Sulam Kapalo Samek Padang Pariaman Tembus Eropa, Tampil di Belgia

Sulam Kapalo Samek Padang Pariaman Tembus Eropa, Tampil di Belgia

Sulam Kapalo Samek hadir dalam ICWB 2026 atas undangan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Brussels. Rangkaian kegiatan berlangsung di Antwerp dan Brussel, Belgia. (Foto: Pemkab Padang Pariaman)

Sumbardaily.com - Sulam Kapalo Samek, kerajinan khas Kabupaten Padang Pariaman, melangkah lebih jauh dari sentra perajin di Sumatera Barat. Warisan kriya yang dikerjakan dengan keterampilan tangan secara turun-temurun itu kini tampil di hadapan publik Eropa melalui Indonesia Creative Week Belgium (ICWB) 2026.

Keikutsertaan Sulam Kapalo Samek dalam ajang tersebut bukan sekadar membawa produk kerajinan ke luar negeri. Karya khas Padang Pariaman itu sekaligus diperkenalkan sebagai bagian dari identitas budaya dan potensi ekonomi kreatif daerah kepada masyarakat serta jejaring industri kreatif internasional.

Sulam Kapalo Samek hadir dalam ICWB 2026 atas undangan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Brussels. Rangkaian kegiatan berlangsung di Antwerp dan Brussel, Belgia.

Salah satu agenda utama ICWB 2026 digelar di The Big Hall, Antwerp Central Train Station, Sabtu (3/10/2026). Dalam kegiatan tersebut, berbagai karya kreatif Indonesia diperkenalkan kepada masyarakat Eropa dan jejaring industri kreatif di kawasan tersebut.

Kehadiran Sulam Kapalo Samek menjadi menarik karena kerajinan tersebut tidak hanya ditampilkan dalam bentuk tradisional. Sulaman khas Padang Pariaman justru dibawa masuk ke dunia fesyen melalui sentuhan desain kontemporer.

Kolaborasi itu melibatkan desainer ternama Indonesia, Itang Yunaz. Sulam Kapalo Samek yang selama ini dikenal antara lain melalui produk selendang dikembangkan menjadi bagian dari sejumlah model baju kurung dengan desain yang beragam.

Perubahan bentuk pemanfaatan tersebut membuat sulaman tradisional Padang Pariaman memiliki ruang baru untuk berkembang. Teknik kriya yang diwariskan antargenerasi tetap dipertahankan, sementara penerapannya disesuaikan dengan kebutuhan desain fesyen masa kini.

Dengan pendekatan tersebut, Sulam Kapalo Samek tidak hanya diposisikan sebagai aksesori atau kerajinan tradisional. Sulaman tersebut dikembangkan menjadi elemen busana yang dapat memiliki nilai estetika sekaligus nilai ekonomi lebih tinggi.

Langkah itu juga memperlihatkan bagaimana warisan budaya lokal dapat beradaptasi ketika bertemu inovasi dan kreativitas. Sulam Kapalo Samek yang memiliki akar kuat pada tradisi Padang Pariaman mendapatkan kesempatan untuk diperkenalkan dalam bentuk yang lebih dekat dengan perkembangan industri fesyen.

Diundang KBRI Brussels

Kehadiran Sulam Kapalo Samek dalam ICWB 2026 berlangsung melalui undangan KBRI Brussels. Kesempatan tersebut menjadi ruang bagi Padang Pariaman untuk membawa kekayaan budaya daerah ke lingkungan internasional.

ICWB 2026 mempertemukan sejumlah unsur yang berkaitan dengan pengembangan ekonomi kreatif Indonesia. Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan antara kekayaan budaya Indonesia, pelaku UMKM, diaspora, desainer, perajin, serta jejaring industri kreatif internasional.

Acara tersebut turut dihadiri Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Kerajaan Belgia, Andy Rachmianto, bersama Ibu Ismi Andy Rachmianto yang merupakan Ketua Dharma Wanita Persatuan KBRI Brussels.

