Sumbardaily.com - Perkembangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera menunjukkan perubahan pada 29 Agustus 2026. Jumlah hotspot di Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi tercatat menurun, sementara hujan mulai turun di sebagian wilayah Riau.
Kementerian Kehutanan tetap menempatkan pengendalian karhutla sebagai prioritas karena kondisi di lapangan masih bergerak dinamis. Penurunan hotspot di sejumlah wilayah Sumatera terjadi ketika secara nasional jumlah titik panas justru mengalami kenaikan.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, menyampaikan perkembangan pengendalian karhutla tersebut dalam siaran pers Kementerian Kehutanan yang dikutip Senin (31/8/2026).
"Penurunan hotspot di Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi serta mulai turunnya hujan di sebagian wilayah Riau menjadi perkembangan positif," kata Ristianto Pribadi.
Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, jumlah hotspot nasional pada 29 Agustus 2026 mencapai 20.378 titik. Data tersebut menggunakan tingkat kepercayaan high, medium, dan low serta cut off hingga pukul 23.59 WIB.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan sehari sebelumnya. Pada 28 Agustus 2026, tercatat 18.092 hotspot secara nasional. Sementara pada 27 Agustus 2026, jumlahnya mencapai 14.788 titik.
Hotspot Sumatera Menurun
Di antara enam provinsi yang menjadi prioritas pengendalian karhutla, beberapa wilayah di Sumatera mencatat penurunan hotspot. Sumatera Selatan mengalami penurunan dari 1.036 titik menjadi 808 titik.
Di Riau, jumlah hotspot juga berkurang meski penurunannya tidak sebesar Sumatera Selatan. Titik panas turun dari 265 menjadi 254 titik.
Sementara itu, Jambi mencatat penurunan dari 181 menjadi 159 hotspot. Perubahan tersebut menjadi bagian dari perkembangan yang terus dipantau pemerintah dalam pengendalian karhutla.
Adapun dua provinsi lain yang masuk dalam enam wilayah prioritas justru mengalami peningkatan. Kalimantan Tengah mencatat kenaikan hotspot dari 7.703 menjadi 8.488 titik. Kemudian Kalimantan Barat meningkat dari 3.384 menjadi 6.526 titik.
Kondisi tersebut membuat Kementerian Kehutanan tetap berada dalam posisi siaga penuh. Penurunan hotspot di beberapa wilayah belum menjadi alasan untuk mengurangi pengawasan karena peningkatan masih terjadi di provinsi lainnya.
Hujan Mulai Turun di Riau
Selain penurunan hotspot, perkembangan cuaca di Riau turut menjadi perhatian dalam pengendalian karhutla. Pada Sabtu, 29 Agustus 2026, hujan turun di sebagian wilayah Riau dengan intensitas yang berbeda-beda.
Di sejumlah lokasi, hujan bahkan mencapai intensitas lebat. Namun, curah hujan tersebut belum terjadi secara merata di seluruh wilayah Riau. Masih terdapat kawasan yang belum mendapatkan hujan sehingga kondisi lahan tetap perlu dipantau.
Hujan yang mulai turun dinilai mendukung upaya pengendalian karhutla, terutama dalam membantu pembasahan lahan. Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan pada kawasan yang masih berada dalam kondisi kering.
Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan terus melakukan sejumlah kegiatan pengendalian. Langkah tersebut mencakup patroli, groundcheck, pemadaman melalui jalur darat, penyekatan penjalaran api, mopping up, pendinginan, hingga pemantauan terhadap lokasi yang berpotensi kembali terbakar.
Berdasarkan laporan operasi per 29 Agustus 2026 pukul 09.00 WIB, terdapat 112 laporan kejadian karhutla dan groundcheck firespot yang tersebar di 11 provinsi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 47 kejadian sudah dinyatakan padam, sedangkan 65 kejadian lainnya masih dalam proses pemadaman.
Operasi tersebut melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, serta pihak terkait lainnya.
