikan formulasi, kebersihan, konsentrasi bahan, serta keamanan penggunaannya.

Tak Berhenti di Pembuatan Sabun

Pemanfaatan temulawak dalam kegiatan tersebut tidak berhenti setelah para peserta menyelesaikan pembuatan sabun cair. Rangkaian pemberdayaan juga dilanjutkan dengan kegiatan penanaman bibit temulawak di lingkungan tempat tinggal warga.

Narasumber kegiatan, Prof. Dr. Netty Suharti, MS, mengatakan peserta mendapatkan bibit temulawak untuk ditanam di pekarangan rumah warga yang tergabung dalam kelompok dasawisma.

“Kegiatan ini tidak berhenti pada pelatihan pembuatan sabun. Peserta juga mendapatkan 30 bibit temulawak untuk ditanam di taman TOGA masyarakat,” ujar Prof. Netty.

Sebanyak 30 bibit temulawak tersebut menjadi bagian dari upaya membangun siklus pemanfaatan bahan lokal di lingkungan masyarakat. Temulawak dibudidayakan di lingkungan warga sehingga tanaman tersebut dapat dikenal, dimanfaatkan, dan kemudian diolah menjadi produk yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Konsep tersebut membuat pemanfaatan tanaman herbal tidak hanya berorientasi pada produk akhir. Budidaya bahan baku juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan pemberdayaan.

Masyarakat diperkenalkan pada proses yang lebih utuh, mulai dari mengenal tanaman, menanam dan membudidayakannya, hingga memanfaatkannya sebagai bahan dalam pembuatan produk.

Dengan pola tersebut, kegiatan tidak hanya memberikan pengalaman membuat sabun cair, tetapi juga mendorong masyarakat untuk mengenal kembali potensi tanaman herbal yang dapat dikembangkan di lingkungan rumah.

Pengetahuan Peserta Meningkat

Rangkaian kegiatan pemberdayaan tersebut juga disertai evaluasi untuk melihat perubahan pengetahuan peserta setelah mengikuti kegiatan.

Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta. Nilai rata-rata pengetahuan yang sebelumnya berada di angka 70 persen pada pre-test meningkat menjadi 100 persen pada post-test.

Selain pengetahuan, peningkatan juga terlihat pada aspek sikap dan perilaku peserta. Nilai rata-rata sikap dan perilaku yang sebelumnya berada di angka 79,65 persen meningkat menjadi 91,25 persen.

Data tersebut menjadi bagian dari evaluasi kegiatan yang melibatkan kelompok perempuan di Seberang Padang. Pengetahuan mengenai tanaman herbal, keamanan penggunaan bahan, serta proses pengolahan menjadi bagian dari materi sekaligus praktik yang diberikan kepada peserta.

Peningkatan nilai tersebut menunjukkan adanya perubahan setelah peserta mengikuti rangkaian kegiatan, mulai dari penyuluhan hingga praktik pembuatan sabun cair berbahan temulawak.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat memperoleh pengetahuan yang tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan temulawak, tetapi juga dengan pentingnya memperhatikan keamanan ketika bahan herbal dikembangkan menjadi produk yang digunakan pada kulit.

Dorong Dasawisma Temulawak

Lebih jauh, kegiatan pemberdayaan tersebut diarahkan untuk membentuk Dasawisma Temulawak. Kelompok tersebut diharapkan dapat menjadi penggerak edukasi kesehatan keluarga sekaligus mendorong pemanfaatan tanaman herbal lokal di lingkungan masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, tercipta satu kelompok dasawisma yang didorong memiliki taman Tanaman Obat Keluarga atau TOGA di pekarangan rumah. Temulawak menjadi tanaman unggulan yang dikelola oleh warga secara bersama-sama.

Pembentukan kelompok tersebut diharapkan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Pemanfaatan temulawak tidak hanya berkaitan dengan kesehatan dan kebersihan keluarga, tetapi juga diarahkan untuk membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.

Keberadaan taman TOGA dan budidaya temulawak memberikan sumber tanaman herbal yang dapat dimanfaatkan sekaligus dikembangkan oleh masyarakat. Pengolahan tanaman menjadi produk seperti sabun cair menjadi salah satu contoh pemberian nilai tambah terhadap tanaman lokal.

Dengan demikian, temulawak tidak hanya ditempatkan sebagai tanaman yang tumbuh di lingkungan masyarakat. Tanaman tersebut diperkenalkan sebagai bahan yang dapat dipelajari, dibudidayakan, dimanfaatkan, dan diolah melalui keterampilan yang diperoleh warga.

