Sumbardaily.com, Agam - Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Agam sejak Sabtu (22/11/2025) memicu serangkaian bencana hidrometeorologi, termasuk peristiwa warga yang terjebak di area ladang akibat luapan sungai di Nagari Salareh Aia Barat, Kecamatan Palembayan.
Situasi tersebut mendorong digelarnya operasi pencarian dan pertolongan oleh Basarnas Padang dan tim SAR gabungan.
Sebanyak 10 orang warga dilaporkan tidak dapat kembali ke pemukiman setelah debit air sungai meningkat tajam dan menutup akses pulang.
Mereka beraktivitas di ladang sejak Sabtu (22/11/2025) pagi pukul 08.00 WIB dan membawa perbekalan hanya untuk kebutuhan satu hari.
Hingga malam hari, mereka masih bertahan di satu titik setelah kontak terakhir dilakukan dengan salah satu warga bernama Deni pada pukul 20.00 WIB.
Kepala Kantor SAR Padang atau SAR Mission Coordinator (SMC) Padang, Abdul Malik, menyampaikan bahwa laporan diterima pada Minggu pukul 13.48 WIB melalui Sekretaris Nagari Salareh Aia Barat, Yeni.
“Setelah itu, komunikasi terputus dan para warga bertahan di satu titik sambil menunggu bantuan,” kata Abdul Malik.
Menurutnya, kondisi medan dan aliran sungai yang terus meningkat membuat keberangkatan tim harus memperhitungkan keselamatan.
“Debit air sungai masih tinggi, sehingga kami harus memastikan jalur aman sebelum menyentuh lokasi. Kami terus memantau kondisi,” katanya.
Tim dari Pos SAR Pasaman kemudian diberangkatkan pukul 14.04 WIB dengan enam personel membawa rescue car, perahu karet LCR, perlengkapan SAR air, alat medis, dan perangkat komunikasi.
"Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam, tim tiba di lokasi koordinat kejadian pada pukul 15.30 WIB dan langsung melakukan proses evakuasi," kata Malik.
Kepala Seksi Operasi Kantor SAR Padang, Hendri, menyebut evakuasi berjalan lancar meski situasi lapangan penuh tantangan akibat arus sungai yang masih kuat.
“Tim Rescue telah berhasil mengevakuasi warga sebanyak 10 orang dalam keadaan selamat,” katanya.
Koordinator Pos SAR Pasaman, Novi Yurandi, menambahkan bahwa masih terdapat tiga warga yang memilih bertahan di pondok karena memiliki logistik dan menilai kondisi masih aman.
Rangkaian Bencana di Agam
Operasi penyelamatan ini terjadi di tengah rentetan kejadian bencana lain di Kabupaten Agam.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Agam, Rahmad Lasmono, membenarkan bahwa setidaknya empat jenis bencana terjadi berurutan dalam 24 jam terakhir, mulai dari banjir bandang, pohon tumbang, hingga jalan amblas.
“Hujan deras membuat sungai meluap dan merusak badan jalan Kampuang Pasia-Lurah Dalam sepanjang 25 meter dengan kedalaman amblas mencapai 2,5 meter,” katanya.
Di sejumlah titik lain, banjir telah merendam rumah warga, memutus akses jalan, menimbun kolam dan sawah, hingga merusak fasilitas publik.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada mengingat kondisi cuaca belum sepenuhnya membaik.
BMKG: Cuaca Ekstrem Akan Berlanjut
Terpisah, Kepala Stasiun Meteorologi Minangkabau, Desindra Deddy Kurniawan, menjelaskan bahwa kondisi ini dipengaruhi kombinasi Monsun Asia, Indian Ocean Dipole (IOD) negatif, gelombang Rossby Ekuatorial, dan anomali suhu muka laut hangat.
“Peluang bencana hidrometeorologi meningkat seiring peningkatan pertumbuhan awan hujan. Potensi kejadian seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, serta petir perlu diwaspadai,” ujarnya.
BMKG meminta masyarakat memantau informasi cuaca melalui kanal resmi dan menghindari aktivitas di lokasi rawan saat hujan berlangsung lama. (adl)
















