Terkenal, Dipercaya atau Sekadar Viral? Pakar Unand Ungkap Bahaya Salah Menilai di Media Sosial

Terkenal, Dipercaya atau Sekadar Viral? Pakar Unand Ungkap Bahaya Salah Menilai di Media Sosial

Ilustrasi Media Sosial (Foto: Pexels)

Sumbardaily.com – Media sosial membuat seseorang lebih mudah dikenal publik. Wajah yang muncul berulang kali di layar, memiliki jutaan pengikut, atau videonya ditonton jutaan kali kerap dianggap sebagai tanda bahwa orang tersebut layak didengar.

Namun, keterkenalan tidak selalu identik dengan kepercayaan. Dosen Komunikasi Politik FISIP Universitas Andalas (Unand) sekaligus pakar media, Yayuk Lestari, S.Sos., M.A., menyoroti bagaimana media sosial perlahan membuat batas antara terkenal, dipercaya, dan sekadar viral menjadi semakin tipis.

Menurut Yayuk, pada masa lalu masyarakat relatif memahami alasan seseorang didengar. Dokter menjadi rujukan ketika membicarakan kesehatan, guru ketika berbicara mengenai pendidikan, tokoh agama ketika menjelaskan persoalan keagamaan, sedangkan orang yang dituakan didengar karena pengalaman dan rekam jejaknya.

Meski sistem tersebut tidak sempurna karena gelar maupun status seseorang tidak menjamin selalu benar, setidaknya terdapat jarak antara dikenal dan dipercaya.

Media sosial kemudian mengubah situasi tersebut. Seseorang dapat muncul berkali-kali di hadapan pengguna, berbicara dengan penuh keyakinan tentang berbagai persoalan, hingga akhirnya dianggap sebagai sosok yang memang pantas didengar.

Masalahnya, kesan tersebut belum tentu lahir dari pemeriksaan terhadap kapasitas atau rekam jejaknya.

Keterlihatan justru dapat menciptakan keakraban. Keakraban itu kemudian secara tidak sadar dibaca sebagai kredibilitas.

Kasus Deepfake Menteri Keuangan

Persoalan tersebut terlihat lebih ekstrem melalui kasus deepfake yang mencatut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada April 2026.

Sebuah akun TikTok palsu mencatut Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan dan menyebarkan video yang seolah-olah menampilkan Menteri Keuangan sedang mengumumkan bantuan keuangan.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyatakan audio dalam video tersebut terindikasi kuat merupakan hasil rekayasa AI. Kementerian Keuangan juga menegaskan video yang beredar tersebut merupakan hoaks deepfake.

Menurut Yayuk, kasus tersebut menunjukkan bahwa pelaku tidak hanya memanfaatkan teknologi untuk memalsukan suara dan gambar. Pelaku juga memanfaatkan kebiasaan masyarakat dalam menilai sebuah pesan.

Wajah pejabat, jabatan resmi, hingga simbol lembaga membuat informasi terlihat lebih sah. Dengan demikian, pelaku tidak harus membangun kepercayaan dari awal.

Mereka cukup menempelkan informasi palsu pada simbol-simbol yang selama ini telah dikenali masyarakat sebagai tanda sumber yang dapat dipercaya.

Dengan kata lain, yang dipalsukan bukan sekadar gambar atau suara, melainkan alasan seseorang untuk mempercayai informasi tersebut.

Jutaan Pengikut Tak Selalu Berarti Dipercaya

Tanpa menggunakan deepfake, mekanisme serupa juga terjadi setiap hari di media sosial. Jumlah pengikut yang mencapai satu juta, video yang ditonton tiga juta kali, atau pendapat yang beredar luas dapat dengan cepat menciptakan kesan bahwa seseorang memiliki pengaruh besar.

Padahal, platform media sosial pada dasarnya sangat baik dalam mengukur perhatian, bukan kepercayaan.

Sebuah video dapat ditonton jutaan kali karena penonton kagum. Namun, video yang sama juga bisa mendapatkan perhatian karena membuat orang marah, geli, tidak percaya, atau sekadar ingin menyaksikan perdebatan di kolom komentar.

Bahkan ketika seseorang membagikan konten sambil menuliskan komentar negatif seperti, “Lihat, ngawur sekali,” tindakan tersebut tetap membuat konten semakin lama berada dalam peredaran.

