Sumbardaily.com - Sumatera Barat masih berpeluang mengalami hujan dengan intensitas sedang dalam beberapa hari ke depan meski fenomena El Nino terus menguat dan musim kemarau semakin meluas di Indonesia. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena Sumbar tetap masuk dalam daftar wilayah yang berpotensi diguyur hujan di tengah dominasi cuaca kering.
Dikutip Senin (20/7/2026), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut perkembangan El Nino telah memengaruhi kondisi atmosfer Indonesia dengan kecenderungan menurunkan curah hujan di banyak wilayah. Namun, sejumlah faktor atmosfer masih memungkinkan terbentuknya awan hujan di beberapa daerah, termasuk Sumatera Barat.
BMKG mencatat pada Dasarian I Juli 2026, sebagian besar wilayah Indonesia didominasi curah hujan rendah yang mencapai 72,38 persen. Sementara itu, curah hujan kategori menengah mencapai 25,99 persen, kategori tinggi 1,58 persen, dan sangat tinggi hanya 0,05 persen.
Berdasarkan sifat hujan, sebanyak 70,08 persen wilayah Indonesia mengalami kondisi bawah normal. Sebanyak 12,86 persen berada pada kategori normal, 8,29 persen atas normal, dan 8,78 persen berada pada kategori jauh di atas normal.
Kondisi tersebut sejalan dengan perkembangan musim kemarau yang kini telah berlangsung di 423 Zona Musim atau sekitar 60,5 persen wilayah Indonesia. Musim kemarau mendominasi sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatra bagian selatan, serta sejumlah wilayah di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
BMKG juga mengungkapkan dinamika iklim global menunjukkan fenomena El Nino telah aktif. Hal itu ditandai dengan nilai anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 pada tingkat dasarian yang mencapai +1,88. Kondisi tersebut berpotensi memperkuat kecenderungan berkurangnya curah hujan di berbagai wilayah Indonesia.
Meski demikian, hujan masih tercatat terjadi di sejumlah daerah pada 13 hingga 14 Juli 2026. Salah satunya berada di Kota Padang, Sumatera Barat, dengan curah hujan mencapai 55,5 milimeter per hari.
Selain Kota Padang, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat juga tercatat di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, sebesar 75,0 milimeter per hari, Kota Singkawang, Kalimantan Barat, sebesar 44,0 milimeter per hari, dan Kota Medan, Sumatera Utara, sebesar 21,0 milimeter per hari.
BMKG menjelaskan, hujan tersebut dipengaruhi aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) dan Gelombang Kelvin yang aktif melintasi sebagian Sumatra, Kalimantan, hingga Sulawesi pada periode tersebut.
Memasuki Dasarian III Juli 2026, BMKG memperkirakan curah hujan rendah masih mendominasi Indonesia dengan cakupan sekitar 76,54 persen wilayah. Curah hujan kategori menengah diperkirakan mencapai 23,36 persen, sedangkan kategori tinggi hanya sekitar 0,09 persen.
Wilayah yang diprakirakan mengalami curah hujan rendah meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta sebagian Papua.
BMKG juga menyebut kondisi iklim global masih cenderung mengurangi peluang pembentukan hujan. Indeks Nino3.4 secara mingguan tercatat sebesar +1,47, sedangkan nilai 30-days running average Southern Oscillation Index (SOI) berada di angka -27,4.
Kedua indikator tersebut terus menunjukkan peningkatan signifikan sejak pertengahan Mei dan diperkirakan akan berkembang menjadi El Nino kuat sepanjang 2026.
Walaupun demikian, aktivitas MJO diprakirakan masih aktif di Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara sehingga berpotensi meningkatkan peluang hujan di wilayah tersebut.
Selain itu, Gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial diperkirakan aktif di Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku Utara, hingga Samudra Pasifik utara Papua.
BMKG menambahkan, potensi pembentukan belokan angin, daerah konvergensi, serta suhu muka laut yang masih relatif hangat turut mendukung peluang terbentuknya awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Untuk periode 17 hingga 19 Juli 2026, BMKG memperkirakan cuaca di Indonesia didominasi kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Namun, hujan dengan intensitas sedang perlu diwaspadai di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Sumatra Selatan, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Pegunungan, dan Papua.
Pada periode tersebut, BMKG tidak menetapkan wilayah berstatus Siaga untuk hujan lebat hingga sangat lebat. Sementara potensi angin kencang diperkirakan terjadi di Gorontalo, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Maluku Utara, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, dan Papua Barat.
Selanjutnya pada periode 20 hingga 23 Juli 2026, Sumatera Barat kembali masuk dalam wilayah yang diperkirakan berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang bersama Aceh, Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, Sumatra Selatan, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Barat, Papua Pegunungan, dan Papua.
Untuk periode tersebut, BMKG juga tidak menetapkan wilayah dengan status Siaga hujan lebat hingga sangat lebat. Potensi angin kencang diprakirakan terjadi di Banten dan Jawa Barat.
BMKG mengimbau masyarakat tetap mewaspadai dampak musim kemarau yang semakin meluas. Masyarakat diminta menggunakan pelindung atau tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan serta menjaga kecukupan cairan tubuh guna menghindari dehidrasi dan kelelahan akibat cuaca panas.
BMKG juga mengingatkan masyarakat bersama pemerintah daerah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap munculnya titik panas serta potensi kebakaran hutan dan lahan. Masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran untuk membuka lahan, membersihkan lahan, maupun membakar sampah, terutama di kawasan gambut, semak belukar, hutan, dan lahan kering. Apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada pihak berwenang agar dapat ditangani sejak dini.
"Meskipun musim kemarau semakin dominan, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi secara lokal."
BMKG juga mengingatkan masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk tetap mewaspadai potensi pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan, serta sambaran petir. Masyarakat diminta menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, maupun bangunan yang rapuh ketika cuaca buruk terjadi.
"Masyarakat diharapkan terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini resmi melalui laman http://www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, dan media sosial @infobmkg, serta melakukan langkah antisipatif untuk mengurangi risiko cuaca ekstrem, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan."
Kata kunci: El Nino, Sumatera Barat, BMKG, cuaca Sumbar, hujan Sumbar, musim kemarau, prakiraan cuaca, potensi hujan, cuaca Indonesia, BMKG Sumbar. (*)
















