Sumbardaily.com – Kritik tidak selalu menjadi tanda ketidakpedulian. Kritik yang disampaikan secara objektif justru dapat menjadi bentuk perhatian dan keinginan untuk memperbaiki keadaan. Namun, ketika kritik terus-menerus menyerang pribadi, disertai sindiran, dan tidak menawarkan solusi, perilaku tersebut dapat berubah menjadi kritik toksik.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand), Prof. Hardisman, menjelaskan bahwa persoalan utama dalam kritik bukan sekadar apa yang disampaikan, melainkan juga alasan seseorang mengkritik, sasaran kritik, cara penyampaian, serta tindakan setelah kritik diberikan.
Dalam perspektif neuropsikologi, kritik dapat menjadi sarana untuk memperbaiki keadaan. Sebaliknya, kritik juga dapat digunakan sebagai mekanisme pertahanan ego untuk membuat seseorang merasa lebih unggul daripada orang lain.
"Kritik yang objektif menjadi bentuk kepedulian karena di dalamnya terdapat keinginan agar sesuatu menjadi lebih baik. Sebaliknya, kritik yang terus-menerus, personal, sinis, dan tidak pernah disertai gagasan perbaikan dapat menjadi sesuatu yang sangat berbeda," jelasan Prof. Hardisman dalam materinya mengenai batas antara kepedulian dan kritik toksik, dilansir dari Kepakaran Unand, Jumat (9/10/2026).
Kritik Objektif Merupakan Bentuk Kepedulian
Hardisman menjelaskan, kritik yang sehat memiliki sasaran yang jelas, seperti keputusan, kebijakan, perilaku, data, proses, atau hasil. Kritik tersebut dapat diperdebatkan dan bahkan terbukti keliru, tetapi orang yang menyampaikannya tetap membuka ruang untuk menerima koreksi.
Sikap tersebut menunjukkan kerendahan hati karena seseorang bersedia mengakui bahwa pendapatnya belum tentu benar.
Dalam hubungan sosial, kritik objektif juga menjadi bentuk perhatian. Seseorang yang bersedia memahami persoalan, mengumpulkan fakta, dan menyampaikan keberatan dengan argumentasi rasional menunjukkan adanya keinginan agar keadaan menjadi lebih baik.
Sebaliknya, memilih diam dan membiarkan kesalahan berlangsung bukan satu-satunya cara menjaga hubungan dengan orang lain. Dalam situasi tertentu, menyampaikan koreksi justru diperlukan.
Hardisman mengaitkan hal tersebut dengan pemikiran filsuf Jürgen Habermas mengenai komunikasi yang sehat. Komunikasi seharusnya tidak diarahkan untuk memenangkan pertarungan, tetapi untuk mencapai pemahaman bersama.
Karena itu, kritik bukan senjata untuk mendominasi orang lain. Kritik seharusnya menjadi kesempatan bagi setiap pihak untuk memeriksa kembali tindakan dan keputusan yang diambil.
Seorang dosen yang menunjukkan kelemahan metodologi penelitian mahasiswa, misalnya, tidak otomatis merendahkan mahasiswa apabila kritik tersebut disertai alasan dan jalan perbaikan. Begitu pula seseorang yang menunjukkan kelemahan kebijakan organisasi tidak serta-merta menjadi pengganggu.
Seorang sahabat yang mengingatkan bahwa keputusan seseorang mungkin keliru juga tidak berarti ia tidak memberikan dukungan.
"Kepedulian tidak selalu berbentuk pujian, kadang kepedulian berbentuk kalimat yang tidak nyaman didengar," ungkap Hardisman.
Kritik Toksik Bisa Menjadi Pertahanan Ego
Kritik yang objektif berbeda dengan kritik yang digunakan untuk mempertahankan ego. Menurut Hardisman, kritik yang berorientasi pada ego tidak lagi berangkat dari pertanyaan tentang apa yang salah dan bagaimana memperbaikinya, tetapi dari keinginan untuk merasa lebih benar daripada orang lain.
Orang dengan pola tersebut mungkin membenarkan perilakunya dengan alasan ingin menyampaikan fakta atau menganggap dirinya sebagai pribadi yang blak-blakan.
Padahal, kejujuran tidak identik dengan kekasaran. Kebenaran dapat disampaikan tanpa penghinaan, sedangkan ketegasan tidak mengharuskan seseorang merendahkan orang lain.
Hardisman memberikan gambaran seseorang yang setiap hari mencari kesalahan organisasi. Ketika sebuah program berhasil, ia menganggap keberhasilan itu biasa saja. Namun, ketika program gagal, ia segera mengatakan bahwa dirinya sudah memperingatkan sejak awal.
