Sumbardaily.com – Gerakan #CantikItuAku menjadi roh utama di balik lahirnya lagu terbaru Melanie Subono berjudul “Cantik Itu Aku”. Bagi Melanie, karya ini bukan hanya sebuah rilisan musik, tetapi bentuk perlawanan terhadap standar kecantikan yang selama ini dibentuk media sosial dan budaya populer. Ia memandang bahwa persepsi cantik kerap kali dipersempit oleh penilaian orang lain, padahal setiap perempuan diciptakan berbeda dan memiliki definisi cantik masing-masing.
Ide tersebut lahir dari kegelisahan Melanie terhadap terus menguatnya stereotip tentang tubuh, penampilan, dan kesempurnaan fisik. Ia menilai bahwa publik seakan didorong untuk patuh pada standar tertentu, sehingga banyak perempuan merasa tidak cukup baik hanya karena tidak memenuhi ekspektasi tersebut. Kondisi ini menurutnya berbahaya, karena menimbulkan tekanan sosial yang seharusnya tidak perlu ada.
Melanie mengungkapkan bahwa dirinya pun, yang kerap dianggap publik sebagai sosok dengan penampilan menarik, masih sering mendapatkan komentar menghakimi. Ia menilai bahwa kebiasaan mempertanyakan status pribadi seseorang, menilai bentuk tubuh, hingga mengomentari pilihan hidup perempuan adalah bentuk labelisasi yang harus dihentikan.
“Bahkan sekelas gue pun yang orang menganggap cantik masih lho sering ditanya ‘kok nggak ada pasangan’, atau komentar lain. Kalau tidak sesuai standar di mata orang, seolah kita kurang. Cantik itu nggak ada barometernya. Kenapa kita masih hidup dengan stempel kayak gitu. Cantik itu aku, mau lo kurus, gendut, atau bahkan have a cancer,” ujar Melanie, menegaskan bahwa kecantikan tidak bisa diukur dengan ukuran apa pun.
Melalui #CantikItuAku, ia ingin mengajak masyarakat mulai menjaga mata, mulut, hati, dan pikiran, agar tidak mudah menetapkan standar atas tubuh orang lain. Menurutnya, setiap individu berhak merasa cantik tanpa harus membuktikan apa pun kepada publik. Ia mengaku bahkan dirinya sempat meragukan ucapan tersebut pada awalnya, sehingga kesadaran itu harus dibangun dari dalam untuk bisa melawan stigma sosial yang sudah mengakar.
Lagu “Cantik Itu Aku” dikemas dengan pendekatan yang lebih hangat karena Melanie tidak membawakannya sendirian. Ia menggandeng empat sahabat dekat sekaligus sosok perempuan yang menurutnya tepat untuk pesan dalam lagu ini: Widi Vierratale, Sara Wijayanto, Pia Fellini, dan Fia Fellow. Keempatnya dipilih bukan sekadar untuk kebutuhan musikal, tetapi karena mereka dianggap memiliki kenyamanan terhadap dirinya sendiri dan percaya pada gagasan besar gerakan ini.
Menurut Melanie, masing-masing rekannya membawa karakter unik. Widi tampil dengan gaya edgy yang berani menabrak pakem, bahkan mengenakan busana pengantin dan boots saat tampil di panggung adalah bagian dari ekspresi dirinya. Sara dikenal dengan hati yang lembut dan cintanya kepada semua makhluk, termasuk yang tidak kasatmata. Pia dan Fia pun dianggap sebagai perempuan kuat dengan identitas yang kokoh.
Melanie menegaskan bahwa kolaborasi ini tidak hanya sekadar menyanyi bersama. Ia melihat rekannya memiliki visi yang sama: perempuan yang mau bergerak, bukan menunggu. Mereka memahami bahwa kata “aku” dalam gerakan ini adalah penegasan bahwa setiap perempuan memiliki suara dan kebanggaan terhadap dirinya sendiri.
“Aku adalah kata paling sederhana untuk menunjukkan setiap individu, dan cantik itu perempuan. Banyak yang masih belum berani bilang ‘aku itu cantik’. Gue mau ini jadi gerakan besar agar semua perempuan sadar. Laki-laki pun harus tahu, semua orang harus melek bahwa semua perempuan itu cantik tanpa terkecuali,” terang Melanie.
Dalam hal produksi musik, Melanie kembali bekerja sama dengan Fia Fellow yang sebelumnya juga terlibat di single “Hawa Membara”. Proses mixing dan mastering dilakukan oleh Hamid Alatas di Studio Simima, menghasilkan kemasan musik yang ringan, mudah diikuti, dan sesuai dengan selera pendengar masa kini.
Saat ini, “Cantik Itu Aku” telah dapat dinikmati di berbagai platform digital dan radio. Melanie berharap lagu ini bukan hanya didengar, tetapi juga menjadi pijakan bagi perempuan untuk lebih berani menerima diri apa adanya. (*)
















