Sumbardaily.com, Padang - Universitas Andalas (Unand) kembali mencatatkan peran strategisnya di tingkat internasional setelah dipercaya menjadi salah satu perguruan tinggi penyelenggara Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) tahun 2026.
Program yang dikelola Pemerintah Republik Indonesia ini menjadi bagian dari diplomasi pendidikan untuk memperkuat pembangunan sumber daya manusia di negara-negara berkembang melalui jalur pendidikan tinggi.
Rektor Unand, Efa Yonnedi mengatakan, Beasiswa KNB merupakan program yang secara khusus ditujukan bagi warga negara asing dari negara berkembang untuk menempuh pendidikan di Indonesia. Program ini mencakup jenjang pendidikan sarjana (S-1), magister (S-2) dan doktoral (S-3), dengan pembiayaan penuh dari pemerintah.
“Program beasiswa kemitraan negara berkembang yang ditawarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia kepada negara berkembang untuk belajar ke Indonesia," katanya, Senin (2/2/2026).
Kepercayaan yang diberikan kepada Unand, menurut Efa Yonnedi, bukanlah proses instan. Perguruan tinggi penyelenggara harus memenuhi sejumlah persyaratan yang ketat, mulai dari kesiapan kelembagaan hingga dukungan fasilitas akademik dan non-akademik.
“Perguruan tinggi penyelenggaranya, harus memenuhi syarat dan ketentuan berlaku, misalnya memiliki kantor urusan Internasional, memiliki asrama, memiliki Pusat Bahasa Indonesia untuk penutur asing, nah pesertanya dari negara-negara berkembang untuk melanjutkan pendidikan S-1, S-2 dan S-3 di Indonesia," katanya.
Ia menegaskan, pada tahun 2026 ini Unand resmi ditunjuk oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendikti Saintek) sebagai salah satu kampus yang akan menerima mahasiswa internasional penerima Beasiswa KNB.
“Nah, untuk perguruan tinggi di Indonesia itu diseleksi, tahun ini Unand dipercaya oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendikti Saintek) untuk menyelenggarakan perkuliahan bagi mahasiswa dari negara berkembang melanjutkan pendidikan akademiknya di Unand. Seluruh beasiswanya ditanggung oleh Pemerintah Republik Indonesia," ucap Efa.
Namun demikian, hingga saat ini Unand belum menerima informasi terkait jumlah kuota mahasiswa yang akan diterima.
Seleksi sepenuhnya dilakukan berdasarkan prinsip meritokrasi, dengan mempertimbangkan kualitas dan kemampuan akademik para pelamar dari berbagai negara.
“Kuotanya belum kami terima, tapi berbasiskan merit, artinya akan melihat pelamar dari negara-negara tersebut, kemudian diseleksi berbasiskan kemampuannya," katanya.
Lebih lanjut, Efa Yonnedi menjelaskan bahwa kelulusan peserta juga sangat ditentukan oleh kesesuaian dengan program studi yang dipilih oleh masing-masing pelamar.
“Nanti, bisa diterima atau tidak di program studi yang dia apply. Jadi sampai sekarang kami belum menerima jatah ataupun kuota kita," katanya.
Menurutnya, keterlibatan Unand dalam program Beasiswa KNB bukan semata-mata soal penerimaan mahasiswa asing, tetapi menjadi bagian dari strategi besar Pemerintah Indonesia dalam membangun kapasitas SDM negara berkembang.
“Tapi ini tentu menjadi bagian dari program strategis Pemerintah Indonesia untuk membangun Sumber Daya Manusia (SDM) di negara berkembang," kata Rektor Unand.
Beasiswa KNB, katanya, memberikan dukungan pembiayaan secara menyeluruh, mulai dari biaya pendidikan hingga kebutuhan hidup mahasiswa selama menempuh studi di Indonesia.
“Beasiswa itu sampai tamat, full, termasuk biaya hidup, uang kuliah, kemudian tiket pulang pergi, asuransi, termasuk biaya untuk memulai programnya, karena mereka akan mendapatkan training untuk belajar bahasa Indonesia terlebih dahulu (sebelum memulai aktivitas perkuliahan)," katanya.
Ia menegaskan bahwa program ini tidak diperuntukkan bagi warga negara Indonesia, melainkan secara khusus ditujukan untuk warga negara asing dari negara berkembang.
"Program ini khusus untuk negara berkembang yang ingin rakyatnya belajar di Indonesia, bukan untuk sesama rakyat Indonesia," katanya.
Untuk Warga Negara Indonesia (WNI) yang ingin menempuh pendidikan di luar negeri, Efa Yonnedi menyebut pemerintah telah menyediakan berbagai skema beasiswa lain.
“Kalau untuk WNI yang belajar ke luar, kan sudah banyak beasiswa yang kita miliki seperti dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), beasiswa dari masing-masing kementerian juga ada," ucap Efa.
Saat ini, program Beasiswa KNB telah resmi dibuka dan dapat diakses oleh calon pelamar dari berbagai negara. Para peserta nantinya akan memilih program studi yang tersedia di universitas penyelenggara, termasuk Unand serta sejumlah perguruan tinggi negeri lainnya di Indonesia.
“Program beasiswa untuk negara berkembang sudah mulai berjalan dan ditawarkan untuk mereka apply dan kandidat tentu akan memilih prodi yang ada di Universitas penyelenggara, salah satunya kami Unand, termasuk PTN yang ada di Pulau Jawa. Namun saya kurang tahu datanya," tuturnya. (adl)
















