Sumbardaily.com - Perubahan zaman membuat peran ninik mamak dinilai semakin penting dalam membimbing anak kemenakan, terutama generasi muda. Di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung, adat dan agama diharapkan tetap menjadi pegangan agar generasi muda memiliki karakter serta tidak kehilangan pijakan dalam kehidupan bermasyarakat.
Hal tersebut disampaikan Bupati Pasaman Welly Suhery saat menghadiri Batagak Panghulu Kari Ibrahim, Majo Datuak dan Tuo Bainduak di Kampuang Tangah, Nagari Jambak, Kecamatan Lubuk Sikaping, Minggu (30/8/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Welly menekankan bahwa Batagak Panghulu tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan prosesi adat. Menurutnya, pengukuhan seorang panghulu sekaligus menjadi peneguhan amanah kepemimpinan yang melekat dalam kaum.
Panghulu memiliki tanggung jawab untuk menjaga marwah kaum, memberikan bimbingan kepada anak kemenakan, menyelesaikan persoalan dengan bijaksana, serta menunjukkan keteladanan di tengah masyarakat.
“Batagak Panghulu adalah peneguhan amanah kepemimpinan dalam kaum. Gelar yang dilewakan hari ini membawa tanggung jawab untuk menjaga marwah kaum, membimbing anak kemenakan, menyelesaikan persoalan dengan bijaksana, dan menjadi teladan di tengah masyarakat,” tutur Bupati Welly.
Ia mengatakan, tantangan yang muncul akibat perubahan zaman membuat keberadaan ninik mamak semakin strategis. Generasi muda membutuhkan sosok yang dapat memberikan arah sekaligus menjadi pegangan dan teladan dalam menjalani kehidupan.
Menurut Welly, anak kemenakan tidak cukup hanya mendapatkan arahan, tetapi juga membutuhkan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, keberadaan adat harus terus dijaga agar tetap hidup dalam keseharian masyarakat, sedangkan agama menjadi dasar dalam membentuk karakter.
“Anak kemenakan membutuhkan arah, pegangan, dan keteladanan. Maka adat harus tetap hidup dalam keseharian, agama menjadi landasan, dan ninik mamak hadir membimbing generasi,” ujarnya.
Bupati Welly juga mengaitkan kekuatan kaum dan nagari dengan keberlangsungan pembangunan daerah. Ia menilai masyarakat yang memiliki fondasi adat dan karakter yang kuat akan turut memperkuat nagari.
Kondisi tersebut kemudian menjadi bagian dari arah pembangunan Kabupaten Pasaman melalui program Pasaman Bangkit. Program tersebut diarahkan untuk mewujudkan Pasaman yang berkarakter, maju, dan berkelanjutan.
“Ketika kaum kuat, nagari ikut kuat, ketika nagari kuat, pembangunan daerah memiliki landasan yang kokoh,” jelasnya.
Dalam kegiatan itu, Welly turut menyampaikan komitmen Pemerintah Kabupaten Pasaman untuk terus membangun hubungan kerja dengan Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM), ninik mamak, dan pemerintah nagari.
Menurut dia, masing-masing unsur memiliki peran yang saling melengkapi dalam membangun kehidupan masyarakat. Pemerintah menjalankan pembangunan melalui berbagai kebijakan dan program, sedangkan ninik mamak memiliki tanggung jawab dalam pembinaan kaum dan anak kemenakan.
Karena itu, koordinasi dan sinergi antara pemerintah dengan ninik mamak diperlukan agar upaya menjaga masyarakat sekaligus memperkuat nagari dapat berjalan dalam satu arah.
“Pemerintah menjalankan pembangunan melalui kebijakan dan program, sementara ninik mamak membina kaum dan anak kemenakan. Keduanya harus berjalan dalam satu arah untuk menjaga masyarakat dan memperkuat nagari,” tuturnya.
Bupati Welly kemudian menyampaikan pesan khusus kepada Kari Ibrahim, Majo Datuak dan Tuo Bainduak yang dilewakan dalam prosesi tersebut. Ia meminta amanah sebagai pemangku kepemimpinan dalam kaum dijalankan dengan sikap arif, adil, dan tegas.
Panghulu juga diminta tidak hanya menjalankan tanggung jawab adat, tetapi aktif membimbing anak kemenakan, menjaga persatuan dalam kaum, serta memastikan adat dan agama tetap ditegakkan.
Selain itu, komunikasi dengan pemerintah juga perlu dibangun secara kuat. Hubungan tersebut dinilai penting agar peran ninik mamak dan pemerintah dapat berjalan beriringan dalam menjaga masyarakat serta memperkuat nagari.
“Bimbing anak kemenakan, jaga persatuan kaum, tegakkan adat dan agama, serta bangun komunikasi yang kuat dengan pemerintah,” tegasnya.
Batagak Panghulu di Kampuang Tangah tersebut dihadiri sejumlah unsur pemerintahan, pemangku adat, tokoh masyarakat, serta warga. Hadir Camat Lubuk Sikaping bersama wali nagari se-Kecamatan Lubuk Sikaping.
Ketua LKAAM Kabupaten Pasaman beserta jajaran juga hadir dalam kegiatan tersebut. Selain itu, prosesi diikuti ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, tokoh masyarakat, panghulu yang dilewakan, pemangku adat yang dikukuhkan, keluarga besar kaum, serta masyarakat Kampuang Tangah.
Bupati Welly berharap pelaksanaan Batagak Panghulu tidak berhenti sebagai sebuah prosesi adat. Ia ingin momentum tersebut dimanfaatkan untuk terus merawat adat sekaligus memperkuat karakter masyarakat di Kabupaten Pasaman.
Menurutnya, penguatan nilai adat dan agama menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan daerah. Nilai tersebut diharapkan tetap menjadi pijakan masyarakat dalam menghadapi perubahan zaman.
Ia pun mengajak seluruh unsur masyarakat untuk menjaga adat, memperkuat karakter, dan menyatukan langkah dalam mendukung pembangunan Kabupaten Pasaman.
“Mari kita rawat adat, kuatkan karakter, dan satukan langkah untuk Pasaman Bangkit yang berkarakter, maju, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Dengan demikian, peran ninik mamak diharapkan tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan kaum dan nagari, terutama dalam memberikan arah kepada anak kemenakan. Bimbingan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga nilai adat dan agama agar tetap menjadi pegangan generasi muda di tengah perubahan zaman. (*)
















