Sumbardaily.com - Tragedi kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2 yang terjadi di perairan utara Pulau Sapudi, Sumenep, Jawa Timur (Jatim), menyisakan duka bagi keluarga di Sumatera Barat (Sumbar).
Salah satu korban meninggal dalam insiden kapal rute Surabaya-Makassar tersebut, Rino Eka Putra, warga Kabupaten Agam, telah berhasil diidentifikasi melalui proses Disaster Victim Identification (DVI) dan dipulangkan ke rumah duka pada Rabu (5/8/2026) pagi.
Jenazah Rino Eka Putra diterima Tim DVI Polda Sumbar di Posko DVI Bid Dokkes Polda Sumbar yang berada di Ruang Kargo Bandara Internasional Minangkabau (BIM).
Jenazah tiba setelah diberangkatkan dari Jakarta menggunakan pesawat Pelita Air pada Rabu sekitar pukul 05.30 WIB dan mendarat di BIM pada pukul 08.00 WIB.
Berdasarkan hasil identifikasi, data antemortem (AM) 004 dinyatakan sesuai dengan data postmortem (PM) 004.
Korban bernama Rino Eka Putra (48), warga Kampung Dalam, Jorong Tangah Koto, Nagari Sungai Pua, Kecamatan Sungai Pua, Kabupaten Agam.
Setelah proses penerimaan selesai, jenazah diserahkan kepada pihak keluarga. Selanjutnya, jenazah diberangkatkan menuju rumah duka di Sungai Pua, Kabupaten Agam, menggunakan ambulans RS Bhayangkara Padang.
Rino menjadi salah satu dari lima korban jiwa dalam kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2. Kapal tersebut terbakar hebat saat melayani pelayaran dari Surabaya menuju Makassar pada Senin (3/8/2026) pagi.
Kebakaran diperkirakan mulai terjadi sekitar pukul 06.00-07.00 WIB di perairan utara Pulau Sapudi, Sumenep. Informasi awal mengenai kejadian diterima dari nakhoda kapal oleh perusahaan pemilik kapal, PT Atosim Lampung Pelayaran (ALP).
Namun, komunikasi dengan nakhoda kemudian terputus setelah laporan mengenai kebakaran disampaikan. Koordinasi penanganan selanjutnya dilakukan melalui Syahbandar Tanjung Perak bersama unsur SAR.
"Korban berhasil dievakuasi, selamat 227," kata Kepala Kantor SAR Surabaya Nanang Sigit.
Berdasarkan data manifes resmi Polairud Polda Jatim, kapal tersebut mengangkut 232 orang. Rinciannya terdiri dari 219 sopir dan kernet serta 13 penumpang dewasa.
Selain manusia, kapal juga membawa 181 kendaraan dengan jenis beragam, mulai motor, mobil kecil, truk sedang, truk besar, tronton hingga satu alat berat.
Besarnya muatan penumpang dan kendaraan membuat proses evakuasi berlangsung dalam situasi sulit. Api dengan cepat menjalar dan menguasai sebagian besar badan kapal hingga bangunan kapal nyaris seluruhnya terbakar. "Korban meninggal dunia 5," kata Nanang Sigit.
Gambaran kepanikan penumpang juga terlihat dari video amatir yang beredar. Dalam rekaman tersebut, sejumlah penumpang tampak berkumpul di bagian anjungan dan haluan untuk menjauh dari kobaran api serta kepulan asap.
Sebagian penumpang bahkan memilih melompat ke laut untuk menyelamatkan diri sembari menunggu pertolongan.
Sedikitnya sembilan kapal dikerahkan dalam operasi penyelamatan. Di antaranya TB Hasnur 26, British Mentor, KM Mutiara Ferindo 1 dan KN SAR 249 Permadi, bersama unsur SAR gabungan lainnya.
Hingga pembaruan data pukul 17.00 WIB, sebanyak 227 penumpang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat. Sementara itu, lima orang dinyatakan meninggal dunia.
Para korban selamat selanjutnya dibawa ke Pelabuhan Gapura Surya Nusantara (GSN) Surabaya untuk menjalani pemeriksaan kesehatan dan mendapatkan penanganan medis.
Di tengah proses penanganan korban, persoalan data penumpang turut menjadi perhatian pemerintah. Menteri Perhubungan (Menhub), Dudy Purwagandhi yang datang langsung ke lokasi menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban sekaligus memastikan pemerintah mengawal proses penanganan setelah kejadian.
"Saya sangat prihatin atas kejadian ini. Sebagaimana yang dilaporkan, saat ini ada lima penumpang yang dinyatakan meninggal dunia," tutur Dudy.
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menemukan adanya perbedaan antara data manifes dengan kondisi faktual di lapangan.
Ketidaksesuaian tersebut menyangkut jumlah korban selamat maupun penumpang yang benar-benar berada di atas kapal ketika kebakaran terjadi.
Dudy mengatakan pencocokan data masih dilakukan untuk memastikan jumlah penumpang sebenarnya, termasuk mereka yang selamat dan meninggal dunia.
"Iya, makanya kami akan cocokkan, karena memang ada simpang siur antara manifes dengan faktual yang ada di lapangan," kata Dudy.
"Jadi informasi yang kami dapatkan ada penumpang juga yang membatalkan perjalanan, oh, tapi tidak dilakukan revisi atas manifes. Ini yang harus kami cocokkan kembali, berapa yang ada faktual," sambungnya.
Persoalan manifes semakin menjadi perhatian setelah terdapat keluarga korban yang mengaku tidak menemukan nama anggota keluarganya dalam daftar penumpang.
Pemerintah juga menemukan lima anak yang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat tetapi tidak tercatat dalam manifes.
Menurut Dudy, seluruh orang yang berada di atas kapal harus tercatat. Pencatatan tersebut tidak hanya berkaitan dengan administrasi, tetapi juga berhubungan langsung dengan aspek keselamatan ketika terjadi keadaan darurat.
"Kejadian ini menjadi pelajaran penting juga buat pengelola atau perusahaan pelayaran, bahwa semua yang on board siapapun itu harus ada datanya. Nah, itu ada 5 anak yang yang tidak tercatat dalam manifes. Jadi mungkin hanya dicantumkan anak ini akan menjadi evaluasi kami juga kenapa tidak tercatat di dalam manifes," ucapnya.
Pemerintah menyatakan insiden KMP Mutiara Sentosa 2 tidak hanya akan menjadi bahan investigasi terkait penyebab kebakaran. Tata kelola manifes dan penerapan standar keselamatan pelayaran juga akan dievaluasi.
Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah kewajiban pencatatan seluruh penumpang. Data yang akurat diperlukan untuk memastikan kebutuhan perlengkapan keselamatan tersedia sesuai jumlah orang di kapal, termasuk perlengkapan yang diperuntukkan bagi anak-anak.
"Kemudian juga penyiapan apa life jacket dan segala macam itu kan bisa untuk anak kan harus ada ukurannya, ya. Jadi itu yang menjadi bahan catatan kami dan juga akan menjadi bahan evaluasi kami terhadap pelayaran," pungkasnya. (*)
