Ketika pimpinan mengambil keputusan A, ia mengkritik. Setelah keputusan diubah menjadi B mengikuti kritiknya, ia tetap mengkritik. Bahkan, ketika orang lain mendapatkan penghargaan atau mencapai keberhasilan, ia masih mencari kelemahannya.
Pola tersebut menunjukkan bahwa kritik tidak selalu berorientasi pada perbaikan.
"Seseorang dapat benar dalam satu kritik dan tetap memiliki pola kritik yang tidak sehat. Fakta bahwa kritiknya kadang benar tidak otomatis membuat motifnya sehat," tambah Hardisman.
Ia menerangkan, seseorang yang terus-menerus mencari kesalahan orang lain mungkin bukan sedang memperjuangkan kualitas, melainkan mempertahankan posisi sebagai orang yang paling tahu, paling kritis, atau paling bermoral.
Dalam psikologi Alfred Adler, perasaan inferior dapat mendorong seseorang melakukan kompensasi berlebihan untuk membangun perasaan superior.
Sebagai contoh, mahasiswa yang tidak memiliki prestasi atau karya bisa menjadi pihak yang paling kritis terhadap prestasi mahasiswa lain. Dalam kondisi tersebut, seseorang berusaha merasa lebih unggul bukan melalui pencapaian diri, melainkan dengan menemukan kelemahan orang lain.
Pola ini dapat muncul dalam perilaku mengoreksi, meremehkan, membandingkan, menyindir, hingga terus-menerus membongkar kekurangan orang lain.
Mengaku Jujur Tidak Selalu Berarti Objektif
Bentuk kritik toksik lainnya adalah brutal honesty, yakni kejujuran yang digunakan sebagai pembenaran untuk mengatakan apa pun tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.
Hardisman menjelaskan, kebenaran membutuhkan akurasi dan integritas. Namun, keduanya juga harus disertai kebijaksanaan ketika diterapkan dalam hubungan antarmanusia.
Jika seseorang mengaku hanya menyampaikan kejujuran, tetapi selalu memilih kata-kata yang menyakitkan, menyerang pribadi, tidak pernah memberikan solusi, dan menikmati ketidaknyamanan orang lain, perilakunya perlu dipertanyakan.
"Kejujuran tidak pernah identik dengan kekasaran. Kebenaran dan kejujuran disampaikan tanpa penghinaan. Ketegasan tidak mengharuskan seseorang merendahkan, dan keberanian berbicara tidak otomatis bisa menjadikan perkataannya benar," ujar Hardisman.
Namun, kritik toksik tidak selalu berasal dari perasaan superioritas. Tekanan emosional yang belum terselesaikan juga dapat menjadi pemicunya.
Seseorang yang mengalami konflik keluarga, merasa tidak dihargai, atau hidup dalam kecemasan berkepanjangan dapat membawa beban emosional tersebut ke lingkungan lain. Ketika tidak mampu menghadapi sumber masalah yang sebenarnya karena adanya ketimpangan kekuasaan, emosi dapat dialihkan kepada sasaran yang dianggap lebih aman.
Dalam neuropsikologi, fenomena ini dikenal sebagai displacement atau pengalihan emosi.
Contohnya, seorang karyawan dimarahi atasannya, tetapi tidak mampu membalas. Ketika pulang, ia justru bersikap kasar kepada pasangannya. Jika pasangan tidak menjadi sasaran, kemarahan tersebut dapat beralih kepada anak.
Dalam bentuk yang lebih halus, tekanan emosional serupa bisa muncul melalui komentar sinis terhadap organisasi, kolega, masyarakat, atau siapa pun yang tersedia sebagai sasaran.
Perspektif kognitif Aaron Beck juga membantu menjelaskan fenomena ini. Tekanan berkepanjangan dapat memperkuat skema berpikir negatif sehingga seseorang lebih mudah memperhatikan informasi yang sesuai dengan keyakinan negatifnya.
Akibatnya, kebaikan dan keberhasilan menjadi kurang terlihat, sedangkan kegagalan justru lebih menonjol dalam penilaiannya.
Empat Cara agar Kritik Tidak Menjadi Toksik
Hardisman menekankan bahwa kritik objektif pada dasarnya merupakan nasihat yang berangkat dari kepedulian, kebenaran, dan keinginan memperbaiki keadaan. Namun, kritik hanya menjadi nasihat yang baik apabila disampaikan dengan tujuan dan cara yang tepat.