Penanganan karhutla disesuaikan dengan kondisi setiap wilayah. Faktor yang menjadi pertimbangan antara lain karakteristik lahan gambut, ketersediaan sumber air, kondisi bahan bakar, arah penjalaran api, serta kemungkinan dampak terhadap masyarakat dan fasilitas publik.
Water Bombing hingga Modifikasi Cuaca
Pemerintah juga menyiagakan dukungan operasi udara untuk membantu pengendalian karhutla. Dukungan tersebut digunakan untuk kegiatan water bombing dan patroli udara.
Selain itu, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terus diupayakan pada wilayah dan waktu yang memenuhi kondisi meteorologis. Upaya tersebut ditujukan untuk membantu pembasahan lahan dan mendukung pengendalian kebakaran.
Sepanjang 2026, Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama pihak terkait telah melakukan 4.682 kali operasi penanganan karhutla. Luas area yang telah ditangani mencapai 38.277,43 hektare.
Di sisi lain, pemerintah juga masih memantau kualitas udara di enam provinsi prioritas pengendalian karhutla. Kondisi kualitas udara di wilayah tersebut berbeda-beda.
Di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, sejumlah titik pemantauan menunjukkan kualitas udara dalam kategori berbahaya. Sementara di Kalimantan Selatan, kondisi tertinggi berada pada kategori sangat tidak sehat.
Di wilayah Sumatera, sejumlah titik pemantauan di Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan berada dalam kategori tidak sehat.
Kondisi kualitas udara tersebut juga berkaitan dengan jarak pandang. Berdasarkan pengamatan BMKG pada pagi 29 Agustus 2026, jarak pandang di ibu kota enam provinsi prioritas tercatat berbeda-beda.
Palangka Raya memiliki jarak pandang 3 kilometer dengan kondisi berasap. Di Pontianak, jarak pandang hanya 0,8 kilometer dan juga berasap. Banjarmasin mencatat jarak pandang 0,5 kilometer dengan kondisi berasap.
Di Palembang, jarak pandang mencapai 6 kilometer dengan kondisi cerah berawan. Sementara Jambi mencatat jarak pandang 0,8 kilometer dalam kondisi berasap. Adapun Pekanbaru memiliki jarak pandang 2,5 kilometer dan berasap.
Jarak pandang dan kualitas udara dapat berubah mengikuti konsentrasi asap, arah dan kecepatan angin, curah hujan, serta kondisi atmosfer. Karena itu, pemerintah terus menggabungkan pemantauan hotspot, kondisi api di lapangan, kualitas udara, sebaran asap, cuaca, dan jarak pandang untuk menentukan langkah operasi berikutnya.
Kementerian Kehutanan juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Warga di wilayah yang terdampak asap diminta mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara, cuaca, dan jarak pandang serta menyesuaikan aktivitas apabila kondisi lingkungan memburuk.
Kementerian Kehutanan menegaskan hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak secara otomatis berarti terjadi kebakaran. Satu kejadian kebakaran juga dapat menghasilkan beberapa titik hotspot sehingga setiap indikasi tetap membutuhkan verifikasi melalui groundcheck dan pemantauan langsung di lapangan.
Masyarakat yang melihat asap, titik api, maupun indikasi kebakaran diminta segera melapor agar petugas dapat melakukan tindak lanjut sejak dini. Laporan dapat disampaikan melalui Posko Karhutla Kementerian Kehutanan di nomor 021-5704618, WhatsApp +62 8131-00-35000, atau email [email protected].
Dengan kondisi tersebut, hotspot karhutla di sejumlah wilayah Sumatera memang menunjukkan penurunan, termasuk di Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Namun, Kementerian Kehutanan tetap mempertahankan kewaspadaan karena perkembangan karhutla masih dapat berubah mengikuti kondisi cuaca, lahan, dan penyebaran api di lapangan. (*)
















