Sumbardaily.com - Bukittinggi mengalami penurunan perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) paling dalam di antara sejumlah daerah tujuan wisata utama di Sumatera Barat pada Agustus 2026. Jumlah perjalanan wisatawan lokal ke kota tersebut turun 20,54 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Data tersebut tercatat ketika kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Sumatera Barat justru mengalami lonjakan hingga 60,22 persen. Kondisi ini membuat pergerakan wisatawan lokal dan wisatawan asing menunjukkan arah berbeda sepanjang Agustus 2026.
Dikutip dari BPS Sumbar Selasa (6/10/2026), jumlah perjalanan wisnus yang menjadikan kabupaten/kota di Sumatera Barat sebagai tujuan mencapai 1.903.746 perjalanan pada Agustus 2026. Angka tersebut turun 11,28 persen dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 2.145.772 perjalanan.
BPS Sumbar mencatat penurunan paling dalam di antara daerah tujuan utama terjadi di Kota Bukittinggi. Jumlah perjalanan wisnus ke kota wisata itu tercatat 139.320 perjalanan pada Agustus 2026, turun 20,54 persen dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 175.350 perjalanan.
"Jumlah perjalanan wisnus tujuan kabupaten/kota di Sumatera Barat pada Agustus 2026 mencapai 1.903.746 perjalanan, turun 11,28 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya," tulis BPS Sumbar dalam keterangan yang dikutip Selasa (6/10/2026).
Penurunan di Bukittinggi bahkan lebih dalam dibandingkan rata-rata penurunan perjalanan wisatawan nusantara di Sumatera Barat. Secara keseluruhan, perjalanan wisnus tujuan Sumbar berkurang sekitar 241.000 perjalanan dalam satu bulan, dari 2,14 juta perjalanan pada Juli menjadi 1,90 juta perjalanan pada Agustus 2026.
Jika dilihat berdasarkan jumlah perjalanan, Bukittinggi juga masih termasuk dalam lima besar daerah tujuan wisnus di Sumatera Barat. Kota Padang berada di posisi teratas dengan 450.970 perjalanan, disusul Kabupaten Agam 166.452 perjalanan, Kabupaten Solok 156.927 perjalanan, Bukittinggi 139.320 perjalanan, dan Kabupaten Padang Pariaman 137.520 perjalanan.
Seluruh daerah tersebut mengalami penurunan dibandingkan Juli 2026. Padang turun 14,32 persen, Agam 10,21 persen, Kabupaten Solok 13,13 persen, Bukittinggi 20,54 persen, dan Padang Pariaman 5,76 persen.
Kabupaten Pesisir Selatan juga mencatat penurunan sebesar 13,63 persen. Berikutnya, Kabupaten Tanah Datar turun 10,41 persen, Lima Puluh Kota 9,62 persen, Payakumbuh 5,70 persen, dan Dharmasraya 4,60 persen.
Dengan demikian, Bukittinggi menjadi daerah dengan penurunan perjalanan wisnus paling besar di antara 10 kabupaten/kota tujuan utama yang dicatat BPS Sumbar pada Agustus 2026.
Namun, penurunan tersebut tidak berarti perjalanan wisatawan ke Bukittinggi sepanjang 2026 secara keseluruhan lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Bila dibandingkan dengan Agustus 2025, jumlah perjalanan wisnus ke Bukittinggi justru meningkat 14,59 persen.
Dalam periode Januari-Agustus 2026, perjalanan wisnus yang menjadikan Bukittinggi sebagai tujuan mencapai 1.218.070 perjalanan. Angka tersebut tumbuh 3,86 persen dibandingkan periode Januari-Agustus 2025 yang tercatat 1.172.820 perjalanan.
Artinya, penurunan yang terjadi pada Agustus lebih menggambarkan pelemahan perjalanan secara bulanan. Secara kumulatif, jumlah perjalanan menuju Bukittinggi selama delapan bulan pertama 2026 masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kondisi berbeda terlihat pada pergerakan wisatawan mancanegara ke Sumatera Barat. Pada Agustus 2026, jumlah wisman yang datang melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM) mencapai 10.217 kunjungan.