Dalam perspektif Islam, nasihat memiliki kedudukan penting. Hal tersebut sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Ad-diinu an-naṣiḥah" yang berarti agama adalah nasihat. Hadis tersebut tercantum dalam HR Muslim dan dikenal sebagai hadis ke-7 dalam Arba'in an-Nawawiyah.
Ada empat prinsip yang perlu diperhatikan ketika menyampaikan kritik.
Pertama, kritik harus berangkat dari keinginan memperbaiki keadaan (ishlah).
Nasihat yang benar tidak bertujuan memenangkan perdebatan, mempermalukan orang lain, atau menunjukkan bahwa pemberi nasihat lebih benar. Tujuannya membantu seseorang melihat kekeliruan yang mungkin tidak disadari dan memberikan kesempatan untuk memperbaikinya.
Kedua, kritik harus didasarkan pada fakta yang dapat diperiksa.
Hardisman mengingatkan pentingnya membedakan fakta dari prasangka, kabar yang belum diperiksa, dan kesimpulan berdasarkan emosi pribadi.
Prinsip tabayyun dalam QS Al-Hujurat ayat 6 mengajarkan bahwa informasi harus diperiksa sebelum dijadikan dasar untuk menilai atau menyalahkan seseorang.
Orang yang benar-benar berniat memberikan nasihat perlu membedakan antara mengetahui bahwa sesuatu salah dan sekadar merasa bahwa sesuatu tersebut salah.
Ketiga, kritik harus disampaikan dengan cara yang tepat.
Fakta yang benar tidak otomatis menjadikan kritik sebagai nasihat yang baik apabila disampaikan dengan cara yang menyakitkan atau merendahkan.
Dalam QS Thaha ayat 44, Allah SWT memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berbicara kepada Firaun dengan qaulan layyinan, yakni perkataan yang lemah lembut.
Prinsip tersebut mengajarkan pentingnya menjaga kelembutan ketika memberikan nasihat. Waktu, kondisi psikologis, dan tempat penyampaian juga perlu diperhatikan agar kelemahan seseorang tidak menjadi tontonan publik.
Hardisman turut mengaitkan hal tersebut dengan pemikiran Imam Al-Syafi'i mengenai nasihat yang diberikan secara rahasia sebagai bentuk kepedulian. Sebaliknya, teguran di hadapan banyak orang berisiko berubah menjadi penghinaan.
Ia mencontohkan, jika seseorang melihat kekeliruan atasannya atau ketidakkonsistenan sahabatnya, kritik objektif sebaiknya disampaikan secara baik dan langsung kepada pihak yang bersangkutan, disertai alternatif solusi.
Jika persoalan tersebut tidak disampaikan kepada orang yang bersangkutan, tetapi justru diceritakan kepada orang lain atau diumbar melalui berbagai percakapan dan media daring, tindakan itu berisiko menjadi upaya merendahkan, bukan memberikan nasihat.
Keempat, kritik harus berfokus pada persoalan, bukan menyerang kehormatan pribadi.
Hal yang perlu dikoreksi adalah keputusan, argumen, atau tindakan yang bermasalah, bukan karakter, harga diri, maupun masa lalu seseorang.
Kalimat "Keputusan ini memiliki kelemahan karena..." masih termasuk kritik konstruktif. Namun, pernyataan "Memang kamu dari dulu tidak pernah becus" telah bergeser menjadi serangan terhadap pribadi.
Dalam perspektif Islam, pergeseran tersebut bukan sekadar persoalan gaya komunikasi, tetapi juga berkaitan dengan akhlak.
Kritik Harus Membuka Jalan Perbaikan
Hardisman mengingatkan bahwa nasihat objektif tidak harus selalu menyenangkan, tetapi harus mengarah pada perbaikan. Kritik boleh disampaikan secara tegas dan menunjukkan kesalahan dengan jelas, tetapi tidak semestinya berubah menjadi penghinaan.
Pemberi nasihat juga perlu menyadari bahwa dirinya bukan hakim atas keseluruhan pribadi seseorang atau sebuah institusi. Bisa jadi, masih ada bagian dari persoalan yang belum diketahui secara utuh.
Karena itu, kritik yang sehat perlu berlandaskan kebenaran, mengutamakan kemaslahatan, dan memberikan ruang bagi perubahan.
Tujuan kritik bukan menjatuhkan orang lain atau mempertahankan posisi sebagai pihak yang paling benar, melainkan membantu seseorang maupun institusi memperbaiki kekurangan dan menjadi lebih baik. (*)
