Pada akhir Juli 2026, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan bahwa algoritma media sosial turut membentuk persepsi publik. Isu yang sensasional juga dinilai lebih cepat menjadi viral dibandingkan substansi.

Algoritma platform pada akhirnya bekerja untuk merebut perhatian. Karena itu, persoalan viralitas juga berkaitan dengan siapa yang paling berhasil mendapatkan perhatian publik.

Pakar Bisa Ditolak karena Tak Sesuai Keyakinan

Ironi lain muncul ketika kemampuan merebut perhatian justru lebih menentukan daripada kompetensi.

Orang yang tidak memiliki kompetensi memadai dapat terdorong ke permukaan karena mampu membuat konten yang menarik perhatian. Sebaliknya, orang yang benar-benar memahami sebuah persoalan justru dapat ditolak ketika menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai dengan keyakinan audiens.

Fenomena tersebut dikenal melalui ungkapan shoot the messenger, yakni ketika pesan tidak menyenangkan justru membuat pembawa pesan menjadi sasaran serangan.

Di media sosial, gejala tersebut dapat muncul ketika seorang pakar menjelaskan sesuatu berdasarkan data, tetapi justru dicap bodoh karena kesimpulannya tidak sesuai dengan keyakinan kelompok tertentu.

Latar belakang pribadi dapat dibongkar, gaya bicara diejek, atau potongan pernyataan dijadikan bahan olok-olok.

Di sisi lain, orang yang tidak mempunyai keahlian serupa dapat memperoleh sambutan karena menyampaikan apa yang ingin didengar audiens.

“Keahlian tidak membuat seseorang kebal dari kritik, dan pendapat ahli tetap harus diuji. Tetapi menguji argumen berbeda dengan menolak pembawanya hanya karena kesimpulannya mengganggu keyakinan kita,” kata Yayuk, dilansir dari Kepakaran Unand, Selasa (25/8/2026).

Pada kondisi tersebut, pilihan publik bukan lagi semata-mata tentang siapa yang paling mengetahui persoalan, tetapi siapa yang paling nyaman untuk dipercaya.

Viral, Terkenal, dan Dipercaya Bukan Hal yang Sama

Yayuk menilai pertanyaan mengenai siapa yang didengar sebenarnya jauh lebih kompleks daripada sekadar melihat jumlah pengikut.

Seseorang dapat memiliki suara tanpa benar-benar didengar. Seseorang juga bisa sangat terlihat tetapi tidak dipercaya. Di sisi lain, seseorang dapat dipercaya tanpa selalu membuat orang lain mengikuti sarannya.

Ketiga hal tersebut kerap tercampur dalam percakapan mengenai pengaruh di media sosial.

Ketika seseorang viral, misalnya, publik cenderung buru-buru menyebutnya berpengaruh. Ketika seseorang dipercaya, muncul anggapan bahwa orang tersebut otomatis akan diikuti sarannya.

Padahal, masyarakat bisa saja menerima nasihat dari orang yang dihormati tetapi memilih tidak mengikutinya.

Hal serupa terjadi dalam hubungan dengan aturan. Seseorang dapat menaati aturan sekolah, kantor, atau lembaga pemerintah tanpa menganggap pembuat aturan tersebut sebagai orang yang paling bijaksana. Kepatuhan bisa muncul karena adanya struktur dan konsekuensi.

Kepercayaan juga memiliki batas berdasarkan bidang keahlian. Dokter yang sangat kompeten tidak otomatis menjadi rujukan untuk persoalan konstitusi. Pendakwah yang didengarkan setiap pekan belum tentu menjadi orang pertama yang ditanya mengenai investasi. Begitu pula profesor tidak otomatis ahli dalam semua persoalan.

“Dikenal, dipercaya, dan mampu membuat orang bertindak adalah perkara yang saling berkaitan, tetapi bukan hal yang sama,” ujar Yayuk.

Gagasan tersebut juga menjadi salah satu garis utama naskah akademik yang mendasari tulisan ini, yakni keterlihatan, pengakuan, kepercayaan, dan tindakan tidak selalu berjalan beriringan.

Media Sosial Jadi Pengeras Suara Sekaligus Lampu Sorot

Media sosial memiliki paradoks. Di satu sisi, platform digital dapat memperbesar kepercayaan yang telah dibangun seseorang.

