Sumbardaily.com - Barang-barang dari Sumatera Barat terus bergerak menuju berbagai negara. Dalam tujuh bulan pertama 2026, nilai ekspor Sumbar mencapai US$1,93 miliar. India menjadi tujuan terbesar, sementara nilai impor justru melonjak hingga 139,19 persen.
Angka tersebut menggambarkan aktivitas perdagangan Sumatera Barat yang tidak hanya terlihat dari besarnya nilai transaksi, tetapi juga dari arus barang yang keluar dan masuk daerah.
Berdasarkan rilis BPS Sumbar yang dikutip Kamis (3/9/2026), nilai ekspor Sumatera Barat sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai US$1.937,08 juta. Angka itu meningkat 21,28 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat US$1.597,18 juta.
"Nilai ekspor Sumatera Barat sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai US$1.937,08 juta," dikutip dari rilis BPS Sumbar.
Kenaikan ekspor tersebut terutama didorong sektor industri pengolahan. Sektor ini mengalami peningkatan sebesar 24,66 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Di balik angka tersebut, India menjadi negara yang paling banyak menjadi tujuan ekspor Sumbar. Nilai ekspor ke negara tersebut mencapai US$446,29 juta sepanjang Januari-Juli 2026.
Tiongkok berada di posisi berikutnya dengan nilai US$303,30 juta. Kemudian Pakistan sebesar US$295,68 juta, Bangladesh US$186,08 juta dan Mesir US$181,84 juta.
Artinya, komoditas asal Sumatera Barat tidak hanya berputar di dalam negeri. Sebagian di antaranya bergerak menuju pasar luar negeri dan menjadi bagian dari aktivitas perdagangan dengan sejumlah negara Asia hingga Afrika.
Jika dilihat dari jenis barang, lemak dan minyak hewan/nabati menjadi komoditas yang paling besar dalam ekspor Sumbar.
Golongan Lemak & Minyak Hewan/Nabati atau HS 15 memberikan share sebesar 85,78 persen. Setelah itu terdapat berbagai produk kimia atau HS 38 dengan share 3,71 persen serta karet dan barang dari karet atau HS 40 sebesar 3,04 persen.
Namun, arus barang Sumbar tidak hanya bergerak keluar. Barang dari luar negeri juga masuk dengan nilai yang mengalami peningkatan jauh lebih besar.
Sepanjang Januari-Juli 2026, nilai impor Sumatera Barat mencapai US$695,15 juta. Angka tersebut meningkat 139,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Dari sisi impor, andil utama peningkatan nilai impor disumbang oleh impor bahan baku/penolong," dikutip dari rilis BPS Sumbar.
Secara kumulatif, impor bahan baku dan bahan penolong meningkat 127,76 persen. Kenaikan tersebut menjadi penyumbang utama peningkatan nilai impor Sumatera Barat.
Singapura menjadi negara asal impor terbesar dengan nilai US$414,89 juta. Malaysia menyusul dengan US$166,93 juta.
Berikutnya Argentina menyumbang nilai impor US$32,48 juta, Kanada US$26,31 juta dan Brasil US$12,81 juta.
Dari sisi barang, bahan bakar mineral atau HS 27 mendominasi impor Sumbar. Komoditas ini memberikan share 82,79 persen.
Kemudian terdapat ampas atau sisa industri makanan atau HS 23 dengan share 7,46 persen serta pupuk atau HS 31 sebesar 3,76 persen.
Meski impor meningkat tajam, perdagangan Sumatera Barat masih mencatat surplus. Neraca perdagangan pada Januari-Juli 2026 mencapai US$1.241,93 juta.
Namun, angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025. Saat itu, neraca perdagangan Sumbar mencapai US$1.306,56 juta.
Dengan demikian, terjadi penurunan sebesar US$64,63 juta.
Pergerakan ekonomi tersebut juga terlihat dari aktivitas transportasi. Di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), misalnya, arus penumpang domestik mengalami perubahan pada Juli 2026.
Jumlah penumpang domestik yang berangkat melalui BIM tercatat 76,46 ribu orang. Angka itu turun 4,73 persen dibandingkan Juni 2026 yang mencapai 80,26 ribu orang.
