Sumbardaily.com, Padang – Pembangunan Flyover Sitinjau Lauik pada ruas Jalan Padang–Solok terus menunjukkan progres bertahap. Sejumlah pekerjaan utama dilaporkan telah rampung, mulai dari pembangunan pilar jembatan utama, jalan inspeksi, hingga fasilitas pendukung proyek.
Infrastruktur strategis ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi kemacetan dan risiko kecelakaan di jalur ekstrem Sitinjau Lauik.
Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat (Sumbar) menyampaikan perkembangan tersebut melalui akun media sosial resminya, Senin (5/1/2026).
Proyek Flyover Sitinjau Lauik saat ini memasuki fase lanjutan dengan fokus pada pekerjaan struktural dan persiapan pemasangan elemen jembatan.
“Sementara saat ini pekerjaan pondasi jembatan melalui pengeboran tanah dalam, pekerjaan galian badan jalan, serta tahapan persiapan pemasangan balok jembatan masih terus berlangsung,” tulis BPJN Sumbar.
BPJN Sumbar juga memastikan bahwa seluruh tahapan konstruksi dilaksanakan seiring dengan proses pembebasan lahan yang berjalan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Koordinasi lintas sektor terus dilakukan agar pekerjaan fisik dan administratif dapat berjalan beriringan tanpa menghambat target penyelesaian proyek.
“Semoga pembangunan Flyover Sitinjau Lauik dapat berjalan lancar hingga selesai dan segera memberikan rasa aman serta nyaman bagi para pengguna jalan,” lanjut BPJN Sumbar.
Flyover Sitinjau Lauik dirancang memiliki panjang sekitar 2,78 kilometer dengan trase yang memiliki tingkat kemiringan lebih landai dibandingkan jalur eksisting.
Desain tersebut memungkinkan kendaraan berat, termasuk angkutan logistik, melintas dengan lebih aman dan stabil, sekaligus mengurangi potensi kecelakaan akibat tanjakan dan turunan curam.
Proyek ini masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) dan menjadi perhatian serius pemerintah pusat dan daerah.
Jalur Sitinjau Lauik selama ini dikenal sebagai salah satu ruas jalan paling rawan kecelakaan di Sumbar, terutama pada ruas Jalan Padang–Solok yang memiliki kontur ekstrem dan volume lalu lintas tinggi.
Dari sisi pembiayaan, pembangunan Flyover Sitinjau Lauik membutuhkan investasi sekitar Rp2,8 triliun, ditambah biaya operasional dan pemeliharaan yang diperkirakan mencapai Rp562 miliar.
Untuk merealisasikan proyek tersebut, diperlukan lahan seluas kurang lebih 18,7 hektare yang sebagian besar berada di wilayah administratif Kota Padang dan Kabupaten Solok.
Dengan progres pekerjaan yang terus berjalan, Flyover Sitinjau Lauik diharapkan dapat menjadi infrastruktur kunci dalam meningkatkan konektivitas antarwilayah, memperlancar arus barang dan orang, serta menekan angka kecelakaan lalu lintas di jalur vital Sumbar. (pooke)
