Jumlah tersebut melonjak 60,22 persen dibandingkan Juli 2026 yang hanya mencapai 6.377 kunjungan. Dibandingkan Agustus 2025 yang mencatat 8.216 kunjungan, kedatangan wisman pada Agustus 2026 meningkat 24,35 persen.
Malaysia menjadi negara asal wisman dengan jumlah kunjungan terbanyak. Sepanjang Agustus 2026 terdapat 7.696 kunjungan wisman asal Malaysia ke Sumatera Barat. Jumlah tersebut meningkat 43,89 persen dibandingkan Juli 2026 yang sebanyak 4.277 kunjungan.
Australia berada di urutan berikutnya dengan 458 kunjungan, Singapura 299 kunjungan, Amerika Serikat 141 kunjungan, Thailand 120 kunjungan, dan Prancis 98 kunjungan.
Thailand mencatat kenaikan paling tinggi dibandingkan bulan sebelumnya di antara 10 negara asal wisman utama. Kunjungannya meningkat 275 persen, dari 32 kunjungan pada Juli 2026 menjadi 120 kunjungan pada Agustus 2026.
Sementara itu, pergerakan wisatawan juga dapat dilihat dari daerah asal perjalanan. Jumlah perjalanan wisnus asal kabupaten/kota di Sumatera Barat pada Agustus 2026 mencapai 1.760.204 perjalanan. Angka tersebut turun 8,40 persen dibandingkan Juli 2026 yang sebanyak 1.921.716 perjalanan.
Meski turun secara bulanan, jumlah tersebut masih meningkat 8,44 persen dibandingkan Agustus 2025.
Kota Padang menjadi daerah asal perjalanan wisnus terbanyak pada Agustus 2026 dengan 431.761 perjalanan. Berbeda dengan sebagian besar daerah lainnya, perjalanan wisnus asal Padang justru meningkat tipis 0,07 persen dibandingkan Juli 2026.
Penurunan terdalam dari sisi daerah asal terjadi pada Pasaman Barat yang mencapai 20,28 persen. Setelah itu, Pesisir Selatan turun 19,10 persen dan Lima Puluh Kota turun 10,63 persen.
Secara kumulatif Januari-Agustus 2026, perjalanan wisnus asal kabupaten/kota di Sumatera Barat mencapai 14.416.943 perjalanan. Angka ini meningkat 0,70 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Dari sisi akomodasi, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Sumatera Barat pada Agustus 2026 tercatat 50,08 persen. Angka tersebut turun 1,78 persen poin dibandingkan bulan sebelumnya.
TPK hotel nonbintang juga mengalami penurunan. Pada Agustus 2026, tingkat penghunian kamar hotel nonbintang berada di angka 16,87 persen atau turun 2,66 persen poin dibandingkan Juli 2026.
Sementara itu, rata-rata lama menginap tamu (RLMT) asing dan Indonesia di hotel berbintang justru meningkat. Pada Agustus 2026, RLMT tercatat 1,30 malam atau bertambah 0,07 malam dibandingkan bulan sebelumnya.
BPS menjelaskan, data perkembangan statistik pariwisata Sumatera Barat mencakup jumlah wisman, perjalanan wisnus tujuan Sumatera Barat, TPK hotel bintang dan nonbintang, serta rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia di hotel berbintang.
Perjalanan wisnus merupakan perjalanan penduduk Indonesia dari tempat tinggal biasanya menuju lokasi di luar lingkungan sehari-hari di wilayah Indonesia secara sukarela selama kurang dari 12 bulan dan bukan untuk bekerja atau bersekolah secara rutin.
Sementara itu, TPK menunjukkan perbandingan antara jumlah malam kamar yang terpakai dan jumlah malam kamar yang tersedia. Adapun RLMT digunakan untuk mengetahui rata-rata lama seorang tamu menginap di akomodasi dalam periode tertentu.
Data Agustus 2026 tersebut menunjukkan adanya perbedaan dinamika antara pasar wisata lokal dan internasional. Ketika perjalanan wisatawan nusantara menuju berbagai daerah di Sumatera Barat mengalami penurunan secara bulanan, termasuk penurunan paling tajam di Bukittinggi sebesar 20,54 persen, arus kedatangan wisatawan mancanegara melalui BIM justru meningkat lebih dari separuh dibandingkan bulan sebelumnya. (*)
















