Sumbardaily.com - Pangan fermentasi tradisional khas Sumatera Barat, dadih, dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung upaya pencegahan stunting. Temuan tersebut merupakan bagian dari hasil penelitian jangka panjang yang dilakukan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Andalas (Unand), Prof. Dr. Helmizar, S.K.M., M.Biomed., yang menekankan pentingnya investasi gizi sejak awal kehidupan untuk menciptakan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Prof. Helmizar menjelaskan bahwa persoalan gizi di Indonesia tidak hanya terbatas pada stunting. Menurutnya, tantangan yang dihadapi saat ini mencakup triple burden of malnutrition, yakni stunting, kelebihan gizi, dan defisiensi mikronutrien yang memerlukan penanganan secara menyeluruh.
Ia mengatakan, periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan fase paling krusial dalam menentukan kualitas tumbuh kembang anak. Pada masa tersebut, kecukupan gizi berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kognitif, hingga produktivitas seseorang pada masa mendatang.
Menurut Prof. Helmizar, upaya menekan angka stunting tidak dapat hanya mengandalkan intervensi di sektor kesehatan. Pencegahan harus dilakukan melalui pendekatan terpadu yang menggabungkan penelitian, inovasi, kebijakan, serta pemberdayaan masyarakat dengan memanfaatkan potensi daerah.
Salah satu inovasi yang dikembangkannya berasal dari penelitian mengenai pemanfaatan dadih sebagai pangan fungsional. Berdasarkan hasil riset tersebut, suplementasi dadih, khususnya yang dipadukan dengan zink pada ibu hamil, memberikan berbagai manfaat terhadap kesehatan ibu maupun anak.
Penelitian itu menunjukkan bahwa kombinasi dadih dan zink mampu memperbaiki status gizi ibu hamil, meningkatkan sistem kekebalan tubuh ibu dan bayi, serta mendukung pertumbuhan anak sejak dini.
"Bahkan, hasil pemantauan hingga usia dua tahun memperlihatkan kecenderungan prevalensi stunting yang lebih rendah pada kelompok yang memperoleh intervensi tersebut," tuturnya dicuplik laman resmi Selasa (30/6/2026).
Prof. Helmizar menambahkan, hasil penelitian tersebut tidak berhenti pada pengembangan ilmu pengetahuan di laboratorium. Berbagai inovasi kemudian dihilirkan menjadi produk pangan berbasis dadih dan sorgum yang dapat dimanfaatkan masyarakat maupun dunia usaha.
Produk yang telah dikembangkan meliputi tepung dadih, minuman probiotik, roti, puding, hingga makanan pendamping ASI. Menurutnya, inovasi tersebut menjadi penghubung antara hasil riset dengan kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat kemandirian pangan melalui pemanfaatan sumber daya lokal.
Selain menyoroti pentingnya pemenuhan gizi, Prof. Helmizar juga menekankan bahwa kualitas pengasuhan memiliki peran penting dalam menentukan tumbuh kembang anak.
Ia mengungkapkan, pendekatan Manjujai, yang merupakan kearifan lokal masyarakat Minangkabau dalam memberikan stimulasi kepada anak, terbukti mampu mendukung perkembangan kognitif, kemampuan berbahasa, serta aspek sosial emosional.
Menurutnya, temuan tersebut memperlihatkan bahwa kualitas generasi masa depan tidak hanya ditentukan oleh kecukupan asupan gizi, tetapi juga dipengaruhi pola pengasuhan yang diberikan keluarga sejak usia dini. Kombinasi kedua aspek tersebut menjadi fondasi penting dalam mewujudkan generasi unggul sebagai bagian dari visi Indonesia Emas 2045. (*)
















