Bofet Garuda: Warisan Kuliner Legendaris yang Bangkit Lagi di Pasar Raya Padang

Bofet Garuda: Warisan Kuliner Legendaris yang Bangkit Lagi di Pasar Raya Padang

Fikru, cucu dari pendiri Bofet Garuda saat memperlihatkan salah satu makanan legendaris Bofet Garuda di Pasar Raya Padang Fase VII. (Foto: Kominfo Padang)

Sumbardaily.com, Padang – Pasar Raya Padang tidak sekadar pusat transaksi ekonomi; di balik hiruk-pikuk pedagang dan pembeli, tersimpan jejak kuliner yang telah menjadi bagian dari kenangan kolektif warga kota.

Di antara deretan toko dan kios, nama Bofet Garuda pernah menjadi simbol cita rasa dan nostalgia masa lampau. Kini, setelah sempat tenggelam lebih dari satu dekade, warung legendaris itu kembali membuka lembaran baru di lokasi yang sama—namun dengan semangat berbeda.

Jejak dari Masa Keemasan

Mereka yang tumbuh di era 1980-an hingga awal 2000-an tentu mengenal nama Bofet Garuda. Terletak di bawah Gedung Fase VII Pasar Raya Padang, tempat ini dulunya menjadi persinggahan wajib bagi para pembeli, terutama kaum ibu yang selesai “manuka”—berbelanja kebutuhan sehari-hari di pasar terbesar di Sumatera Barat itu.

Di balik etalase sederhana, aroma Soto Padang yang gurih berpadu dengan wangi gado-gado, bistik kentang, serta mie dan nasi goreng yang mengepul dari dapur kecil di belakang.

Sajian pelengkapnya, es tebak yang manis dan dingin, menjadi penutup sempurna di tengah cuaca panas Kota Padang. Dengan harga yang “manenggang” atau bersahabat di kantong, Bofet Garuda menjadi tempat istirahat yang nyaman bagi siapa pun yang lelah berkeliling pasar.

Suasana selalu ramai. Meja-meja penuh oleh para pelanggan yang datang silih berganti. Di masa jayanya, Bofet Garuda bukan sekadar tempat makan—ia adalah ruang sosial tempat orang berbincang, berbagi kabar, dan menikmati kebersamaan dalam kesederhanaan.

Tumbang oleh Gempa dan Waktu

Namun, masa keemasan itu tidak berlangsung selamanya. Gempa besar yang mengguncang Kota Padang pada 2009 mengubah segalanya. Gedung Fase VII rusak berat—atap bocor, lantai retak, dan sebagian struktur nyaris runtuh. Para pedagang perlahan meninggalkan tempat itu, begitu pula para pelanggan setia Bofet Garuda yang kini lebih memilih warung-warung di luar area pasar.

Suasana Fase VII berubah muram. Aktivitas perdagangan menurun tajam, dan Bofet Garuda kehilangan denyut kehidupannya. Hingga akhirnya, sekitar tahun 2019, setelah bertahan dalam sepi cukup lama, warung yang pernah menjadi ikon kuliner Pasar Raya itu menutup pintu untuk sementara waktu.

Kelahiran Kembali Sang Legenda

Waktu berlalu. Fase VII direvitalisasi oleh Pemerintah Kota Padang dengan dukungan dana pusat. Gedung yang dulu rusak kini berdiri megah, modern, dan lebih tertata. Dari sinilah babak baru dimulai. Setelah lima tahun vakum, Bofet Garuda kembali hadir, membawa semangat dan cita rasa lama dalam wajah yang lebih segar.

“Setelah lima tahun vakum, kini Bofet Garuda hadir kembali,” ujar Fikru, cucu dari pendiri Bofet Garuda, pada Sabtu (18/10/2025).

Fikru, yang baru berusia 18 tahun, adalah generasi ketiga penerus usaha keluarga itu. Meski masih muda, ia memikul tanggung jawab besar untuk melanjutkan warisan kuliner yang telah dikenal lintas generasi.