Sebaliknya, jumlah penumpang domestik yang datang meningkat. Pada Juli 2026 tercatat 73,94 ribu orang atau naik 2,52 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Pada penerbangan internasional, jumlah penumpang yang berangkat tercatat 18,48 ribu orang. Jumlah tersebut turun 10,65 persen dibandingkan Juni 2026.
Untuk penumpang internasional yang datang, jumlahnya mencapai 20,01 ribu orang atau meningkat 0,99 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Arus barang melalui transportasi laut juga mengalami kenaikan. Pada Juli 2026, barang yang dimuat melalui angkutan laut dalam negeri mencapai 317,58 ribu ton.
Jumlah tersebut meningkat 47,80 persen dibandingkan Juni 2026.
Barang yang dibongkar juga bertambah 12,82 persen. Pada Juni 2026 jumlahnya tercatat 293,52 ribu ton, kemudian meningkat menjadi 331,14 ribu ton pada Juli 2026.
Sementara itu, jumlah penumpang yang berangkat menggunakan kereta api pada Juli 2026 mencapai 217,28 ribu orang. Angka tersebut turun 4,24 persen dibandingkan Juni 2026.
Barang yang diangkut menggunakan kereta api juga mengalami penurunan 0,58 persen secara month to month.
Di tengah pergerakan barang dan penumpang tersebut, masyarakat Sumatera Barat juga menghadapi perubahan harga kebutuhan.
Pada Agustus 2026, Sumatera Barat mengalami inflasi sebesar 0,18 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Secara tahun kalender, inflasi mencapai 1,23 persen, sedangkan secara tahunan tercatat 3,76 persen.
Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan. Kelompok tersebut mengalami inflasi 0,33 persen dan memberikan andil 0,12 persen.
Daging ayam ras dan cabai rawit menjadi komoditas utama yang mendorong inflasi kelompok tersebut.
Seluruh wilayah cakupan IHK Sumatera Barat mengalami inflasi secara bulanan. Pasaman Barat mencatat angka tertinggi sebesar 0,46 persen.
Sementara itu, Padang mencatat inflasi terendah sebesar 0,10 persen. Bukittinggi mengalami inflasi 0,20 persen dan Dharmasraya 0,11 persen.
Jika dibandingkan dengan kondisi setahun sebelumnya, seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi. Kelompok makanan, minuman dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi umum, yakni 1,44 persen.
Inflasi tahunan tertinggi terjadi di Dharmasraya sebesar 4,34 persen. Pasaman Barat mencatat 4,11 persen, Bukittinggi 3,78 persen dan Padang 3,55 persen.
Di sektor pertanian, kondisi petani juga tercermin melalui Nilai Tukar Petani (NTP).
NTP Sumatera Barat pada Agustus 2026 mencapai 133,37 atau meningkat 0,64 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan tersebut terjadi karena Indeks Harga yang Diterima Petani (It) meningkat 0,65 persen. Sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) naik 0,001 persen.
Peningkatan NTP secara umum terjadi pada subsektor tanaman pangan, tanaman perkebunan rakyat, peternakan dan perikanan. Sebaliknya, subsektor hortikultura mengalami penurunan.
Sementara itu, Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) Sumatera Barat pada Agustus 2026 berada di angka 137,93. Nilainya meningkat 0,32 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kondisi tersebut dipengaruhi kenaikan harga hasil produksi petani sebesar 0,65 persen, lebih tinggi dibandingkan peningkatan harga penambahan barang modal yang mencapai 0,32 persen.
Rangkaian data tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi Sumatera Barat bergerak melalui banyak jalur. Barang dari Sumbar dikirim ke India, Tiongkok, Pakistan, Bangladesh hingga Mesir, sementara bahan bakar mineral, bahan baku, sisa industri makanan dan pupuk masuk dari berbagai negara.
Di saat yang sama, aktivitas penumpang dan barang melalui bandara, laut dan kereta api turut bergerak. Harga kebutuhan masyarakat serta kondisi petani juga mengalami perubahan.
Perkembangan Ekspor Impor Provinsi Sumatera Barat pada akhirnya tidak hanya tercermin dari angka US$1,93 miliar ekspor dan US$695,15 juta impor, tetapi juga dari arus barang, penumpang, harga dan aktivitas ekonomi yang berlangsung di berbagai sektor. (*)
















