Sumbardaily.com, Padang – Nama Assaat kembali mengemuka dalam diskursus sejarah nasional. Tokoh asal Banuhampu, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar) itu diusulkan untuk dianugerahi gelar Pahlawan Nasional atas perannya yang krusial dalam menjaga keberlangsungan Republik Indonesia pada masa paling genting, terutama ketika ia menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia Sementara pada era Republik Indonesia Serikat (RIS).
Usulan tersebut disampaikan oleh Ikatan Keluarga Banuhampu (IKB) Pekanbaru dan mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar). Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah menilai, kontribusi Assaat dalam sejarah perjuangan bangsa memiliki bobot strategis yang selama ini belum sepenuhnya mendapatkan pengakuan negara.
“Assaat adalah pejuang kemerdekaan sekaligus tokoh Minangkabau yang memegang peran sangat penting dalam menjaga eksistensi Republik Indonesia. Pada masa Republik Indonesia Serikat, beliau dipercaya menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia Sementara,” ujar Mahyeldi di Istana Gubernuran, dikutip Kamis (22/1/2026).
Mahyeldi menjelaskan, posisi Assaat menjadi sangat vital pada masa transisi pemerintahan pasca Agresi Militer Belanda II. Ketika Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditahan oleh Belanda, keberadaan pemerintahan Republik Indonesia berada dalam situasi yang sangat rawan.
Menurut Mahyeldi, kepemimpinan Assaat pada periode tersebut menjadi penyangga utama agar Republik Indonesia tetap berdiri dan tidak kehilangan legitimasi di tengah tekanan politik dan militer. Oleh karena itu, pengusulan gelar Pahlawan Nasional dinilai sebagai langkah yang relevan untuk meluruskan sekaligus melengkapi narasi sejarah bangsa.
Ia juga menyinggung peran Sumbar sebagai daerah yang melahirkan banyak tokoh besar dalam sejarah Indonesia. Bahkan, secara nasional, jumlah Pahlawan Nasional yang berasal dari Sumbar tergolong tinggi dibandingkan provinsi lain.
“Dari Ranah Minang lahir tokoh-tokoh besar seperti Mohammad Hatta, Tan Malaka, Sutan Syahrir, Haji Agus Salim, Tuanku Imam Bonjol, Rasuna Said, Bagindo Azizchan, hingga Usmar Ismail. Ini mencerminkan kuatnya tradisi perjuangan, integritas, dan semangat kebangsaan masyarakat Minangkabau,” kata Mahyeldi.
Sejalan dengan itu, Mahyeldi mendorong IKB Pekanbaru untuk segera melengkapi seluruh dokumen dan persyaratan administratif sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Pemprov Sumbar, katanya, siap memberikan dukungan dan pendampingan agar proses pengusulan dapat berjalan lancar hingga ke tingkat pusat.
“Pemprov Sumbar berkomitmen mendukung dan mengawal pengusulan tokoh-tokoh pejuang daerah untuk mendapatkan pengakuan sebagai Pahlawan Nasional,” tegasnya.
Ketua IKB Pekanbaru, Muhammad Hamdi, menilai bahwa peran Assaat dalam sejarah nasional belum sepenuhnya dikenal publik. Padahal, secara faktual, Assaat memegang posisi yang sangat menentukan pada masa kekosongan pemerintahan Republik Indonesia.
“Dalam kondisi ketika Bung Karno dan Bung Hatta ditahan, kepemimpinan Assaat menjadi penopang utama eksistensi Republik Indonesia. Tanpa peran beliau, tidak tertutup kemungkinan Republik Indonesia kembali jatuh ke tangan Belanda,” ujar Hamdi.
Hamdi menegaskan, pengusulan gelar Pahlawan Nasional ini bukan semata-mata soal gelar, melainkan bentuk penghormatan negara terhadap jasa besar Assaat dalam menjaga kedaulatan dan kesinambungan Republik Indonesia. Ia menyebut, pengakuan tersebut juga penting untuk memberikan pemahaman sejarah yang lebih utuh kepada generasi muda.
Diketahui, Assaat lahir di Banuhampu, Kabupaten Agam, pada 18 September 1904. Ia menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia Sementara pada periode 27 Desember 1949 hingga 15 Agustus 1950, dengan pusat pemerintahan berkedudukan di Yogyakarta. Selain kiprahnya di bidang pemerintahan, Assaat juga tercatat sebagai salah satu tokoh pendiri Universitas Gadjah Mada (UGM).
Hamdi menambahkan, IKB Pekanbaru telah membentuk panitia khusus untuk mempersiapkan seluruh kelengkapan administrasi pengusulan, termasuk penyusunan buku biografi Assaat. Sebagai bagian dari proses tersebut, IKB Pekanbaru juga telah melakukan pertemuan dengan Menteri Kebudayaan Fadli Zon guna membahas pengakuan resmi atas jasa-jasa Assaat.
Pertemuan itu turut dihadiri Kepala Dinas Sosial Sumbar, perwakilan Dinas Kebudayaan Sumbar, Ketua Tim IKB H. Akmal Famajra, Wakil Ketua IKB Azhari Syofyan, serta tim penulis biografi Assaat. IKB Pekanbaru berharap, proses pengusulan ini dapat menjadi momentum penting dalam menempatkan Assaat secara layak dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. (red)















