Sumbardaily.com, Solok – Upaya perluasan akses perlindungan sosial ketenagakerjaan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta Pekerja Bukan Penerima Upah (BPU) mendapat dorongan signifikan melalui kemitraan strategis antara BPJS Ketenagakerjaan Cabang Solok dengan jaringan agen BRIlink. Kolaborasi ini dirancang khusus untuk menjangkau segmen pekerja informal yang selama ini sulit terjamah layanan jaminan sosial konvensional.
Kepala BRI Cabang Solok, Fajar Masruri Candra Setiawan, menegaskan bahwa jaringan agen BRIlink merupakan terobosan dalam menghadirkan layanan keuangan sekaligus memperkenalkan program jaminan sosial kepada masyarakat pekerja informal. Inovasi ini menjadi solusi strategis dalam mengatasi tantangan geografis dan aksesibilitas yang selama ini menjadi hambatan.
"Jaringan agen BRIlink yang telah menjangkau lebih dari 80 persen wilayah desa di Indonesia menjadikannya sebagai garda terdepan dalam mendorong ekspansi perlindungan sosial yang lebih komprehensif," ungkap Fajar dalam keterangannya di Solok dikutip Kamis (5/6/2025).
Transformasi Akses Jaminan Sosial
Melalui platform agen BRIlink, proses pendaftaran kepesertaan jaminan sosial ketenagakerjaan mengalami transformasi signifikan. Pekerja informal kini dapat melakukan registrasi dengan lebih mudah dan efisien, tanpa harus menghadapi kendala birokrasi yang rumit atau jarak tempuh yang jauh ke kantor layanan.
Fajar menjelaskan bahwa inisiatif ini sejalan dengan misi Bank BRI dalam pemberdayaan masyarakat, khususnya segmen UMKM dan pekerja informal yang membutuhkan perlindungan sosial komprehensif. Kolaborasi dengan BPJS Ketenagakerjaan memastikan semakin banyak lapisan masyarakat yang memperoleh jaring pengaman sosial dari berbagai risiko pekerjaan.
"Kemitraan dengan BPJS Ketenagakerjaan memungkinkan BRI untuk memastikan bahwa masyarakat memiliki perlindungan yang memadai terhadap risiko-risiko yang mungkin timbul dari aktivitas pekerjaan mereka," tegas Fajar.
Ia menekankan bahwa peran agen BRIlink tidak terbatas pada aspek pendaftaran kepesertaan semata, tetapi juga mencakup fungsi edukatif yang mengubah paradigma masyarakat terhadap pentingnya perlindungan sosial. Pendekatan proaktif dan edukatif ini terbukti efektif dalam menggerakkan perubahan sosial yang bermakna.
Strategi Jemput Bola dan Edukasi Komprehensif
Kepala BPJS Ketenagakerjaan Solok, Maulana Anshari Siregar, menguraikan pendekatan strategis yang diterapkan dalam program kolaborasi ini. Strategi jemput bola menjadi kunci utama dalam menjangkau segmen pekerja informal yang tersebar di berbagai wilayah.
Program ini melibatkan edukasi intensif dan kolaborasi erat dengan perangkat desa untuk memberikan pemahaman mendalam tentang manfaat program jaminan sosial. Fokus edukasi mencakup tiga pilar utama program BPJS Ketenagakerjaan: Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), dan Jaminan Hari Tua (JHT).
"Kami menerapkan strategi pendekatan langsung dengan mengedukasi masyarakat dan berkolaborasi dengan perangkat desa untuk memberikan pemahaman komprehensif tentang manfaat ketiga program jaminan tersebut," jelasnya.
Manfaat Komprehensif Program Jaminan
Maulana menjelaskan bahwa program jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan memberikan perlindungan menyeluruh bagi pekerja BPU. Program JKK menyediakan jaminan biaya pengobatan dan santunan bagi pekerja yang mengalami kecelakaan dalam menjalankan tugasnya.
Sementara itu, program JKM memberikan santunan finansial bagi keluarga pekerja yang mengalami musibah kematian, sedangkan JHT menyediakan dana pensiun yang memungkinkan pekerja memiliki jaminan finansial ketika memasuki masa tidak produktif.
"Ketiga program jaminan ini memberikan perlindungan holistik yang sangat dibutuhkan oleh pekerja informal, mulai dari risiko kecelakaan kerja, perlindungan keluarga, hingga jaminan hari tua," urai Maulana.
Pencapaian dan Target Ke Depan
Kolaborasi antara BRI dan BPJS Ketenagakerjaan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2024, program ini berhasil mendaftarkan sebanyak 841 orang sebagai peserta jaminan sosial ketenagakerjaan. Pencapaian ini bahkan menghasilkan satu pemenang program dari Kabupaten Sijunjung, yaitu Ibu Susi Susilawati.
Untuk periode Januari hingga Mei 2025, program telah mencatat penambahan 339 peserta baru. Momentum positif ini memberikan optimisme bahwa target akhir tahun 2025 dapat melampaui pencapaian tahun sebelumnya.
"Capaian 841 peserta pada 2024 dan 339 peserta di awal 2025 menunjukkan antusiasme masyarakat yang tinggi. Kami optimis angka ini akan terus meningkat signifikan hingga akhir Desember 2025," ungkap Maulana.
Percepatan Melalui Program Joint Marketing
Kedua institusi terus mempercepat proses pendaftaran kepesertaan melalui program joint marketing yang menempatkan agen BRIlink sebagai ujung tombak. Strategi ini memungkinkan jangkauan yang lebih luas dan efektif dalam menyasar segmen pekerja informal yang belum terlindungi.
Program joint marketing dirancang untuk memaksimalkan potensi jaringan BRIlink yang telah tersebar luas, sehingga dapat menjangkau daerah-daerah terpencil yang sebelumnya sulit dijangkau oleh layanan jaminan sosial konvensional.
"Inisiatif joint marketing ini bertujuan untuk memastikan semakin banyak pekerja informal yang memperoleh perlindungan jaminan sosial yang layak," tegas Maulana.
Harapan Dukungan Multipihak
Maulana menyampaikan harapannya akan dukungan dan partisipasi aktif dari berbagai pihak dalam memperluas cakupan program jaminan sosial ketenagakerjaan. Dukungan multipihak dianggap krusial untuk mencapai target universal coverage bagi seluruh pekerja informal.
Ia mengajak seluruh stakeholder untuk berpartisipasi dalam upaya perluasan jangkauan program jaminan sosial, khususnya bagi pekerja informal yang belum terdaftar dan terlindungi dalam sistem BPJS Ketenagakerjaan.
Kolaborasi strategis antara BPJS Ketenagakerjaan Solok dan agen BRIlink ini diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi di daerah lain, sehingga cita-cita perlindungan sosial menyeluruh bagi seluruh pekerja Indonesia dapat terwujud. (red)















