Ikatan Istimewa Messi dan Argentina Tetap Bersinar Meski Gagal Juara Piala Dunia 2026

Sumbardaily.com – Hubungan antara Lionel Messi dan para pendukung Argentina kembali menunjukkan makna yang jauh melampaui kemenangan maupun trofi. Sesaat setelah La Albiceleste harus mengakhiri perjalanan di Piala Dunia 2026 sebagai runner-up, sorotan publik justru tertuju pada momen penuh emosi yang tercipta di tribun New York New Jersey Stadium.

Alih-alih larut dalam kekecewaan, ribuan suporter memilih mengiringi sang kapten dengan nyanyian dan penghormatan yang menggambarkan ikatan istimewa yang telah terjalin selama bertahun-tahun.

Ketika upacara penyerahan trofi segera dimulai, perhatian sebagian besar penonton tidak hanya tertuju kepada para juara. Kamera-kamera telepon genggam justru mengarah ke sisi belakang gawang, lokasi berkumpulnya mayoritas pendukung Argentina yang terus bernyanyi tanpa henti.

Lagu yang mereka lantunkan menggema memenuhi stadion, menyampaikan rasa cinta kepada negara dan tim nasional yang tidak luntur meski kekalahan baru saja mereka rasakan.

Di tengah suasana tersebut, Lionel Messi menjadi salah satu pemain pertama yang menoleh ke arah tribun usai menerima medali runner-up. Ia berdiri tanpa mengenakan sepatu, hanya berbalut kaus kaki, sementara kedua tangannya terlipat di belakang punggung.

Sang kapten memilih menikmati setiap detik momen tersebut sembari membiarkan emosinya mengalir bersama rekan-rekan setim yang mengelilinginya.

Pemandangan itu menjadi kontras dengan pengalaman-pengalaman pahit yang pernah dialaminya bersama tim nasional. Kali ini, para pendukung Argentina tidak menunjukkan kemarahan ataupun tuntutan.

Walaupun kecewa karena gagal membawa pulang trofi setelah menempuh perjalanan panjang sejak Kansas City selama 45 hari, mereka justru memberikan penghargaan atas perjuangan tim yang terus bertarung hingga detik terakhir pertandingan.

Bahkan ketika Rodri menerima penghargaan adidas Golden Ball, perhatian suporter Argentina tetap tidak beralih dari sosok Messi. Mereka mengangkat tangan secara serempak sebagai bentuk penghormatan sambil meneriakkan nama sang kapten berulang kali.

"Meeeeessi! Meeeeessi!"

Seruan itu menggema di seluruh stadion, menjadi simbol bahwa bagi para pendukung Argentina, penghargaan terbesar bukan sekadar trofi individu ataupun gelar juara. Mereka ingin memastikan Messi mengetahui bahwa dedikasi dan pengorbanannya selama bertahun-tahun tidak pernah dilupakan.

Piala Dunia 2026 menjadi turnamen keenam Messi bersama Argentina. Setelah perjalanan panjang itu berakhir pada Minggu sore, para penggemar tidak lagi berharap lebih dari sang legenda. Mereka hanya ingin mengucapkan terima kasih atas semua yang telah ia berikan kepada negaranya.

Situasi tersebut sangat berbeda dibandingkan satu dekade sebelumnya di stadion yang sama.

Kala itu, Messi meninggalkan lapangan dengan luka yang jauh lebih dalam. Setelah tendangan penaltinya melambung di atas mistar pada final CONMEBOL Copa America Centenario 2016 melawan Chile, ia terlihat menarik bagian bawah bajunya seakan ingin merobeknya. Kepalanya tertunduk memandangi rumput lapangan sambil mendengar sorak-sorai para pendukung lawan.

Dari sudut matanya, ia melihat rekan-rekan setim menunggu untuk memberikan dukungan. Namun Messi memilih menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia kemudian berjalan menuju barisan pemain di garis tengah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Tatapannya kosong ke arah tribun ketika adu penalti berlanjut hingga akhirnya Chile memastikan diri sebagai juara.

