Sumbardaily.com - Pemerintah Kota Padang Panjang memperkuat upaya membangun identitas daerah dengan menggandeng akademisi, budayawan, serta berbagai pemangku kepentingan melalui penyusunan buku sejarah yang mengangkat perjalanan kota, termasuk peristiwa Gempa 1926.
Langkah tersebut diharapkan menjadi fondasi dalam memperkuat citra Padang Panjang sebagai kota sejarah, budaya, dan pendidikan sekaligus mendukung pengembangan sektor pariwisata.
Komitmen tersebut mengemuka dalam temu ramah dan silaturahmi bersama para narasumber Seminar Internasional Refleksi Satu Abad Gempa Kota Padang Panjang yang berlangsung di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota, Minggu (28/6/2026) malam.
Pertemuan itu tidak hanya menjadi ajang mempererat hubungan antara pemerintah daerah dengan para narasumber seminar, tetapi juga dimanfaatkan untuk membahas penyusunan buku sejarah Kota Padang Panjang. Buku tersebut dirancang memuat perjalanan panjang daerah, termasuk catatan mengenai Gempa 1926, sehingga dapat menjadi referensi sejarah sekaligus media edukasi bagi masyarakat dan generasi mendatang.
Wali Kota Padang Panjang Hendri Arnis mengatakan, peringatan Refleksi Satu Abad Gempa harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk membangkitkan kembali kejayaan daerah melalui penguatan berbagai sektor strategis.
Menurutnya, sejarah, kebudayaan, pariwisata, pendidikan, hingga ekonomi kreatif merupakan potensi besar yang perlu dikembangkan secara terintegrasi melalui kolaborasi lintas sektor.
"Dukungan dari seluruh pihak sangat kami harapkan untuk bersama-sama memajukan Padang Panjang. Potensi yang kita miliki harus dioptimalkan melalui kolaborasi lintas sektor agar mampu meningkatkan kunjungan wisatawan dan menggerakkan perekonomian masyarakat," ujarnya.
Hendri menilai Padang Panjang memiliki rekam jejak panjang sebagai kota pendidikan, budaya, dan religius. Karena itu, identitas tersebut perlu terus diperkuat melalui berbagai program pembangunan yang terarah agar mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing daerah.
"Kami berharap momentum Refleksi Satu Abad Gempa ini menjadi langkah besar untuk mengembalikan kejayaan Padang Panjang sebagai kota yang dikenal luas, baik di tingkat nasional maupun internasional," tambahnya.
Salah seorang narasumber seminar, Dr. Suryadi, M.A., dosen Leiden University, Belanda, memberikan apresiasi terhadap inisiatif Pemerintah Kota Padang Panjang yang menjadikan peringatan satu abad gempa sebagai ruang refleksi sekaligus momentum untuk mengembangkan potensi daerah.
Menurutnya, sejarah Gempa 1926 menyimpan nilai edukasi yang besar dan dapat dikembangkan menjadi bagian dari wisata sejarah maupun wisata kebencanaan. Upaya tersebut dinilai mampu memperkuat daya tarik Kota Padang Panjang di mata wisatawan.
"Peristiwa sejarah seperti satu abad gempa memiliki nilai edukasi dan daya tarik yang dapat dikembangkan menjadi bagian dari destinasi wisata sejarah. Hal ini tentu akan menjadi nilai tambah dalam meningkatkan kembali kunjungan wisatawan ke Padang Panjang," ungkapnya.
Ia juga menegaskan kesiapan kalangan akademisi untuk memberikan dukungan pemikiran dalam penyusunan berbagai strategi pembangunan daerah yang bertumpu pada sejarah dan kebudayaan.
Melalui sinergi antara pemerintah, akademisi, budayawan, dan masyarakat, Seminar Internasional Refleksi Satu Abad Gempa diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi strategis yang memperkuat identitas Padang Panjang sebagai kota sejarah, budaya, dan pendidikan. Rekomendasi tersebut juga diharapkan menjadi pijakan dalam mendorong pertumbuhan sektor pariwisata sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kegiatan temu ramah tersebut turut dihadiri Wakil Wali Kota Allex Saputra, Ketua Komisi III DPRD Mahdelmi, Ketua PMI Ny. Maria Feronika Hendri, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra I Putu Venda, kepala OPD terkait, para narasumber seminar, perwakilan Kementerian Kebudayaan RI, Ketua PJKIP Kota Padang Panjang Rifnaldi, serta sejumlah undangan lainnya. (*)