Dukungan KBRI Brussels menjadi bagian penting dalam membuka ruang diplomasi budaya bagi berbagai produk Indonesia. Sulam Kapalo Samek Padang Pariaman menjadi salah satu karya yang mendapatkan kesempatan untuk tampil dalam ruang tersebut.

Bagi Kabupaten Padang Pariaman, panggung ICWB 2026 juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan identitas budaya sekaligus membuka kemungkinan pasar baru bagi para perajin dan pelaku UMKM.

Ketua Dekranasda Kabupaten Padang Pariaman, Ny. Nita Christanti Azis, mengatakan keikutsertaan Sulam Kapalo Samek di Belgia memiliki arti lebih luas daripada sekadar memperkenalkan sebuah produk.

Menurutnya, kekuatan Sulam Kapalo Samek tidak hanya berada pada keindahan motif dan teknik pengerjaannya. Di balik setiap hasil sulaman terdapat pengetahuan serta keterampilan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, membawa Sulam Kapalo Samek ke panggung internasional juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan warisan budaya Padang Pariaman.

“Keikutsertaan Sulam Kapalo Samek di Belgia bukan hanya tentang memperkenalkan sebuah produk, tetapi juga membawa identitas dan budaya Padang Pariaman ke dunia internasional. Kami berharap momentum ini membuka semakin banyak peluang bagi para perajin dan pelaku UMKM untuk berkembang,” ujarnya dikutip resmi Selasa (6/10/2026).

Sulam Kapalo Samek Masuk Dunia Fesyen

Salah satu bagian yang menjadi perhatian dalam keikutsertaan Sulam Kapalo Samek pada ICWB 2026 adalah pengembangan desain melalui kolaborasi dengan Itang Yunaz.

Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa sulaman tradisional tidak harus terbatas pada bentuk pemanfaatan yang selama ini dikenal masyarakat. Sulam Kapalo Samek dapat dikembangkan ke dalam berbagai rancangan busana dengan tetap membawa karakter khasnya.

Dalam kegiatan tersebut, sejumlah model baju kurung dengan sentuhan Sulam Kapalo Samek diperkenalkan. Masing-masing memiliki desain yang beragam untuk menyesuaikan dengan karakter serta selera pasar.

Identitas khas sulaman Padang Pariaman tetap menjadi bagian dari rancangan tersebut. Pada saat yang sama, penerapannya dibuat lebih adaptif terhadap perkembangan fesyen kontemporer.

Pendekatan itu menjadi salah satu strategi untuk memperluas pemanfaatan Sulam Kapalo Samek. Jika sebelumnya selendang menjadi salah satu produk utama, kini sulaman tersebut dapat ditempatkan sebagai bagian dari busana modern.

Pengembangan tersebut berpotensi memberikan nilai tambah bagi produk kerajinan. Bagi perajin, peluang yang terbuka tidak hanya berupa promosi, tetapi juga kemungkinan memperluas jaringan pemasaran dan membangun kerja sama baru.

Sulam Kapalo Samek dengan demikian memiliki peluang untuk masuk ke ruang industri fesyen yang lebih luas. Perpaduan teknik tradisional dan desain modern juga dapat menjadi cara untuk menjaga agar warisan kriya tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Gerakan Diaspora Angkat Budaya dan UMKM

Indonesia Creative Week Belgium 2026 diselenggarakan oleh Native Indonesia. Gerakan diaspora tersebut memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya Indonesia sekaligus mendorong UMKM Indonesia agar dapat berkembang dan dikenal di tingkat internasional.

ICWB juga membawa semangat pemberdayaan perempuan melalui penguatan potensi kreatif dan ekonomi berbasis budaya.

Dalam konteks tersebut, pertemuan antara diaspora, KBRI Brussels, perajin, pelaku UMKM, desainer, dan berbagai pihak menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan kekayaan Indonesia di luar negeri.

