Sumbardaily.com - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memperkuat sistem pelindungan jemaah haji Indonesia selama fase Mina dengan menyiagakan Mobile Crisis Rescue (MCR) di kawasan Jamarat. Tim khusus tersebut diterjunkan untuk membantu penanganan kondisi darurat, evakuasi jemaah, hingga mengantisipasi kepadatan saat pelaksanaan lontar jumrah pada hari Tasyrik.
Langkah ini dilakukan seiring dimulainya rangkaian lontar tiga jamarah oleh jemaah haji Indonesia pada 11 Dzulhijjah 1447 Hijriah. Pada fase tersebut, jutaan jemaah dari berbagai negara bergerak menuju kawasan Jamarat sehingga berpotensi menimbulkan kepadatan arus manusia, terutama pada jam-jam tertentu.
Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaff mengatakan keberadaan Mobile Crisis Rescue menjadi bagian penting dalam penguatan layanan pelindungan jemaah di titik-titik rawan selama puncak ibadah haji berlangsung.
“MCR atau Mobile Crisis Rescue adalah tim khusus dan posko dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji yang disiagakan di kawasan Jamarat, Mina. Tim ini bertugas memberikan pertolongan pertama, melakukan evakuasi darurat, dan membantu mengurai kepadatan jemaah selama puncak ibadah haji,” ujar Maria di Jakarta, Kamis (28/5/2026).
Maria menjelaskan, posko MCR ditempatkan di sejumlah titik strategis di kawasan Jamarat dan jalur lintasan jemaah. Penempatan tersebut dilakukan agar petugas dapat melakukan pemantauan secara langsung terhadap kondisi di lapangan sekaligus mempercepat respons apabila terjadi situasi darurat.
Menurut dia, tim MCR dibentuk khusus untuk menangani berbagai kondisi yang dialami jemaah, mulai dari kelelahan, tersesat, pingsan, hingga membantu evakuasi jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas.
“MCR dibentuk khusus untuk merespons kondisi darurat, termasuk memberikan penanganan bagi jemaah yang pingsan, tersesat, mengalami kelelahan ekstrem, hingga melakukan evakuasi bagi jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas,” jelasnya.
Kemenhaj menegaskan bahwa pelindungan jemaah menjadi prioritas utama selama pelaksanaan ibadah di Mina. Karena itu, petugas tidak hanya disiagakan di tenda-tenda pemondokan, tetapi juga ditempatkan di jalur pergerakan jemaah, pos pemantauan, hingga titik-titik yang berpotensi terjadi kepadatan.
“Pelindungan jemaah adalah prioritas. Karena itu, petugas tidak hanya berada di tenda-tenda jemaah, tetapi juga disiagakan di jalur pergerakan, pos pantau, dan titik-titik yang berpotensi terjadi kepadatan. Setiap jemaah yang membutuhkan bantuan harus bisa segera ditangani,” tegas Maria.
Pada 11 Dzulhijjah, pelaksanaan lontar jumrah dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama berlangsung pukul 17.00 hingga 24.00 waktu Arab Saudi, sedangkan sesi kedua dilaksanakan pada 12 Dzulhijjah pukul 00.00 hingga 04.00 waktu Arab Saudi.
Kemenhaj juga menetapkan waktu larangan melontar pada 11 Dzulhijjah, yakni mulai pukul 11.00 sampai 18.00 waktu Arab Saudi. Kebijakan itu diterapkan untuk mengurangi risiko kepadatan dan menghindari paparan cuaca panas ekstrem di kawasan Jamarat.
Sementara itu, pada 12 Dzulhijjah, jadwal lontar jumrah dibagi menjadi dua sesi, yaitu pukul 05.00 sampai 10.30 waktu Arab Saudi dan pukul 18.00 hingga 24.00 waktu Arab Saudi. Adapun waktu larangan melontar berlaku mulai pukul 11.00 hingga 14.00 waktu Arab Saudi.
Sedangkan pada 13 Dzulhijjah, lontar jumrah dijadwalkan berlangsung pukul 05.00 sampai 12.00 waktu Arab Saudi tanpa adanya ketentuan waktu larangan khusus.
Maria mengingatkan seluruh jemaah agar mematuhi jadwal lontar yang telah ditentukan dan tidak melakukan perjalanan menuju Jamarat secara sendiri-sendiri. Seluruh pergerakan jemaah diminta tetap dilakukan secara berkelompok dengan pendampingan petugas.
“Kami mengimbau jemaah untuk tidak terburu-buru dan tidak memaksakan diri. Ikuti jadwal, gunakan jalur resmi, dan jangan memisahkan diri dari rombongan. Keselamatan jemaah harus menjadi perhatian bersama,” kata Maria.
Selain itu, jemaah diminta memperhatikan waktu larangan melontar dan memanfaatkan waktu tersebut untuk beristirahat di tenda. Kemenhaj mengimbau jemaah menjaga kondisi tubuh dengan memperbanyak konsumsi air putih serta mengurangi aktivitas fisik yang tidak diperlukan.
Untuk mendukung pengamanan selama fase Mina, Kemenhaj menyiagakan sebanyak 1.356 Petugas Satgas Mina. Para petugas tersebut ditempatkan di berbagai titik strategis, seperti jalur pergerakan jemaah, pos rute Jamarat, pos MCR bawah dan atas, hingga pos koordinator tanazul.
Beberapa titik pemantauan Satgas Mina berada di Jalan 616, Jalan 533, depan Mina Al-Wadi Hospital, Jalan 627, bawah Jalan Abdullah bin Abdul Aziz, gawang Terowongan Muaisim Turki, depan syarikah, serta sejumlah jalur pengarah jemaah menuju Jamarat.
Petugas di pos-pos tersebut bertugas mengatur arus pejalan kaki jemaah Indonesia menuju lokasi lontar jumrah, membantu mengantisipasi kepadatan, hingga memastikan jemaah yang kembali dari Jamarat tetap berada di jalur aman dan tidak mengambil jalan pintas yang berisiko.
Maria juga mengingatkan bahwa suhu udara di Mina pada siang hari masih cukup tinggi. Karena itu, jemaah diminta menjaga kesehatan dengan mengonsumsi makanan secara teratur dan menggunakan pelindung kepala saat berada di luar tenda.
“Kami meminta keluarga kloter, ketua rombongan, ketua regu, dan sesama jemaah untuk memberikan perhatian lebih kepada jemaah lansia, disabilitas, perempuan, dan jemaah dengan risiko kesehatan tinggi. Jika ada jemaah yang terlihat kelelahan, kebingungan, terpisah dari rombongan, atau mengalami gangguan kesehatan, segera laporkan kepada petugas terdekat,” ujar Maria.
Kemenhaj memastikan seluruh layanan selama fase Mina terus diperkuat hingga seluruh rangkaian Armuzna selesai. Penguatan layanan itu meliputi sektor transportasi, akomodasi, konsumsi, kesehatan, bimbingan ibadah, hingga pelindungan jemaah.
“Kami mengajak seluruh jemaah untuk menjaga kekompakan, saling membantu, saling mengingatkan, dan saling menjaga. Semangat gotong royong dan ukhuwah menjadi bagian penting dalam mewujudkan ibadah haji yang aman, tertib, nyaman, dan penuh keberkahan,” tutup Maria. (*)
















