Sumbardaily.com – Seorang balita berusia tiga setengah tahun dilaporkan hilang dan diduga terseret arus sungai di Jorong 7 Saroha, Nagari Koto Tapan, Kecamatan Rao Utara, Kabupaten Pasaman. Peristiwa yang mengundang perhatian warga tersebut terjadi ketika korban bermain seorang diri di area persawahan yang berada tidak jauh dari rumahnya.
Hingga Minggu (5/7/2026), proses pencarian terhadap korban masih terus berlangsung. Kantor SAR Padang mengerahkan personel beserta sejumlah peralatan penyelamatan untuk menyisir lokasi yang diduga menjadi titik awal korban hanyut.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Kelas A Padang, Abdul Malik, mengatakan pihaknya menerima laporan mengenai kondisi yang membahayakan manusia dari Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pasaman, Mardianto, pada Minggu (5/7/2026) pukul 12.17 WIB.
Berdasarkan informasi yang diterima, kejadian bermula pada Sabtu (4/7/2026) sekitar pukul 16.00 WIB. Saat itu, balita bernama Haikal diketahui sedang bermain di luar rumah yang berbatasan langsung dengan area persawahan.
Sementara korban bermain, kedua orang tuanya berada di dalam rumah untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, yakni memasak dan mencuci piring.
Dalam keterangan resmi disebutkan bahwa setelah pekerjaan selesai, orang tua korban bermaksud memanggil anaknya. Namun, mereka terkejut karena Haikal sudah tidak lagi berada di lokasi tempat terakhir ia bermain.
Mengetahui korban menghilang, keluarga segera melakukan pencarian secara mandiri. Upaya tersebut kemudian dibantu oleh pemerintah nagari dan masyarakat sekitar dengan menyisir area di sekitar permukiman dan persawahan.
Meski pencarian telah dilakukan, korban belum berhasil ditemukan. Keberadaan aliran sungai yang berada tidak jauh dari lokasi bermain korban memperkuat dugaan bahwa balita tersebut tergelincir sebelum akhirnya hanyut terbawa arus.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim Rescue Pos SAR Pasaman langsung diberangkatkan menuju Lokasi Kejadian Pertama (LKP) pada Minggu (5/7/2026) pukul 12.35 WIB.
Sebanyak sembilan personel rescue diterjunkan dalam operasi pencarian. Tim menempuh perjalanan darat dengan estimasi waktu sekitar empat jam menuju lokasi yang berjarak kurang lebih 160 kilometer dari Pos SAR Pasaman.
Operasi pencarian difokuskan di sekitar titik koordinat perkiraan, yang menjadi lokasi awal dugaan korban terseret arus sungai.
Untuk mengoptimalkan pencarian di medan perairan, Tim SAR membawa berbagai peralatan utama. Armada yang digunakan meliputi Rescue Car Dmax Double Cabin sebagai kendaraan mobilisasi personel.
Selain itu, tim juga membawa satu unit Landing Craft Rubber (LCR) yang dilengkapi Motor Tempel (Mopel) guna melakukan penyisiran di sepanjang aliran sungai.
Tidak hanya mengandalkan pencarian manual, operasi SAR juga didukung Drone Thermal yang digunakan untuk melakukan pemindaian dari udara dalam upaya mempercepat proses pelacakan korban.
Tim juga dibekali Peralatan SAR Air, Peralatan Medis, serta Peralatan Komunikasi (Pal Kom) untuk mendukung kelancaran operasi di lapangan.
Berdasarkan informasi yang disampaikan, kondisi cuaca di sekitar lokasi pencarian saat ini terpantau berawan. Hingga proses pencarian berlangsung, belum terdapat kendala berarti yang menghambat pelaksanaan operasi.
Kantor SAR Padang menegaskan bahwa pencarian akan terus dilakukan secara terpadu dengan melibatkan BPBD, TNI, Polri, serta masyarakat setempat. Seluruh unsur yang terlibat berupaya memaksimalkan pencarian agar Haikal dapat segera ditemukan.
Operasi pencarian terhadap balita hanyut di Pasaman itu masih terus berlangsung dengan penyisiran di sekitar aliran sungai dan wilayah yang diperkirakan menjadi jalur hanyut korban. Tim gabungan berharap upaya yang dilakukan dapat segera membuahkan hasil. (*)















