Sumbardaily.com - Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Sumatera Barat, terutama Kota Padang, tidak hanya mengganggu jarak pandang dan kenyamanan warga. Kondisi tersebut juga menjadi perhatian dari sisi kesehatan karena paparan asap dapat membawa berbagai partikel yang berisiko mengganggu tubuh.
Dosen Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah (UM) Sumatera Barat, Yuliza Anggraini, mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan selama kondisi kabut asap berlangsung. Salah satu langkah yang dinilai penting adalah menggunakan alat pelindung diri, terutama masker, ketika harus melakukan aktivitas di luar ruangan.
Yuliza menjelaskan, kabut asap yang berada di wilayah Sumatera Barat dapat berasal dari sejumlah sumber. Salah satunya adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di provinsi sekitar Sumatera Barat. Asap dari kebakaran tersebut dapat terbawa oleh pergerakan angin hingga masuk ke wilayah Sumbar.
Selain karhutla, penyebaran asap juga berkaitan dengan erupsi Gunung Krakatau. Material yang keluar akibat erupsi dapat berupa abu vulkanik, gas, magma, serta berbagai material lainnya.
Material tersebut dapat membawa partikel yang berbahaya apabila terhirup manusia. Dampaknya terhadap kesehatan pun dapat muncul dalam waktu singkat maupun dalam jangka panjang.
Dalam jangka pendek, paparan asap dapat memicu gangguan pada saluran pernapasan. Tidak hanya itu, mata, kulit, THT, hingga sistem pencernaan juga dapat mengalami masalah akibat paparan tersebut.
Sementara dalam jangka panjang, paparan asap dapat berdampak lebih serius. Gangguan dapat terjadi pada paru-paru, jantung, hingga tulang. Bahkan, paparan dalam kondisi tertentu disebut dapat berujung pada kematian.
Dari sisi sistem pernapasan, sejumlah gangguan juga perlu diwaspadai masyarakat. Paparan asap dapat memicu infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), batuk, sesak napas, sampai menyebabkan asma kembali kambuh.
Kondisi tersebut menjadi semakin penting diperhatikan ketika kualitas udara menurun dan masyarakat terus terpapar asap dalam periode tertentu.
Yuliza mengatakan penggunaan masker menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko paparan. Masker dapat membantu menyaring partikel halus, memberikan perlindungan pada saluran pernapasan dan wajah, serta mengurangi jumlah asap maupun partikel yang masuk ke tubuh.
Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan penggunaan masker ketika harus berada di kawasan yang kualitas udaranya terdampak kabut asap.
“Untuk jenis masker, masyarakat disarankan menggunakan masker N95 atau KN95. Masker tersebut memiliki filter dan dirancang rapat pada wajah sehingga asap, debu, maupun partikel lebih sulit masuk dan terhirup. Sementara itu, masker kain sangat tidak dianjurkan karena memiliki pori-pori yang kasar sehingga debu atau abu lebih mudah masuk dan terhirup,” tuturnya dicuplik laman resmi UMSB Senin (14/9/2026).
Kelompok tertentu, menurut Yuliza, perlu mendapat perhatian lebih karena dinilai lebih rentan terhadap paparan kabut asap. Mereka antara lain anak berusia di bawah lima tahun atau balita, lansia berusia 60 tahun ke atas, ibu hamil, penderita penyakit kronis, pekerja lapangan, anak sekolah, serta kelompok lain yang memiliki aktivitas tinggi di luar ruangan.
Kelompok rentan tersebut disarankan melakukan perlindungan diri secara lebih optimal agar risiko gangguan kesehatan akibat paparan kabut asap dapat ditekan.
Masyarakat juga diminta mengenali gejala yang mungkin muncul setelah terpapar kabut asap. Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain batuk, sesak napas, ISPA, mata perih dan berair akibat iritasi, serta gangguan pada kulit.
Gangguan kulit dapat berupa rasa gatal, perih, maupun munculnya ruam. Selain itu, paparan juga dapat menimbulkan sakit tenggorokan dan peradangan.
Jika kondisi memungkinkan, masyarakat dianjurkan lebih banyak melakukan aktivitas di dalam rumah. Namun, apabila harus keluar, seperti pergi ke pasar, sekolah, ataupun berolahraga, penggunaan masker yang memiliki standar perlindungan seperti N95 dianjurkan. Masyarakat juga diminta memperbanyak konsumsi air putih.
Selain melindungi diri ketika berada di luar rumah, kondisi udara di dalam rumah juga perlu diperhatikan. Yuliza meminta masyarakat melakukan sejumlah langkah agar asap dan debu dari luar tidak mudah masuk ke dalam rumah.
“Untuk menjaga kondisi udara di dalam rumah, masyarakat dianjurkan menutup rapat pintu, jendela, dan ventilasi yang besar karena debu dan asap biasanya dapat masuk melalui celah pintu, jendela, maupun ventilasi. Masyarakat juga disarankan menghindari menjemur pakaian di luar ruangan dan menjaga kelembapan udara di dalam rumah. Salah satu cara yang dapat dilakukan, misalnya dengan menghidupkan kipas dengan menempelkan kain yang agak basah di belakangnya. Selain itu, masyarakat dapat menanam tanaman yang dapat menyerap debu, seperti lidah mertua dan sirih gading. Upaya lain yang tidak kalah penting adalah tidak menambah polusi di lingkungan, misalnya dengan tidak merokok dan tidak membakar sampah,” terangnya.
Masyarakat juga diminta tidak menunggu terlalu lama untuk mencari pertolongan medis apabila gejala yang muncul sudah tergolong berat.
Beberapa kondisi yang harus segera mendapatkan penanganan antara lain sesak napas berat, napas cepat dan berbunyi, nyeri dada, batuk berdarah, serta perubahan warna bibir dan kuku menjadi kebiruan.
Selain itu, demam dengan suhu lebih dari 38 derajat Celsius selama lebih dari dua hari berturut-turut juga perlu diwaspadai. Gejala lain yang membutuhkan perhatian medis adalah pusing hebat, mual dan muntah, pingsan, mata terasa sangat perih hingga tidak dapat dibuka, serta kondisi tubuh yang tiba-tiba lemas dan tidak mau makan.
Apabila mengalami kondisi tersebut, masyarakat disarankan segera mendatangi rumah sakit atau fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pertolongan.
Sebagai langkah pencegahan, Yuliza kembali mengingatkan pentingnya penggunaan masker standar, terutama N95, saat masyarakat harus beraktivitas di luar rumah. Kacamata juga dapat digunakan sebagai perlindungan tambahan.
Aktivitas berat di luar rumah sebaiknya dikurangi selama kondisi udara dipengaruhi kabut asap. Masyarakat juga dianjurkan memperbanyak minum air putih, mengonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran, serta memastikan kebutuhan istirahat tercukupi, yakni sekitar 7–8 jam setiap hari.
Selain itu, masyarakat disarankan menyediakan stok obat emergensi, menjaga kebersihan diri, serta memantau perkembangan kualitas udara melalui aplikasi maupun sumber resmi seperti BMKG.
Dengan berbagai langkah tersebut, masyarakat diharapkan dapat mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Sumatera Barat. (*)
















