Sumbardaily.com, Tanah Datar – Tradisi Alek Kapalo Banda di Jorong Pincuran Tujuh Nagari Batipuah Baruah, Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar telah memasuki penyelenggaraan ke-124. Ritual tahunan yang menggambarkan rasa syukur masyarakat atas keberadaan sumber mata air ini menjadi bukti kokohnya nilai-nilai gotong royong yang masih terjaga di tengah gempuran modernisasi.
Bupati Tanah Datar, Eka Putra, saat menghadiri acara tersebut pada Sabtu (5/4/2025) di SDN 09 Batipuah Baruah menegaskan bahwa pelestarian tradisi ini mencerminkan kuatnya kohesi sosial di masyarakat.
"Alek Kapalo Banda merupakan tradisi yang sudah ratusan tahun hingga saat ini terus dilakukan. Ini menunjukkan kekompakan dan keharmonisan yang terus terjalin serta semangat kegotong-royongan masyarakat yang tidak pudar tergilas zaman," ungkap Eka.
Eka menekankan pentingnya tradisi ini sebagai benteng moral bagi generasi muda di era digital. Menurutnya, kemajuan teknologi yang pesat membawa tantangan tersendiri dalam upaya pelestarian nilai-nilai lokal dan pembentukan karakter.
"Kemajuan era digital saat ini tentu banyak tantangan bagi kita, karena era digital sangat mudah mempengaruhi generasi muda. Dengan tradisi seperti ini, kita berupaya mengajak anak kemenakan kita peduli dengan warisan budaya," jelasnya.
Eka juga menyoroti peran penting para Niniak Mamak (pemuka adat) dalam mengawasi dan membimbing generasi muda agar tidak terpengaruh dampak negatif era digital. Ia menekankan bahwa generasi muda adalah penerus yang akan menjadi pemimpin di masa depan.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati memaparkan program unggulan Pemerintah Kabupaten Tanah Datar berupa "Satu Rumah Satu Hafiz dan Hafizah" sebagai bagian dari strategi membentuk karakter generasi muda yang tangguh.
"Kita bertekat menjadikan Tanah Datar sebagai kabupaten tahfizh dan melahirkan anak-anak yang berkarakter, cerdas dan tangguh," tegasnya.
Wali Nagari Batipuah Baruah, Mulyadi Bj, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Bupati dalam acara tradisi Alek Kapalo Banda ke-124 tersebut. Ia juga mengucapkan terima kasih atas pembangunan jalan dari Pincuran Tujuh ke Gunung Bungsu yang telah memudahkan akses masyarakat.
Namun, Mulyadi juga menyampaikan harapan agar jalan dari Gunung Rajo menuju Pincuran Tujuh yang sempit dan berkelok dapat diperlebar sehingga kendaraan roda empat yang berpapasan tidak mengalami kesulitan.
Tokoh masyarakat setempat, A. Dt. Jo Labiah, menjelaskan bahwa tradisi Alek Kapalo Banda merupakan wujud rasa syukur masyarakat atas sumber mata air di Jorong Pincuran Tujuh yang menjadi sumber air bersih dan pengairan lahan pertanian.
"Alek Kapalo Banda merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat atas sumber mata air yang ada di Jorong Pincuran Tujuh, sebagai sumber air bersih bagi masyarakat juga untuk mengaliri lahan pertanian," ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, ia juga mengajukan permintaan kepada Pemerintah Daerah untuk membangun gedung serba guna dan menghadirkan jaringan internet di Jorong Pincuran Tujuh yang saat ini masih blank spot.
Tradisi Alek Kapalo Banda yang telah berlangsung selama 124 tahun ini menunjukkan betapa masyarakat Minangkabau, khususnya di Jorong Pincuran Tujuh, masih memegang teguh warisan leluhur. Di tengah arus modernisasi, ritual tahunan ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan antara alam, manusia, dan nilai-nilai tradisional yang menjadi fondasi masyarakat. (red)
















