Sumbardaily.com – Kelangkaan BBM subsidi jenis Bio Solar di Pasaman Barat mulai dikeluhkan masyarakat setelah antrean panjang kendaraan diesel terlihat di sejumlah SPBU, terutama di kawasan Simpang Empat. Di tengah sulitnya mendapatkan BBM subsidi tersebut, harga Bio Solar di tingkat pengecer justru melonjak hingga mencapai Rp15 ribu per liter.
Merespons kondisi itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasaman Barat melalui Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM melakukan inspeksi mendadak ke SPBU Simpang Empat pada Rabu (13/5/2026). Dalam sidak tersebut, tim menemukan antrean kendaraan diesel mengular hingga ke badan jalan.
Pihak SPBU membenarkan adanya antrean panjang yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Namun, menurut pengelola SPBU, kondisi serupa tidak hanya terjadi di Pasaman Barat, melainkan juga di sejumlah SPBU lain di wilayah Sumatera Barat (Sumbar)
Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Pasaman Barat, Agusli, mengatakan kuota penyaluran BBM subsidi Bio Solar untuk SPBU Simpang Empat sebenarnya tidak mengalami pengurangan.
“Kuota tetap 16 ton per hari. Tidak ada pengurangan alokasi dari Pertamina,” ujar Agusli, dikutip Minggu (17/5/2026).
Ia menjelaskan lonjakan antrean dipicu meningkatnya permintaan Bio Solar subsidi akibat tingginya selisih harga dengan Dexlite non-subsidi. Saat ini, harga Bio Solar subsidi berada di angka Rp6.800 per liter, sedangkan Dexlite mencapai Rp27.150 per liter.
Perbedaan harga yang cukup jauh tersebut membuat banyak kendaraan yang sebelumnya menggunakan Dexlite beralih ke Bio Solar subsidi. Kondisi itu berdampak langsung pada meningkatnya antrean kendaraan di SPBU.
Selain faktor lonjakan permintaan, renovasi bangunan di SPBU Simpang Empat juga ikut memengaruhi kapasitas antrean kendaraan di dalam area pengisian bahan bakar. Akibatnya, kendaraan terpaksa mengantre hingga ke jalan umum dan memicu kepadatan lalu lintas di sekitar lokasi.
Di tengah kelangkaan BBM subsidi di SPBU, masyarakat justru masih bisa menemukan Bio Solar di kios pengecer dengan harga jauh lebih tinggi. Berdasarkan temuan di lapangan, harga Bio Solar eceran dijual mulai Rp12.000 hingga Rp15.000 per liter.
Padahal, harga resmi BBM subsidi Bio Solar yang ditetapkan pemerintah jauh lebih rendah dibandingkan harga di tingkat pengecer.
Pihak manajemen SPBU menegaskan penyaluran Bio Solar telah dilakukan sesuai aturan yang berlaku. Setiap pembelian BBM subsidi diwajibkan menggunakan barcode kendaraan, dan satu barcode hanya dapat digunakan satu kali dalam sehari.
Untuk menjaga ketertiban antrean sekaligus mencegah potensi percaloan, pihak SPBU juga berkoordinasi dengan Polsek setempat. Langkah tersebut dilakukan agar antrean kendaraan tetap tertib dan tidak semakin memperparah kemacetan di sekitar SPBU.
Sementara itu, Agusli memastikan Pemkab Pasaman Barat akan menindaklanjuti persoalan kelangkaan BBM Bio Solar tersebut ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar dan Pertamina Patra Niaga.
“Kami akan mengusulkan solusi berupa penambahan kuota sementara dan penguatan pengawasan distribusi agar BBM subsidi tepat sasaran,” katanya.
Pemkab Pasaman Barat berharap langkah koordinasi dengan pihak terkait dapat membantu mengatasi antrean panjang dan memastikan distribusi BBM subsidi Bio Solar berjalan lebih optimal bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan. (*)
















