Oleh: Zaitul Ikhlas Saad Rajo Intan
Tenaga Ahli Pemko Padang
Kebakaran pemukiman di Kota Padang bukan lagi sekadar berita musibah di linimasa media sosial yang lewat begitu saja. Kejadian demi kejadian yang menghanguskan rumah penduduk seolah menjadi alarm keras yang terus berbunyi.
Sayangnya, kita sering kali terjebak dalam siklus yang sama: kebakaran terjadi, pemadam datang, netizen berduka, lalu kita lupa sampai musibah berikutnya datang melanda.
Secara teknis, kebakaran memang dipicu oleh masalah tata ruang dan kelalaian infrastruktur. Namun, jika dibedah lebih dalam, akar masalah sesungguhnya ada pada faktor manusia (human error) yaitu rendahnya literasi pencegahan kebakaran dan mulai pudarnya kepekaan sosial.
Menghadapi masalah ini tidak bisa hanya mengandalkan armada pemadam kebakaran (damkar). Kita butuh pendekatan holistik yang menyentuh hati dan kebiasaan masyarakat, yaitu dengan mengintegrasikan nilai agama, menghidupkan kembali kearifan lokal Minangkabau, dan memperkuat kepedulian sosial kontemporer.
Jika kita berkeliling ke kawasan padat penduduk di Padang seperti di Kampung Jao, Lapai, atau kawasan pinggiran sungai. kita akan melihat potret pemukiman yang memperlihatkan kerentanan tinggi.
Banyak kawasan pemukiman tumbuh secara organik tanpa perencanaan yang matang. Rumah-rumah berhimpitan tanpa jarak aman, bahkan banyak yang semi-permanen dengan material kayu yang mudah terbakar.
Masalah diperparah oleh akses jalan atau gang yang sangat sempit (gang senggol). Ketika kebakaran terjadi, mobil pemadam berukuran besar sering kali terhambat masuk, sehingga api sudah terlanjur membesar sebelum bantuan tiba.
Tata ruang yang padat dan semrawut ini seperti tumpukan kayu kering yang hanya menunggu satu percikan api untuk menjadi bencana besar.
Selain faktor geografis dan tata ruang, ada beberapa pemicu utama kebakaran di Kota Padang yang berakar dari kelalaian sehari-hari:
- Korsleting Listrik dan "Maliang" Kabel. Penggunaan instalasi listrik yang tidak standar (SNI) dan kebiasaan menumpuk steker (colokan T) secara berlebihan. Ditambah lagi perilaku mencaliang atau mencuri arus listrik ilegal yang memicu beban berlebih.
- Kelalaian Dapur. Meninggalkan kompor gas dalam keadaan menyala saat pergi keluar rumah atau ketidaktahuan cara menangani kebocoran tabung gas LPG.
- Sikap Apatis/Masa Bodoh. Merasa bahwa musibah kebakaran hanya akan menimpa orang lain dan tidak akan terjadi pada diri sendiri, sehingga mengabaikan langkah-langkah proteksi dini seperti menyediakan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) atau memeriksa kelayakan kabel rumah secara berkala.
- Pencegahan Kebakaran dari Aspek Agama, Kearifan Lokal, dan Kepedulian Sosial. Untuk mengubah perilaku masyarakat, kita harus mengaitkannya dengan tiga pilar utama yang hidup dalam sanubari warga Padang
A. Perspektif Agama: Ikhtiar Sebelum Tawakal
Dalam Islam, menjaga jiwa (hifzhun nafs) dan menjaga harta (hifzhul maal) adalah bagian dari maqashid syariah (tujuan agama). Kebakaran sering kali terjadi karena kita keliru mengartikan konsep takdir.
Bukan Pasrah Tanpa Usaha: Mengabaikan kabel rumah yang terkelupas dengan dalih "kalau sudah takdirnya terbakar, ya terbakar" adalah pemahaman yang keliru.
Prinsip Iqilhas wa Tawakkal: Rasulullah SAW pernah mengingatkan untuk mengikat unta terlebih dahulu sebelum bertawakal.
Dalam konteks kebakaran, mengikat unta berarti mematikan kompor, mencabut charger HP yang tidak dipakai, dan mengecek instalasi listrik. Pencegahan kebakaran adalah bentuk ibadah yang nyata untuk melindungi sesama.
