Sumbardaily.com - Akses masyarakat di kawasan terdampak galodo Arosuka, Kabupaten Solok, mulai kembali terbuka setelah Jembatan Bailey sepanjang 15 meter dapat dilalui kendaraan. Infrastruktur darurat tersebut menjadi bagian dari percepatan pemulihan jalur yang sebelumnya terganggu akibat material galodo menyumbat saluran air.
Penanganan pascabencana di Arosuka dilakukan melalui kolaborasi sejumlah instansi. Salah satu titik yang menjadi perhatian berada di ruas Pintu Angin-Labuh Saiyo. Material galodo yang menutup box culvert membuat aliran air terhambat sehingga badan jalan perlu ditangani agar fungsi drainase dapat kembali berjalan.
BWS Sumatera V Padang kemudian melakukan pembongkaran dan pemotongan badan jalan untuk membuka kembali jalur aliran air yang tersumbat material bencana.
Di sisi lain, untuk memastikan mobilitas masyarakat tetap dapat berlangsung, BPJN Sumatera Barat bersama Dinas BMCKTR memasang Jembatan Bailey dengan bentang 15 meter.
Berdasarkan informasi yang dikutip dari BPJN Sumbar Selasa (29/9/2026), Jembatan Bailey tersebut sudah dapat digunakan kendaraan sejak 28 September 2026. Namun, terdapat pembatasan beban kendaraan yang melintas, yakni maksimal 10 ton.
"Pembukaan jembatan tersebut menjadi salah satu langkah penting dalam penanganan dampak galodo karena akses masyarakat dapat kembali digunakan, " tulis keterangan BPJN Sumbar.
Pemulihan jalur juga dilakukan bersamaan dengan pembersihan sejumlah titik yang masih dipenuhi lumpur dan material sisa bencana.
Pada 28 September 2026, kondisi cuaca di lokasi terpantau cerah. Tim penanganan memanfaatkan kondisi tersebut untuk melanjutkan pekerjaan pascabencana, terutama pada bagian jalan dan sistem drainase.
Pekerjaan yang dilakukan meliputi pembersihan atau scraping bahu jalan yang masih tergenang air dan tertutup lumpur. Untuk pekerjaan tersebut dikerahkan satu unit motor grader, satu unit wheel loader, serta dua unit dump truck.
Pembersihan juga menyasar saluran drainase di sisi jalan yang masih tersumbat. Satu unit backhoe loader dan satu unit dump truck digunakan untuk membantu proses pembersihan drainase tersebut.
Langkah tersebut dilakukan untuk merapikan kembali kawasan yang terdampak sekaligus mengembalikan fungsi jalan dan drainase setelah diterjang galodo.
Sebelumnya, pada 27 September 2026, penanganan pascagalodo di Arosuka juga telah memasuki tahap perangkaian Jembatan Bailey. Jembatan dengan bentang 15 meter itu dirangkai di Jalan Lingkar Kayu Aro oleh Dinas BMCKTR Provinsi Sumatera Barat, sementara jembatan disiapkan oleh BPJN Sumatera Barat.
Pemasangan Jembatan Bailey dilakukan pada lokasi box culvert yang tersumbat material galodo. Kondisi tersebut membuat badan jalan harus dipotong sebagai bagian dari upaya memulihkan aliran air.
Dalam proses pemasangan jembatan, wheel loader turut digunakan untuk membantu pekerjaan sekaligus meratakan timbunan pada bagian oprit jembatan.
Rangkaian penanganan tersebut menunjukkan pemulihan akses tidak hanya dilakukan dengan membangun jalur sementara, tetapi juga dibarengi dengan penataan kembali jalan dan drainase yang terdampak.
Kolaborasi lintas instansi terus dilakukan untuk mempercepat proses pemulihan di kawasan Arosuka. Dengan Jembatan Bailey yang kini sudah dapat dilalui kendaraan hingga batas 10 ton, mobilitas masyarakat di jalur terdampak dapat kembali berjalan secara bertahap.
Pembersihan badan jalan, bahu jalan, dan drainase juga terus dilanjutkan untuk memastikan fungsi infrastruktur kembali normal. Penanganan dilakukan secara bertahap sesuai kondisi di lapangan agar kawasan terdampak dapat segera kembali mendukung aktivitas masyarakat.
Melalui penanganan yang dilakukan secara bersama-sama tersebut, dampak galodo di Arosuka diupayakan dapat segera ditangani. Pembukaan akses dan pemulihan infrastruktur menjadi bagian penting agar aktivitas masyarakat di kawasan terdampak dapat berangsur pulih. (*)
















