Hantavirus Ramai Dibicarakan, Ahli Ungkap Mengapa Virus Ini Tidak Mudah Jadi Pandemi Baru

Hantavirus Ramai Dibicarakan, Ahli Ungkap Mengapa Virus Ini Tidak Mudah Jadi Pandemi Baru

Ilustrasi Virus (Foto: Pixabay)

Sumbardaily.com - Nama Hantavirus belakangan menjadi perbincangan hangat di media sosial. Kemunculan virus tersebut memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat karena dianggap berpotensi memicu pandemi baru seperti COVID-19 yang beberapa tahun lalu melanda dunia.

Meski demikian, para ahli menilai masyarakat tidak perlu terburu-buru panik. Karakteristik penularan Hantavirus dinilai berbeda jauh dibandingkan virus Corona sehingga peluang penyebarannya secara luas relatif lebih kecil.

Spesialis Ahli Bidang Epidemiologi sekaligus Kepala Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Minsarnawati, S.K.M., M.Kes., mengatakan Hantavirus tidak menular langsung dari manusia ke manusia seperti COVID-19.

"Kalau Covid itu penularannya langsung dari manusia ke manusia. Sementara Hantavirus perantaranya adalah hewan pengerat seperti tikus dan celurut," jelasnya dilansir laman resmi Kemenag Senin (15/6/2026).

Menurutnya, perbedaan mendasar tersebut membuat pola penyebaran Hantavirus tidak secepat virus Corona. Jika COVID-19 menyebar melalui percikan saluran pernapasan antarindividu, Hantavirus umumnya memerlukan perantara berupa hewan pengerat yang telah terinfeksi.

Minsarnawati menjelaskan, penularan virus ini dapat terjadi ketika seseorang terpapar urin, air liur, kotoran, maupun debu yang telah terkontaminasi oleh tikus dan hewan pengerat lainnya. Karena ditularkan dari hewan ke manusia, Hantavirus termasuk dalam kategori penyakit zoonosis.

"Kalau Corona kan dari manusia ke manusia melalui saluran pernafasan, sementara Hantavirus selama ini yang terjadi masih sebatas antarhewan, kemudian menular ke manusia," ujarnya.

Kekhawatiran masyarakat terhadap munculnya virus baru, kata dia, tidak terlepas dari pengalaman panjang menghadapi pandemi COVID-19. Trauma yang masih membekas membuat setiap informasi mengenai penyakit menular baru sering kali memicu kecemasan yang berlebihan.

Padahal, setiap virus memiliki karakteristik penularan, tingkat risiko, serta dampak kesehatan yang berbeda-beda.

Berdasarkan data Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan, kasus Hantavirus telah ditemukan di sejumlah wilayah dunia, mulai dari Amerika, Asia, Eropa hingga Afrika.

Indonesia sendiri pernah melaporkan adanya kasus Hantavirus. Namun, jenis virus yang ditemukan di Tanah Air berbeda dengan jenis Hantavirus yang dikenal memiliki tingkat kematian tinggi di kawasan Amerika.

Secara klinis, Hantavirus terbagi ke dalam dua kelompok utama. Pertama, Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yakni jenis yang menyerang ginjal dan banyak ditemukan di kawasan Asia dan Eropa. Jenis inilah yang pernah terkonfirmasi di Indonesia.

Sementara kelompok kedua adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yaitu jenis yang menyerang paru-paru dan lebih banyak ditemukan di kawasan Amerika. Dibandingkan HFRS, HPS diketahui memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi.

Belum lama ini, masyarakat juga sempat dihebohkan oleh kabar mengenai seorang warga negara Indonesia yang berada dalam satu kapal pesiar bersama penumpang yang terkonfirmasi Hantavirus. Namun setelah dilakukan pemeriksaan, warga negara Indonesia tersebut dinyatakan tidak terinfeksi.

Minsarnawati menambahkan, selain faktor paparan, kondisi daya tahan tubuh seseorang juga menjadi faktor penting yang menentukan apakah seseorang akan jatuh sakit atau tidak. Dalam ilmu epidemiologi, kondisi tersebut dikenal dengan istilah susceptible host atau kerentanan individu terhadap penyakit.

"Bisa jadi kita bertiga sama-sama kontak dengan kotoran tikus, tetapi mungkin saya yang terkena, sementara yang lain tidak karena daya tahan tubuhnya lebih kuat," ungkapnya.

Ia menjelaskan, sejumlah kelompok masyarakat memiliki risiko lebih tinggi terpapar Hantavirus. Mereka di antaranya adalah petugas kebersihan, pengelola sampah, petani, serta petugas laboratorium hewan yang sering berinteraksi dengan hewan pengerat atau lingkungan yang berpotensi terkontaminasi.

Karena itu, upaya pencegahan menjadi langkah paling penting untuk menekan risiko penularan. Masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan alat pelindung diri ketika membersihkan area yang kotor, serta memastikan makanan tersimpan dengan baik agar tidak mengundang tikus masuk ke rumah.

"Kuncinya adalah menjaga kebersihan lingkungan kita. Tikus itu suka pada lingkungan yang kotor," tegasnya.

Selain menjaga kebersihan lingkungan, masyarakat juga dianjurkan meningkatkan daya tahan tubuh melalui konsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, istirahat yang cukup, dan menghindari kebiasaan begadang.

Masyarakat juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam tinggi, sakit kepala, tubuh lemas, mual, diare, atau memiliki riwayat kontak dengan tikus maupun area yang diduga terkontaminasi dalam beberapa hari terakhir.

Di tengah derasnya informasi yang beredar di media sosial, kewaspadaan memang diperlukan. Namun, kepanikan dinilai bukan solusi dalam menghadapi kemunculan Hantavirus. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan serta menerapkan pola hidup sehat tetap menjadi langkah sederhana namun efektif untuk mencegah berbagai ancaman penyakit menular. (*)

Baca Juga

Tiga anak di bawah umur yang diduga terlibat pencurian di toko handphone Plaza Andalas diamankan polisi setelah ditemukan di kawasan Kodaeral II.
Lari dari Polisi, Tiga Anak di Padang Pelaku Pencurian Plaza Andalas Malah Masuk Markas TNI
Polemik Hijab Kadet Unhan, Kemhan Tegaskan Bukan Pembatasan Agama
Polemik Hijab Kadet Unhan, Kemhan Tegaskan Bukan Pembatasan Agama
Video tak senonoh yang diduga memperlihatkan dua ASN Pemprov Sumbar berciuman di sebuah ruangan.
Video tak Senonoh Diduga Libatkan Oknum ASN Sumbar, Pemprov Tunggu Konfirmasi dan Verifikasi
DPR Soroti Ketentuan Jilbab Unhan: Harus Jelas, Tertulis, dan Punya Dasar Hukum
DPR Soroti Ketentuan Jilbab Unhan: Harus Jelas, Tertulis, dan Punya Dasar Hukum
Rencana CPNS 2027, Guru PPPK Penuh Waktu Diberi Kesempatan Ikut Seleksi
Rencana CPNS 2027, Guru PPPK Penuh Waktu Diberi Kesempatan Ikut Seleksi
Indeks Kerukunan Umat Beragama Indonesia Naik, Kemenag Siapkan Sistem Deteksi Dini Konflik
Indeks Kerukunan Umat Beragama Indonesia Naik, Kemenag Siapkan Sistem Deteksi Dini Konflik