Sumbardaily.com - BRIN menyelesaikan penelitian kolaboratif mengenai pelindungan Situs Benteng VOC dan Dermaga Kona Pulau Cingkuak serta Bangkai Kapal M.V. Boelongan di Teluk Mandeh, Kabupaten Pesisir Selatan.
Hasil riset tersebut mengungkap berbagai ancaman terhadap situs bersejarah sekaligus potensi besar yang dimiliki kawasan tersebut sebagai warisan budaya maritim dan ekosistem laut yang bernilai tinggi.
Penelitian itu dilaksanakan bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta, Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, serta Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III.
Data ilmiah yang dihasilkan menjadi landasan penyusunan strategi konservasi warisan budaya maritim berbasis bukti (evidence-based policy) yang telah dilaksanakan sejak Juni 2026.
Riset tersebut memperoleh pendanaan melalui Rumah Program Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR ARBASTRA) BRIN Batch I dengan tema Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan.
Tim peneliti terdiri atas Dr. Orfi Johan, peneliti BRIN sekaligus alumni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta, bersama Dr. Harfiandri Damanhuri, S.Pi., M.Sc, dosen Program Studi Magister Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Kelautan Universitas Bung Hatta.
Dr. Harfiandri Damanhuri menjelaskan Pulau Cingkuak memiliki nilai penting karena menyimpan berbagai tinggalan sejarah, mulai dari Benteng VOC, dermaga kuno hingga loji dagang pertama VOC di pantai barat Sumatra. Sementara itu, Bangkai Kapal M.V. Boelongan di Teluk Mandeh merupakan salah satu peninggalan arkeologi bawah laut yang mempunyai nilai sejarah sekaligus nilai ekologis.
"Secara ilmiah, kedua situs tersebut merupakan laboratorium alam yang merekam sejarah perdagangan, pelayaran, dinamika pesisir, serta interaksi manusia dengan lingkungan laut selama ratusan tahun. Informasi tersebut sangat penting untuk merekonstruksi sejarah maritim Indonesia sekaligus mendukung pengelolaan kawasan pesisir secara berkelanjutan," ujar Dr. Harfiandri Damanhuri, dilansir laman UBH Jumat (31/7/2026).
Berdasarkan hasil penelitian, tim menemukan bahwa perubahan iklim, abrasi pantai, aktivitas kegempaan, serta pelapukan alami menjadi ancaman utama terhadap struktur Benteng VOC di Pulau Cingkuak. Kondisi tersebut dinilai perlu segera ditangani melalui langkah mitigasi agar kerusakan yang terjadi tidak semakin meluas.
Menurut Harfiandri, apabila upaya mitigasi tidak segera dilakukan, kerusakan yang terus berlangsung berpotensi menghilangkan data arkeologi yang tidak dapat dipulihkan kembali. Oleh sebab itu, pendekatan konservasi berbasis penelitian dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan situs tersebut.
Penelitian juga mengungkap kondisi Bangkai Kapal M.V. Boelongan yang berada di Teluk Mandeh. Sebagian struktur kapal diketahui telah tertutup sedimen pada kedalaman sekitar 16 hingga 25 meter.
Meski demikian, hasil penelitian menunjukkan bangkai kapal tersebut kini berkembang menjadi habitat bagi terumbu karang, karang lunak, dan berbagai jenis ikan karang. Kondisi tersebut memperlihatkan tingginya nilai ekologis kawasan selain nilai sejarah yang dikandungnya.
"Pada Situs Bangkai Kapal M.V. Boelongan, sebagian struktur kapal telah tertutup sedimen di kedalaman sekitar 16–25 meter. Namun, penelitian menemukan bahwa bangkai kapal kini berkembang menjadi habitat terumbu karang, karang lunak, serta berbagai jenis ikan karang yang menunjukkan tingginya nilai ekologis kawasan tersebut," jelas Harfiandri Damanhuri.
Ia menambahkan, temuan tersebut membuktikan bahwa warisan budaya bawah laut memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar peninggalan sejarah. Keberadaannya juga berperan sebagai ekosistem yang menopang keanekaragaman hayati laut.
"Temuan ini menunjukkan warisan budaya bawah laut tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga berfungsi sebagai ekosistem yang mendukung keanekaragaman hayati laut. Pendekatan pelestarian harus mengintegrasikan aspek arkeologi, oseanografi, ekologi, dan mitigasi perubahan iklim dalam satu sistem pengelolaan," tambahnya.
Berdasarkan hasil kajian tersebut, tim peneliti merekomendasikan pengembangan kawasan Pulau Cingkuak dan Teluk Mandeh menjadi Marine Eco Archaeological Park. Konsep tersebut dirancang dengan menggabungkan kegiatan konservasi, penelitian, pendidikan, serta pariwisata berkelanjutan dalam satu kawasan terpadu.
Model pengelolaan tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir tanpa mengurangi upaya pelestarian warisan budaya maupun menjaga kelestarian lingkungan laut.
Selain itu, hasil penelitian diharapkan menjadi referensi bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan pelindungan serta pemanfaatan situs maritim secara berkelanjutan. Pendekatan berbasis riset dipandang penting agar setiap kebijakan konservasi memiliki dasar ilmiah yang kuat sekaligus mampu menjawab tantangan perubahan lingkungan pada masa mendatang.
Keterlibatan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta dalam penelitian ini juga memperkuat komitmen perguruan tinggi dalam mendukung SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDGs 14 mengenai Ekosistem Laut, serta SDGs 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Kolaborasi tersebut juga mendukung Indikator Kinerja Utama (IKU) 5 melalui pelaksanaan riset yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, pelestarian lingkungan, dan pengembangan ilmu pengetahuan. (*)