Sesudah perayaan Chile dimulai, Messi berjalan perlahan menuju bangku cadangan yang telah kosong. Ia duduk seorang diri dan seolah tidak ingin ada siapa pun yang mendekatinya. Kekecewaan yang ia rasakan begitu besar hingga sulit menerima kenyataan bahwa Argentina kembali gagal di partai puncak.

Setelah pertandingan selesai, Messi keluar dari ruang ganti dengan langkah yang berat. Saat itu ia baru saja mengalami kekalahan keempat di final bersama tim nasional, yakni pada Copa America 2007, Piala Dunia 2014, Copa America 2015, serta Copa America Centenario 2016.

Di tengah suasana tersebut, ia melontarkan pernyataan yang kemudian mengguncang dunia sepak bola.

"Ini tidak terjadi. Kami sudah mencoba dan itu saja. Hal pertama yang terlintas dalam pikiran saya adalah bahwa semuanya sudah berakhir, perjalanan saya bersama tim nasional sudah selesai."

Ucapan tersebut membuat banyak pihak percaya bahwa perjalanan Messi bersama Argentina benar-benar telah berakhir.

Padahal, stadion yang menjadi saksi kesedihan mendalam pada 2016 itu pula yang sepuluh tahun kemudian menghadirkan salah satu penghormatan paling emosional sepanjang karier internasionalnya.

Kekalahan di Final Piala Dunia 2026 Jadi Momen Paling Emosional

Namun, kisah Lionel Messi bersama Argentina ternyata tidak berakhir pada malam penuh kesedihan tersebut.

Hanya 66 hari setelah mengumumkan keinginannya mengakhiri karier internasional, pemain kelahiran Rosario itu kembali mengenakan seragam La Albiceleste dalam laga kualifikasi Amerika Selatan.

Kepulangannya langsung memberikan dampak besar. Messi mencetak gol tunggal yang memastikan Argentina mengalahkan Uruguay dengan skor 1-0.

Keputusan untuk kembali itu menjadi titik balik perjalanan karier internasionalnya. Lima tahun kemudian, penantian panjang yang selama ini membayangi dirinya akhirnya berakhir ketika ia berhasil mengangkat trofi internasional pertamanya bersama Argentina pada Copa America 2021.

Pengalaman melewati berbagai kegagalan itulah yang kemudian membentuk cara pandang Messi terhadap sepak bola dan kehidupan. Menjelang final Piala Dunia 2026 melawan Spanyol, ia mengungkapkan bahwa kekalahan justru menjadi bagian penting dalam proses pembentukan dirinya sebagai seorang pemain.

"Sejak masih muda, saya belajar dan memahami bahwa Anda lebih sering kalah daripada menang, dan saya rasa hal itu membantu saya berkembang sebagai pribadi dan sebagai pemain," ujar Messi dalam konferensi pers menjelang pertandingan final, dilansir dari FIFA, Rabu (22/7/2026).

Memasuki usia 39 tahun, peran Messi di tim nasional telah berubah. Ia tidak lagi hanya dikenal sebagai pencetak gol terbanyak maupun pemberi assist terbanyak Argentina sepanjang turnamen. Kehadirannya berkembang menjadi pusat permainan sekaligus simbol ketenangan yang mampu memengaruhi cara tim menikmati pertandingan.

Secara fisik, ia memang tidak lagi memiliki kecepatan seperti pada masa-masa awal kariernya. Namun, kemampuan membaca ruang, kecerdasan mengambil keputusan, serta sentuhan kaki kiri yang selama bertahun-tahun menjadi ciri khasnya tetap mampu membuat perbedaan.

Jika dahulu Messi mendominasi pertandingan dengan aksi individu yang nyaris tanpa henti, kini pengaruhnya muncul melalui keputusan-keputusan penting pada momen krusial. Tanggung jawabnya memang tidak sebesar sebelumnya, tetapi setiap sentuhan yang ia lakukan membawa makna yang jauh lebih besar.