B. Perspektif Kearifan Lokal: Menghidupkan Ingek-Ingek Sabalun Kanai
Masyarakat Minangkabau memiliki filosofi hidup yang sangat preventif dan sarat akan mitigasi bencana. Sayangnya, nilai-nilai ini mulai tergerus zaman digital. Mari kita hidupkan kembali:
Ingek-ingek sabalun kanai, kulimek sabalun abih Petatah ini mengajarkan kita untuk selalu waspada dan mengantisipasi bahaya sebelum bencana itu benar-benar terjadi. Waspada terhadap potensi api di rumah adalah cerminan dari orang Minang yang cadiak (cerdas).
Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari akibat kecerobohan yang kita buat sendiri.
Optimalisasi Fungsi Lingkungan: Dulu, arsitektur rumah gadang dirancang adaptif terhadap bencana. Di era modern ini, kearifan lokal bisa diterjemahkan dengan gotong royong menjaga kebersihan lingkungan dari sampah yang mudah terbakar dan tidak menutup akses jalan publik yang bisa menjadi jalur evakuasi.
C. Perspektif Kepedulian Sosial; Dari Saciok Bak Ayam hingga "Ronda Digital"
Ikatan sosial di perkotaan cenderung menipis menjadi individualis.
Padahal, api tidak pernah memilih rumah siapa yang akan dibakarnya; rumah tetangga yang terbakar adalah ancaman langsung bagi rumah kita.
Saciok bak ayam, saiciak bak sajo: Kebersamaan dan kesatuan hati harus dibangkitkan lagi. Peduli terhadap tetangga bukan berarti kepo (ikut campur urusan pribadi), melainkan saling menjaga.
Jika melihat ada kabel melintang yang berbahaya di rumah tetangga, atau mencium bau gas menyengat saat tetangga tidak di rumah, kita wajib saling mengingatkan.
Ronda Digital dan Sistem Keamanan Warga: Kepedulian sosial kontemporer bisa memanfaatkan grup WhatsApp RT/RW sebagai sistem peringatan dini (early warning system).
Selain itu, menghidupkan kembali pos ronda bukan hanya untuk menjaga keamanan dari maling, tetapi juga patroli keliling memantau potensi kebakaran di jam-jam rawan (dini hari).
Kesimpulan
Kebakaran di pemukiman padat Kota Padang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyalahkan tata kota yang sempit atau keterlambatan petugas damkar. Masalah ini berhulu pada perilaku dan kesadaran kita sendiri.
Pencegahan kebakaran yang efektif harus dimulai dari transformasi pola pikir: dari yang dulunya acuh tak acuh (taba muko) menjadi peduli dan antisipatif.
Dengan memadukan tanggung jawab keagamaan, menghidupkan kembali alarm kearifan lokal Minangkabau, dan merajut kembali kepedulian sosial yang solid, kita bisa menciptakan Kota Padang yang lebih aman, tangguh, dan bebas dari petaka kebakaran.
Rekomendasi
Untuk mewujudkan Padang yang minim dari bencana kebakaran, berikut beberapa rekomendasi praktis berbasis komunitas yang bisa segera diterapkan:
- Edukasi "Khotbah Mitigasi": Mendorong Pemko Padang bekerja sama dengan MUI dan para mubaligh untuk memasukkan materi pencegahan kebakaran dan keselamatan lingkungan ke dalam khotbah Jumat atau majelis taklim secara berkala.
- Gerakan "Satu Rumah, Satu APAR/Karung Goni": Menggalakkan program swadaya di tingkat RT/RW agar setiap rumah memiliki alat pemadam api minimal (atau kain/karung goni basah) dan memberikan pelatihan cara menggunakannya kepada ibu-ibu rumah tangga dan pemuda.
- Audit Instalasi Listrik Massal: Pengurus RT/RW bekerja sama dengan PLN atau lembaga sertifikasi kelayakan listrik untuk melakukan pengecekan berkala terhadap instalasi listrik di rumah-rumah tua atau kawasan padat penduduk guna meminimalkan risiko korsleting.
- Sayembara "Kampung Siaga Kebakaran Pemerintah Kota memberikan insentif atau penghargaan bagi kelurahan/RW yang berhasil menata kawasannya secara rapi, memiliki akses hidran mandiri, dan mencatat zero accident kebakaran dalam kurun waktu tertentu.
(*)
















