Sumbardaily.com – Di tengah padatnya aktivitas jutaan umat Islam yang menjalani ibadah haji di Tanah Suci, terselip kisah ketulusan yang datang dari seorang perempuan sederhana asal Kabupaten Solok, Sumatera Barat (Sumbar).
Namanya Yuni Mardanis. Di balik perjalanan spiritualnya sebagai tamu Allah SWT, ia justru menemukan makna lain yang begitu membekas dalam hati, yakni melayani sesama jemaah lanjut usia dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.
Saat sebagian besar jemaah fokus menjalani rangkaian ibadah, Yuni kerap terlihat berjalan lebih lambat dibanding rombongan lainnya. Langkahnya bukan terhambat karena kelelahan, melainkan karena ia memilih untuk mendampingi para jemaah lansia yang membutuhkan bantuan selama menjalani aktivitas ibadah.
Perempuan yang berasal dari Nagari Sungai Nanam, Kabupaten Solok itu dengan sabar memapah jemaah lanjut usia menuju lokasi ibadah, menunggu langkah mereka yang mulai melambat, membantu mengantar ke toilet, hingga memastikan mereka dapat kembali ke kamar dengan aman.
Mereka bukanlah keluarga maupun kerabat dekat. Namun selama berada di Tanah Suci, Yuni memperlakukan para jemaah lansia tersebut dengan penuh perhatian dan ketulusan. Sikap itulah yang membuat banyak orang tersentuh dan menganggapnya sebagai sosok inspiratif di tengah perjalanan ibadah haji.
Bagi Yuni, kesempatan berangkat ke Tanah Suci tidak hanya menjadi momen untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ia juga menemukan kesempatan berharga untuk berbuat baik kepada sesama, khususnya kepada para jemaah yang membutuhkan bantuan.
Jemaah yang tergabung dalam Kloter 9 Embarkasi/Debarkasi Padang asal Kabupaten Solok tersebut mengaku merasakan kebahagiaan tersendiri ketika dapat membantu para jemaah lansia selama menjalankan ibadah haji.
“Alhamdulillah, saya seperti menemukan dua orang tua di Tanah Suci. Saya melayani mereka dengan penuh kesabaran selama proses berhaji,” ujar Yuni saat berbagi kisah, Sabtu (13/6/2026).
Ungkapan itu bukan sekadar kalimat biasa. Saat mengenang pengalamannya mendampingi para lansia, mata Yuni tampak berkaca-kaca. Ada rasa haru yang begitu mendalam ketika ia mengingat hari-hari yang dilaluinya bersama para jemaah yang membutuhkan pendampingan.
Dengan suara yang perlahan melemah, ia mengungkapkan perasaan yang selama ini menjadi sumber ketulusannya dalam melayani.
“Raso maabehan amak jo induak awak rasonyo (rasa mengurus ibu kandung sendiri rasanya),” katanya.
Kalimat dalam bahasa Minang tersebut memiliki makna yang sederhana namun sangat mendalam. Bagi Yuni, membantu para lansia terasa seperti merawat ibunya sendiri.
Perasaan itulah yang membuatnya mampu menjalani setiap proses pendampingan dengan penuh kesabaran. Setiap kali memapah jemaah yang kesulitan berjalan, menunggu langkah mereka yang tertatih-tatih, atau mengantar ke toilet, ia selalu membayangkan bagaimana jika orang yang dibantunya adalah ibunya sendiri.
Karena alasan itu pula, Yuni tidak pernah menganggap tugas membantu para lansia sebagai beban. Sebaliknya, ia justru merasakan ketenangan dan kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Di balik ketulusannya tersebut, Yuni sejatinya hanyalah seorang petani sederhana di kampung halamannya. Kehidupannya sehari-hari dihabiskan untuk mengurus sawah dan ladang di kawasan Sungai Nanam, Kabupaten Solok.
Tidak ada yang istimewa dalam kesehariannya. Namun selama bertahun-tahun, ia menyimpan satu harapan besar yang terus dipanjatkan dalam doa, yakni keinginan untuk bisa menunaikan ibadah haji.
Harapan itu mulai diwujudkan ketika ia mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji pada tahun 2013. Sejak saat itu, Yuni harus menunggu lebih dari satu dekade sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan berangkat ke Tanah Suci pada tahun 2026.
Penantian panjang tersebut akhirnya terbayar ketika ia dapat menginjakkan kaki di Makkah dan Madinah. Namun menariknya, pengalaman yang paling membekas dalam ingatannya bukan semata-mata rangkaian ibadah seperti tawaf, sa'i, maupun wukuf.
Bagi Yuni, pengalaman yang paling berkesan justru datang dari kesempatan untuk membantu sesama manusia yang membutuhkan pertolongan.
Di sela-sela aktivitas mendampingi para lansia, Yuni juga merasakan kemudahan dalam menjalani ibadah haji berkat dukungan petugas yang mendampingi jemaah Indonesia.
“Dengan adanya petugas, semua proses ibadah haji sangat terbantu dan jauh lebih mudah. Fasilitas akomodasi hotel nyaman, dan ketersediaan makanan juga sangat berlimpah,” ujarnya.
Kebaikan yang ditunjukkan Yuni selama di Tanah Suci ternyata tidak luput dari perhatian orang-orang di sekitarnya. Salah satu yang menyaksikan langsung ketulusannya adalah Ketua Rombongan (Karom), Rinaldi Bahar.
Menurut Rinaldi, Yuni merupakan sosok yang tanpa pamrih mengorbankan waktu dan tenaganya untuk membantu sesama jemaah, khususnya mereka yang sudah lanjut usia.
“Ibu Yuni Mardanis ini luar biasa. Beliau melayani jemaah lansia benar-benar seperti merawat orang tuanya sendiri,” tutur Rinaldi.
Kesaksian tersebut menggambarkan bagaimana kepedulian Yuni tidak dilakukan sesekali, melainkan secara konsisten selama menjalani ibadah haji. Ia hadir ketika para lansia membutuhkan bantuan dan memastikan mereka dapat menjalankan ibadah dengan lebih nyaman.
Kini, Yuni telah kembali ke Kabupaten Solok. Sawah dan ladang yang selama ini menjadi bagian dari kehidupannya kembali menanti untuk digarap seperti hari-hari sebelum keberangkatannya ke Tanah Suci.
Meski demikian, ada pengalaman yang tampaknya akan terus melekat dalam ingatannya. Pengalaman itu bukan tentang jauhnya perjalanan menuju Baitullah atau padatnya jutaan manusia yang berkumpul dari berbagai penjuru dunia.
Yang paling membekas adalah kenangan tentang para jemaah lansia yang pernah ia tuntun, ia papah, dan ia dampingi dengan penuh kesabaran selama berada di Tanah Suci.
Bagi Yuni Mardanis, ibadah haji tahun ini bukan hanya perjalanan spiritual menuju Baitullah. Lebih dari itu, ia menemukan ladang amal yang lain, yakni kesempatan untuk mengabdi kepada sesama dengan tulus.
Di tengah jutaan manusia yang datang untuk beribadah, petani sederhana asal Solok tersebut menunjukkan bahwa ketulusan dan kepedulian kepada sesama dapat menjadi bagian penting dari perjalanan menuju keberkahan.
Melalui sikap sederhana yang dilakukannya setiap hari, Yuni menghadirkan makna bahwa melayani orang lain dengan sepenuh hati adalah bentuk ibadah yang tak kalah berharga. (*)
