Sulam Kapalo Samek menjadi salah satu contoh karya lokal yang memperoleh ruang dalam jaringan tersebut. Kehadirannya tidak hanya menunjukkan sisi produk kerajinan, tetapi juga membawa cerita mengenai identitas budaya Padang Pariaman.

Bagi daerah, pengenalan tersebut memiliki arti penting. Sulam Kapalo Samek merupakan bagian dari kekayaan budaya Minangkabau yang menyimpan nilai sejarah, kreativitas, keterampilan, dan kearifan lokal.

Setiap motif dan proses pengerjaan menjadi bagian dari pengetahuan yang diwariskan oleh para perajin. Ketika karya tersebut diperkenalkan ke masyarakat internasional, nilai budaya yang melekat di dalamnya ikut mendapatkan ruang untuk dikenal lebih luas.

Dari Padang Pariaman untuk Dunia

Perjalanan Sulam Kapalo Samek dari sentra-sentra perajin di Padang Pariaman hingga Antwerp dan Brussel menunjukkan bahwa produk yang berakar pada tradisi tetap memiliki peluang untuk berkembang di tengah industri kreatif global.

Panggung ICWB 2026 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan tersebut. Dukungan KBRI Brussels memberikan akses untuk memperkenalkan karya lokal dalam ruang internasional, sedangkan kolaborasi dengan Itang Yunaz menunjukkan kemungkinan pengembangan Sulam Kapalo Samek melalui desain fesyen.

Di sisi lain, keterlibatan Native Indonesia memperlihatkan peran jejaring diaspora dalam membawa budaya dan produk UMKM Indonesia ke luar negeri.

Bagi Kabupaten Padang Pariaman, momentum tersebut diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan. Pengenalan Sulam Kapalo Samek di Belgia diharapkan dapat menjadi bagian dari perjalanan yang lebih panjang dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif.

Pengembangan tersebut juga diarahkan untuk memperluas pasar UMKM, meningkatkan kesejahteraan perajin, serta menjaga agar warisan budaya tetap hidup dan berkembang.

Sulam Kapalo Samek kini menunjukkan bahwa kerajinan tradisional dapat memiliki ruang baru ketika dipertemukan dengan inovasi, kreativitas, desain, dan strategi pemasaran yang tepat.

Dari setiap tusukan benang, tersimpan ketekunan para perajin. Setiap motif membawa identitas budaya Padang Pariaman. Kini, karya tersebut mendapat kesempatan untuk berbicara di panggung Eropa.

Dari Padang Pariaman untuk dunia, Sulam Kapalo Samek membawa pesan bahwa karya lokal yang dirawat dan dikembangkan dapat memiliki nilai serta peluang untuk dikenal di tingkat global. (*)

Baca Juga

Teco Resmi Jadi Pelatih Semen Padang FC, Target Bangkit di Sisa Musim
Teco Resmi Jadi Pelatih Semen Padang FC, Target Bangkit di Sisa Musim
Lima PPPK Satpol PP Padang diberhentikan tidak dengan hormat karena pelanggaran disiplin berat.
Lima PPPK Satpol PP Padang Diberhentikan Tidak Hormat, Ini Penyebabnya
Jadwal KM Sabuk Nusantara 37 Awal Oktober 2026, Cek Rute Mentawai-Teluk Bayur
Jadwal KM Sabuk Nusantara 37 Awal Oktober 2026, Cek Rute Mentawai-Teluk Bayur
Semen Padang FC Pecat Nil Maizar usai Kalah dari PSPS Pekanbaru
Semen Padang FC Pecat Nil Maizar usai Kalah dari PSPS Pekanbaru
Jadwal Kapal Padang-Mentawai Oktober 2026, Cek Ambu-Ambu dan Gambolo
Jadwal Kapal Padang-Mentawai Oktober 2026, Cek Ambu-Ambu dan Gambolo
Daftar Iuran BPJS Kesehatan Oktober 2026 Lengkap dengan Aturan Denda Pelayanan
Daftar Iuran BPJS Kesehatan Oktober 2026 Lengkap dengan Aturan Denda Pelayanan