Sumbardaily.com – Upaya mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen menjadi perhatian serius kalangan akademisi dan dunia usaha.
Universitas Andalas (Unand) bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk membahas strategi konkret memperkuat ekonomi melalui kolaborasi riset kampus dan kebutuhan industri.
Diskusi bertajuk “Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha dalam Mengakselerasi Ekonomi Menuju Pertumbuhan 8%” itu berlangsung pada Selasa (10/3/2026) di Ruang Rapat Senat Unand.
Forum tersebut menjadi ruang dialog bagi berbagai pihak untuk mencari cara menyelaraskan hasil penelitian akademis dengan kebutuhan dunia usaha.
Wakil Rektor IV Unand, Prof Henmaidi, dalam pemaparannya menyoroti ironi yang terjadi pada komoditas unggulan Sumatera Barat (Sumbar), yaitu gambir.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia menguasai sekitar 80 persen produksi gambir dunia, namun hingga kini belum mampu menentukan harga di pasar global.
Menurutnya, persoalan tersebut memiliki kemiripan dengan tantangan yang dihadapi dalam proses hilirisasi riset di perguruan tinggi.
“Unand memiliki segudang inovasi riset, namun tantangan terbesarnya adalah penetrasi pasar. Sejauh ini, produk kita baru sampai pada tahap penayangan di e-catalog. Melalui kolaborasi dengan Kadin, kami berharap hasil riset ini bisa masuk ke ekosistem pasar yang lebih luas dan kompetitif,” ujar Prof Henmaidi.
Ia menilai, kolaborasi antara kampus dan pelaku usaha menjadi langkah strategis agar inovasi yang dihasilkan tidak berhenti pada tataran akademis, tetapi dapat dimanfaatkan secara nyata oleh industri.
Senada dengan itu, Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie menekankan pentingnya penerapan konsep Triple Helix, yakni sinergi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha.
Menurutnya, perguruan tinggi perlu mulai menyiapkan program studi dan kurikulum yang selaras dengan kebutuhan industri. Dengan begitu, lulusan perguruan tinggi serta inovasi yang dihasilkan dapat lebih cepat terserap dalam dunia kerja maupun dunia usaha.
Dalam diskusi tersebut, perwakilan Bank Indonesia (BI) juga turut memberikan pandangan terkait penguatan ekonomi daerah. BI mendorong percepatan digitalisasi ekonomi sebagai salah satu motor penggerak pertumbuhan.
Selain itu, BI menegaskan bahwa inflasi yang rendah tidak secara otomatis menjamin peningkatan pertumbuhan ekonomi. Masih terdapat sejumlah hambatan struktural yang perlu diperbaiki.
Salah satu faktor penting yang disebutkan adalah kebutuhan akan investasi atau arus “uang masuk” ke Sumbar untuk meningkatkan produktivitas ekonomi daerah.
Melalui FGD ini, para peserta menyimpulkan bahwa target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen hanya dapat dicapai melalui kerja sama lintas sektor yang kuat. Universitas dinilai tidak lagi bisa berdiri sendiri sebagai “menara gading”.
Sebaliknya, perguruan tinggi harus berperan sebagai pusat inkubasi inovasi yang terhubung langsung dengan rantai pasok industri.
Dalam hal ini, Kadin berperan sebagai penghubung dengan dunia usaha, sementara Bank Indonesia mendukung melalui stabilitas moneter dan kebijakan ekonomi.
Sinergi antara dunia kampus, pemerintah, dan pelaku usaha diharapkan mampu mempercepat hilirisasi riset serta menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih kuat menuju pertumbuhan ekonomi 8 persen. (*)
