Perjalanan Argentina sepanjang Piala Dunia 2026 juga memperlihatkan bagaimana emosi sang kapten menyatu dengan perjuangan seluruh tim.

Air mata yang mengalir setelah pertandingan melawan Mesir pada babak 16 besar menjadi salah satu gambaran besarnya tekanan yang mereka rasakan.

Demikian pula luapan emosi seusai kemenangan dramatis atas Inggris, yang menunjukkan betapa besar arti setiap pertandingan bagi Messi dan rekan-rekannya.

Ketika menghadapi Spanyol di partai final, penderitaan itu kembali terlihat. Argentina harus berjuang selama 120 menit tanpa pernah berhenti mengejar bola. Kelelahan menjadi tantangan yang harus dihadapi seluruh pemain hingga peluit panjang dibunyikan.

Sebelum laga puncak berlangsung, Messi bahkan telah mengakui bahwa kondisi fisik tim mulai terkuras setelah menjalani rangkaian pertandingan yang sangat berat.

"Kenyataannya, saya tiba di sini dalam kondisi lelah seperti semua rekan setim saya — memberikan segalanya di setiap pertandingan — dan hal itu sangat menguras tenaga seluruh tim. Semakin sulit untuk memulihkan kondisi setiap saat," katanya.

Sepanjang turnamen, sang kapten hampir tidak pernah meninggalkan lapangan. Ia bermain di setiap menit pertandingan, kecuali saat menghadapi Aljazair pada fase grup ketika dirinya ditarik keluar setelah mencetak hat-trick, serta pertandingan melawan Yordania ketika ia tampil sebagai pemain pengganti pada babak kedua.

Kontribusi tersebut memperlihatkan betapa pentingnya peran Messi dalam perjalanan Argentina menuju partai final.

Setiap pertandingan menghadirkan cerita berbeda yang seolah menggambarkan keseluruhan perjalanan kariernya.

Saat melawan Tanjung Verde, ia terus berlari tanpa mengenal lelah meskipun pertandingan berlangsung dengan intensitas fisik tinggi dan harus berlanjut ke babak perpanjangan waktu di tengah cuaca panas Miami.

Ketika menghadapi Mesir, ia kembali menunjukkan semangat pantang menyerah. Bahkan saat menemukan ruang di sisi kanan lapangan, pergerakannya seolah mengingatkan publik pada Messi 15 tahun lalu ketika masih tampil sebagai pemain sayap yang sulit dihentikan lawan.

Laga menghadapi Inggris menjadi salah satu penampilan paling berkesan selama turnamen.

Dalam pertandingan tersebut, Messi terus meminta bola, mengatur ritme permainan, dan mencatatkan dua assist yang membantu Argentina membalikkan keadaan. Penampilan itu kemudian menjadi salah satu pertandingan paling ikonik dalam sejarah tim nasional Argentina.

Final melawan Spanyol menghadirkan tantangan yang berbeda.

Messi beberapa kali kehilangan duel, sama seperti sebagian besar rekan setimnya. Namun, ia tidak pernah berhenti mencoba hingga menit-menit terakhir.

Ia beberapa kali kalah dalam adu kecepatan menghadapi Pau Cubarsi yang tampil luar biasa sepanjang pertandingan. Di lini tengah, keberadaan Rodri juga menjadi tantangan besar.

Situasi tersebut bukan sesuatu yang memalukan mengingat Rodri merupakan peraih penghargaan adidas Golden Ball, sementara Cubarsi tampil sebagai Pemain Muda Terbaik FIFA.

Messi juga kesulitan menemukan ruang untuk menerima umpan, bahkan ketika memilih turun lebih dalam demi membantu membangun serangan. Meski demikian, hingga detik terakhir pertandingan ia tetap menunggu satu peluang yang mungkin mampu mengubah jalannya laga.

Harapan itu memang tidak pernah datang.

Akan tetapi, kegagalan tersebut tidak menghapus perjalanan panjang yang telah ia bangun bersama Argentina.