Namun, kegiatan tersebut juga menekankan pentingnya aspek keamanan dalam pengembangan produk kosmetik berbahan herbal. Bahan alami tetap perlu diolah dengan memperhatikan formulasi, kebersihan, konsentrasi, serta penggunaan yang tepat.

Pemahaman tersebut menjadi bagian penting karena produk yang digunakan pada kulit membutuhkan perhatian terhadap proses pembuatannya. Penggunaan bahan alami tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan untuk memperhatikan keamanan dan higienitas.

Diharapkan Berlanjut

Kegiatan pemberdayaan perempuan di Seberang Padang tersebut diharapkan tidak berhenti pada satu kali pelatihan. Ke depan, kegiatan tersebut diharapkan dapat berlanjut melalui pendampingan kelompok, pengembangan produk, edukasi mengenai keamanan kosmetik herbal, serta pemanfaatan dan budidaya tanaman herbal secara berkelanjutan.

Rangkaian kegiatan yang dilakukan menunjukkan bahwa pemanfaatan tanaman lokal dapat dikembangkan tidak hanya dalam bentuk pengetahuan, tetapi juga melalui praktik yang menghasilkan produk.

Kelompok perempuan yang terlibat mendapatkan pengalaman mulai dari mengenal potensi temulawak, mengetahui kandungan dan manfaatnya, memahami aspek keamanan bahan, mempraktikkan pengolahan menjadi sabun cair, hingga menanam kembali bibit temulawak di lingkungan masyarakat.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pemberdayaan berbasis tanaman herbal dapat dilakukan melalui rangkaian kegiatan yang saling berkaitan. Pengetahuan diberikan melalui penyuluhan, keterampilan diperoleh melalui praktik, sementara keberlanjutan bahan baku didorong melalui penanaman bibit di taman TOGA.

Temulawak pun tidak hanya ditempatkan sebagai tanaman obat yang tumbuh di lingkungan masyarakat. Tanaman tersebut mulai diarahkan menjadi bagian dari pemberdayaan perempuan, edukasi kesehatan keluarga, pemanfaatan bahan lokal, serta peluang pengembangan ekonomi kreatif.

Kehadiran Dasawisma Temulawak juga menjadi bagian dari upaya agar pengetahuan dan pemanfaatan tanaman herbal dapat berkembang di tingkat masyarakat. Dengan adanya kelompok dan taman TOGA, temulawak diharapkan tidak hanya dikenal sebagai tanaman, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara lebih luas oleh warga.

Dari tanaman yang tersedia di lingkungan masyarakat, lahir pengetahuan mengenai tanaman herbal, keterampilan membuat produk, pengalaman melakukan budidaya, serta pembentukan kelompok yang diarahkan untuk menggerakkan pemanfaatan tanaman herbal secara berkelanjutan.

Temulawak yang tumbuh dari tanah lokal pada akhirnya diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas. Tanaman tersebut menjadi titik awal untuk mempertemukan pengetahuan, keterampilan, pemberdayaan perempuan, edukasi kesehatan keluarga, pemanfaatan bahan lokal, dan peluang pengembangan ekonomi kreatif. (*)

Baca Juga

Tak Hanya Paru-paru, Polusi Udara Bisa Berdampak ke Jantung dan Otak
Tak Hanya Paru-paru, Polusi Udara Bisa Berdampak ke Jantung dan Otak
Saat Politik Masuk FYP: Gen Z dan Gen Alpha Jadi Sasaran Algoritma
Saat Politik Masuk FYP: Gen Z dan Gen Alpha Jadi Sasaran Algoritma
Tak Selalu Jadi Musuh, Mycovirus Buka Paradigma Baru tentang Virus
Tak Selalu Jadi Musuh, Mycovirus Buka Paradigma Baru tentang Virus
Efisiensi TKD, Akademisi Unand Dorong Daerah Gali PAD dan Optimalkan Aset
Efisiensi TKD, Akademisi Unand Dorong Daerah Gali PAD dan Optimalkan Aset
Mengapa Kota Wisata Perlu Punya Cerita? Ini Pandangan Dosen Unand
Mengapa Kota Wisata Perlu Punya Cerita? Ini Pandangan Dosen Unand
Wali Kota Padang Fadly Amran menjadi pemateri dalam kegiatan Indonesia Punya Kamu Unand–Garuda TV di Auditorium Universitas Andalas.
Fadly Amran Bicara Kepemimpinan di Unand: Organisasi jadi Tempat Mendewasakan Diri dan Belajar Amanah