Sumbardaily.com, Padang – Rangkaian bencana hidrometeorologi yang melanda Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) meninggalkan dampak yang luas dan mendalam. Tidak hanya menelan ratusan korban jiwa, bencana tersebut juga memicu kerusakan infrastruktur skala besar serta mengganggu kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di berbagai daerah.
Berdasarkan laporan resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar per 18 Desember 2025 pukul 22.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia akibat bencana hidrometeorologi tercatat mencapai 246 orang. Dari angka tersebut, 214 korban telah berhasil diidentifikasi, sementara 32 orang lainnya masih dalam proses identifikasi.
Selain korban meninggal, BPBD Sumbar mencatat 384 orang mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan yang beragam. Sementara itu, 84 orang dilaporkan hilang dan hingga kini masih dalam upaya pencarian. Dampak bencana ini menyebar luas, menjangkau 16 kabupaten/kota dan 57 kecamatan di Sumatera Barat.
Dari sisi kependudukan, bencana hidrometeorologi berdampak langsung terhadap 296.307 warga. Sebanyak 9.078 orang terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman akibat kerusakan rumah maupun ancaman lanjutan dari kondisi cuaca ekstrem.
Sektor permukiman menjadi salah satu yang paling terdampak, dengan 1.876 rumah mengalami kerusakan berat, 2.963 rumah rusak sedang, dan 6.947 rumah rusak ringan. Selain itu, 41.754 rumah dilaporkan terendam banjir, serta 791 rumah dinyatakan hilang.
Kerusakan parah juga terjadi pada sarana dan prasarana vital yang menopang aktivitas masyarakat. BPBD Sumbar mencatat kerusakan pada 170 ruas jalan, 164 jembatan, serta 147 fasilitas telekomunikasi. Infrastruktur pendukung lainnya yang terdampak meliputi 43 jaringan irigasi, 74 sarana air bersih, 104 bendung, dan 62 fasilitas kelistrikan.
Tidak hanya itu, sektor pelayanan dasar ikut terdampak akibat bencana hidrometeorologi. Kerusakan tercatat pada 153 tempat ibadah, 45 fasilitas kesehatan, 430 sekolah, serta 28 kantor pemerintahan, yang berpotensi mengganggu layanan publik dan aktivitas pendidikan masyarakat.
Dampak bencana juga merembet ke sektor sosial ekonomi, khususnya pada bidang pertanian, perikanan, dan peternakan. Data BPBD Sumbar menunjukkan kerusakan pada 7.657 hektare sawah, 8.306 hektare lahan, 1.728 hektare kebun, 46 hektare hutan, serta 10.486 kolam. Pada sektor peternakan, tercatat kematian atau kehilangan 42.801 ekor ayam, 178 kambing, 334 sapi, 36 kerbau, 6.440 itik, dan 1.000 burung puyuh.
Akumulasi dari seluruh dampak tersebut membuat taksiran kerugian akibat bencana hidrometeorologi di Sumbar mencapai Rp5.221.039.123.307. (fru)
