“Selama lima tahun terakhir, orangtua mengembangkan usaha di Jakarta. Kini kami pulang kampung untuk melanjutkan kembali tradisi ini,” ujarnya.

Kini, Bofet Garuda tidak lagi berada di lantai dasar seperti dulu. Lokasinya berpindah ke lantai dua Gedung Fase VII, mengikuti kebijakan pemerintah kota untuk menempatkan pedagang kuliner di area atas guna mencegah risiko kebakaran. Meski tempat berubah, aroma dan cita rasanya tetap sama.

Resep yang Tak Berubah, Rasa yang Tetap Sama

“Resepnya tidak berubah, karena yang memasak masih orang yang sama—Vanni, generasi kedua keluarga kami,” tutur Fikru sambil tersenyum. Vanni, sang ibu, kini lebih banyak mengatur produksi dari rumah, sementara Fikru dan tim mudanya mengelola penyajian di lokasi baru.

Harganya tetap terjangkau. Soto Padang dijual Rp20 ribu per porsi, sementara gado-gado, nasi goreng, dan menu lainnya Rp15 ribu. Minuman segar seperti es tebak dibanderol Rp12 ribu. Dengan harga yang bersahabat dan cita rasa yang konsisten, tak heran jika para pelanggan lama kembali berdatangan.

“Banyak yang dulu mencari-cari keberadaan Bofet Garuda. Sekarang kami hadir lagi dengan kekuatan baru,” tambah Fikru.

Nostalgia di Tengah Pasar yang Berubah

Kembalinya Bofet Garuda bukan sekadar membuka usaha lama, melainkan menghidupkan kembali kenangan kolektif warga Padang. Bagi mereka yang pernah menghabiskan masa muda di Pasar Raya, mencicipi Soto Padang di tempat ini seperti menyusuri lorong waktu—menemukan kembali rasa yang sama, di tempat yang telah banyak berubah.

Bofet Garuda kini menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Di tengah modernisasi pasar dan arus kuliner baru, keberadaannya seolah mengingatkan bahwa cita rasa klasik selalu punya tempat di hati masyarakat.

Bagi siapa pun yang rindu suasana Pasar Raya tempo dulu, singgahlah ke lantai dua Gedung Fase VII. Di sana, aroma Soto Garuda yang legendaris masih mengepul, seolah tak pernah padam oleh waktu. (*)

Baca Juga

Nasib Tragis Pemulung di Padang, Hanyut Saat Bekerja dan Ditemukan Meninggal
Nasib Tragis Pemulung di Padang, Hanyut Saat Bekerja dan Ditemukan Meninggal
7.000 Hektare Sawah Terdampak di Sumbar, 62 Persen Sudah Direhabilitasi
7.000 Hektare Sawah Terdampak di Sumbar, 62 Persen Sudah Direhabilitasi
57 Kafilah Sumbar Lolos Seleksi, Target Juara di MTQ Nasional Ke-XXXI
57 Kafilah Sumbar Lolos Seleksi, Target Juara di MTQ Nasional Ke-XXXI
Tak Puas Meski Menang Besar, Pelatih PSP Padang Ungkap Masalah Permainan
Tak Puas Meski Menang Besar, Pelatih PSP Padang Ungkap Masalah Permainan
Kasus Bayi Meninggal, RSUP M Djamil Padang Siapkan Bantuan Hukum untuk Direksi hingga Dokter
Kasus Bayi Meninggal, RSUP M Djamil Padang Siapkan Bantuan Hukum untuk Direksi hingga Dokter
Tumpukan Sampah Menggunung, Warga Desak Hentikan Kiriman dari Bukittinggi ke TPA Air Dingin Padang
Tumpukan Sampah Menggunung, Warga Desak Hentikan Kiriman dari Bukittinggi ke TPA Air Dingin Padang