Jauh sebelum berhasil memenangkan berbagai gelar internasional, Messi pernah mengungkapkan alasan mengapa ia terus bertahan bersama tim nasional meski berkali-kali mengalami kegagalan.

"Saya ingin mengakhiri karier dengan telah memenangkan sesuatu bersama Argentina. Jika tidak, saya akan menyesal karena tidak mencoba sebanyak mungkin, dan saya akan memiliki perasaan bahwa saya tidak memberikan segalanya serta membiarkan kesempatan berlalu begitu saja. Saya harus bangkit, mencoba lagi, dan terus melangkah," ujar Messi pada 2019.

Ucapan itu kemudian menjadi kenyataan. Ia bangkit, terus mencoba, dan akhirnya berhasil memenangkan seluruh gelar yang selama bertahun-tahun hanya menjadi impian.

Karena itulah, ketika kesempatan kembali datang di Piala Dunia 2026, Messi tetap memilih melanjutkan perjuangannya. Bukan semata-mata karena ambisi untuk kembali menjadi juara, melainkan juga karena ikatan emosional yang tidak pernah terputus dengan Argentina.

Semangat itulah yang pada akhirnya dibalas oleh para pendukungnya di Amerika Serikat.

Sesaat setelah pertandingan usai, ketika tenaga para pemain telah habis dan tidak ada lagi yang bisa mereka berikan di atas lapangan, ribuan suporter justru menghadiahkan bentuk penghormatan yang mungkin lebih berharga daripada trofi.

Nyanyian, tepuk tangan, dan seruan nama Lionel Messi terus bergema di New York New Jersey Stadium. Tidak ada tuntutan, tidak ada kemarahan, hanya rasa terima kasih kepada seorang pemain yang selama bertahun-tahun telah memberikan segalanya untuk negaranya.

Pemandangan tersebut menjadi penutup yang sarat makna bagi perjalanan Argentina di Piala Dunia 2026. Kekalahan memang menutup langkah La Albiceleste di final, tetapi tidak sedikit pun mengurangi ikatan antara Lionel Messi dan para pendukung Argentina.

Pada akhirnya, malam di New York New Jersey Stadium bukan hanya menjadi kisah tentang tim yang gagal mengangkat trofi. Lebih dari itu, malam tersebut dikenang sebagai momen ketika cinta, kesetiaan, dan rasa hormat mengalahkan hasil pertandingan.

Di penghujung perjalanan itu, Messi dan Argentina tidak berpisah dengan penyesalan, melainkan dengan satu hadiah yang tidak dapat diukur oleh gelar apa pun: pelukan terakhir penuh kasih sayang dari para pendukung yang telah menemani setiap langkah perjuangannya. (*)

Baca Juga

Momen Pelukan Messi dan Yamal, Tanda Pergantian Generasi Dimulai?
Momen Pelukan Messi dan Yamal, Tanda Pergantian Generasi Dimulai?
Argentina Gagal Juara Piala Dunia 2026, Scaloni: Spanyol Memang Tim yang Lebih Baik
Argentina Gagal Juara Piala Dunia 2026, Scaloni: Spanyol Memang Tim yang Lebih Baik
Mbappe Sabet Sepatu Emas Usai Jadi Top Skor Piala Dunia 2026
Mbappe Sabet Sepatu Emas Usai Jadi Top Skor Piala Dunia 2026
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Mbappe Pimpin, Messi Masih Punya Peluang
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Mbappe Pimpin, Messi Masih Punya Peluang
Jelang Spanyol vs Argentina, de la Fuente Bicara Soal Messi dan Yamal
Jelang Spanyol vs Argentina, de la Fuente Bicara Soal Messi dan Yamal
Argentina vs Spanyol: Lionel Scaloni Percaya Skuadnya Siap Ukir Sejarah Baru
Argentina vs Spanyol: Lionel Scaloni Percaya Skuadnya Siap Ukir Sejarah Baru