Orang yang mempunyai pengetahuan, pengalaman, dan reputasi dapat menjangkau masyarakat yang sebelumnya tidak mengenalnya. Namun, pada saat yang sama, layar digital membuat reputasi seseorang semakin mudah diperiksa.

Semakin sering seseorang tampil, semakin banyak bagian dari dirinya yang tersedia untuk diperiksa publik.

Pernyataan lama dapat kembali muncul. Sikap hari ini dapat dibandingkan dengan nasihat yang disampaikan bertahun-tahun sebelumnya. Ketidakkonsistenan pun lebih cepat diketahui.

Karena itu, media sosial dapat bekerja seperti pengeras suara sekaligus lampu sorot. Platform digital mampu memperbesar reputasi, tetapi juga meningkatkan peluang reputasi tersebut mengalami keretakan.

Seseorang yang jarang muncul di internet juga belum tentu tidak memiliki pengaruh. Ada orang yang hampir tidak mempunyai jejak digital, tetapi tetap menjadi tempat bertanya di lingkungan keluarga, sekolah, organisasi, tempat kerja, maupun komunitas.

Sebaliknya, linimasa media sosial dapat dipenuhi nama seseorang yang pernah sangat terkenal selama dua pekan, lalu menghilang ketika isu berganti.

Siapa yang Tetap Didengar Setelah Viral?

Karena itu, pertanyaan mengenai siapa yang viral dinilai bukan persoalan paling penting. Pertanyaan yang lebih relevan adalah siapa yang tetap didengar setelah viralitas berlalu dan apa alasan orang tersebut tetap dipercaya.

Media sosial memang penting karena membuka mikrofon kepada lebih banyak orang. Masyarakat biasa dapat mengangkat persoalan yang sebelumnya diabaikan, menantang penjelasan resmi, bahkan mendorong institusi memberikan respons.

Namun, membuka mikrofon dan membangun kepercayaan merupakan dua hal berbeda.

Membuka ruang bagi seseorang untuk bersuara dapat dilakukan platform hanya dalam hitungan detik. Sebaliknya, membangun kepercayaan biasanya membutuhkan waktu, pengalaman, konsistensi, serta pengakuan dari orang lain.

Karena itu, ketika sebuah wajah kembali muncul di layar dengan suara paling yakin, masyarakat perlu memberi jeda sebelum menyimpulkan bahwa orang tersebut merupakan pihak yang paling mengetahui persoalan.

Pertanyaan sederhananya adalah: apakah seseorang dipercaya karena benar-benar memahami persoalan yang dibicarakan, atau karena algoritma terlalu sering mempertemukan pengguna dengan sosok tersebut?

Pada akhirnya, terkenal, dipercaya, dan sekadar viral memang bisa melekat pada orang yang sama. Namun, ketiganya tidak selalu berarti sama. (*)

Baca Juga

Dokter Aisah Dahlan: Memahami Perkembangan Otak Bantu Orang Tua Mendidik Anak
Dokter Aisah Dahlan: Memahami Perkembangan Otak Bantu Orang Tua Mendidik Anak
Penelitian Unand Temukan Perbedaan Cara Petani Sumbar dan Sulsel Lawan Perubahan Iklim
Penelitian Unand Temukan Perbedaan Cara Petani Sumbar dan Sulsel Lawan Perubahan Iklim
Kesenjangan MBG dan Hulu Masalah Gizi, Guru Besar Unand Soroti Pentingnya 1.000 HPK
Kesenjangan MBG dan Hulu Masalah Gizi, Guru Besar Unand Soroti Pentingnya 1.000 HPK
Ekonomi Sumbar Melambat ke 4,54 Persen, Bisakah Keluar dari Perlambatan Pertumbuhan?
Ekonomi Sumbar Melambat ke 4,54 Persen, Bisakah Keluar dari Perlambatan Pertumbuhan?
Unand Terima 7.602 Mahasiswa Baru, Ratusan Dapat Beasiswa KIP-K
Unand Terima 7.602 Mahasiswa Baru, Ratusan Dapat Beasiswa KIP-K
Bukan Cuma Produksi Susu, Perubahan Iklim Juga Ganggu Reproduksi Ternak
Bukan Cuma Produksi Susu, Perubahan Iklim Juga Ganggu Reproduksi Ternak