Sumbardaily.com – Jepang vs Brasil pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 bukan sekadar duel dua kekuatan sepak bola dunia. Pertandingan tersebut juga menghadirkan kisah emosional bagi Marcus Tulio Tanaka, mantan bek tim nasional Jepang yang lahir di Brasil dan membangun karier gemilang bersama Samurai Biru.
Pertemuan kedua negara memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar persaingan di lapangan hijau. Meski dipisahkan oleh jarak geografis yang sangat jauh, Brasil dan Jepang memiliki hubungan sejarah, budaya, hingga sepak bola yang telah terjalin selama lebih dari satu abad.
Brasil menjadi rumah bagi hampir tiga juta keturunan Jepang, menjadikannya negara dengan populasi diaspora Jepang terbesar di dunia. Sebaliknya, Jepang juga menjadi tempat tinggal komunitas warga Brasil terbesar kelima di luar negeri. Hubungan panjang tersebut turut membentuk keterikatan yang kuat dalam perkembangan sepak bola kedua negara.
Salah satu contoh paling awal adalah perjalanan legenda Jepang Kazuyoshi Miura yang mengawali karier profesional bersama klub Brasil, Santos. Sebaliknya, sepak bola Jepang sejak lama menjadikan Brasil sebagai sumber inspirasi. Hal itu terlihat dari sejumlah klub J.League yang menggunakan istilah berbahasa Portugis maupun mengadopsi warna khas klub-klub Brasil.
Pengaruh Brasil di kompetisi domestik Jepang pun masih terasa hingga saat ini. Jumlah pemain asal Brasil yang berkiprah di J.League masih melampaui total pemain asing dari seluruh negara lainnya.
Selain para pemain asing, hubungan kedua negara juga tercermin melalui sejumlah pesepak bola kelahiran Brasil yang kemudian membela tim nasional Jepang melalui proses naturalisasi. Nama-nama seperti Ruy Ramos, Wagner Lopes, Alex Santos, hingga Marcus Tulio Tanaka menjadi simbol eratnya hubungan sepak bola kedua negara.
Alex Santos tampil bersama Jepang pada Piala Dunia 2006, sementara Wagner Lopes memperkuat Samurai Biru pada Piala Dunia 1998. Namun di antara seluruh nama tersebut, Marcus Tulio Tanaka menjadi salah satu sosok yang paling dikenang publik Jepang.
Lahir di Brasil dari ayah keturunan Jepang generasi kedua dan ibu berdarah Brasil-Italia, Marcus Tulio Tanaka hijrah ke Jepang ketika masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Adaptasi yang dijalaninya berjalan cepat hingga kurang dari lima tahun kemudian ia berhasil menembus J.League bersama Sanfrecce Hiroshima.
Perjalanan kariernya terus menanjak hingga akhirnya dipanggil memperkuat tim nasional Jepang pada 2006. Bersama Samurai Biru, ia kemudian tampil di berbagai ajang bergengsi dunia dan menjadi salah satu bek paling disegani.
Kini, pada usia 45 tahun, Marcus Tulio Tanaka menjalani kehidupan yang sangat berbeda dibanding masa aktifnya sebagai pesepak bola profesional. Ia membagi waktunya antara kunjungan rutin ke Jepang dan kehidupan yang jauh lebih tenang di pedesaan Brasil.
Mantan bek tangguh tersebut memilih menetap di Palmeira d'Oeste, kota kecil dengan populasi sekitar 10.000 jiwa yang berjarak sekitar 600 kilometer dari Sao Paulo. Kehidupan sederhana di kawasan pedesaan itu menjadi pilihan yang sejak kecil telah ia impikan.
Dalam wawancara eksklusif menjelang laga Jepang kontra Brasil di babak 32 besar Piala Dunia FIFA 2026, Tulio mengaku sama sekali tidak merindukan kehidupan sebagai pesepak bola profesional.
Menurutnya, selama 23 tahun berkarier di dunia sepak bola, seluruh hidupnya tercurah untuk olahraga tersebut. Kini ia ingin menikmati kehidupan yang benar-benar diinginkannya sejak kecil, yakni tinggal di peternakan, memancing, serta hidup berdampingan dengan sapi dan kuda.
Ia menjelaskan bahwa lingkungan tempat tinggalnya sangat tenang karena tidak memiliki lampu lalu lintas. Kondisi tersebut membuat ritme kehidupan masyarakat berjalan santai tanpa hiruk-pikuk kota besar.
Baginya, kebebasan untuk pergi ke sungai kapan saja, melihat peternakan sapi, hingga membeli kuda menjadi bentuk kebahagiaan yang selama ini ia dambakan. Berbeda ketika berada di kota besar, di mana ia masih sering diminta tanda tangan maupun foto oleh para penggemar.
Meski menikmati kehidupan sederhana di Brasil, perhatian Marcus Tulio Tanaka tetap tertuju kepada perjalanan tim nasional Jepang di Piala Dunia 2026.
Ketika hasil undian membuka peluang pertemuan Jepang melawan Brasil pada babak 32 besar, mantan pemain Urawa Red Diamonds tersebut kembali menjadi sorotan. Ia mengaku sangat sulit diminta memilih antara negara kelahirannya dan negara yang membesarkan namanya sebagai pesepak bola profesional.
Namun demikian, ia menilai peluang Jepang kali ini jauh lebih besar dibanding edisi-edisi Piala Dunia sebelumnya.
Menurutnya, Jepang saat ini memiliki organisasi permainan yang sangat baik. Para pemain memahami dengan jelas apa yang harus dilakukan di lapangan dan mampu menjalankan strategi sesuai rencana permainan yang telah disiapkan.
Ia juga menyoroti perjalanan Jepang di fase grup yang menurutnya cukup berat. Belanda menjadi lawan utama, sementara Tunisia dan Swedia juga memberikan tantangan tersendiri.
Marcus Tulio Tanaka menilai Swedia diperkuat sejumlah pemain berkualitas yang tampil di berbagai kompetisi elite Eropa dan mampu memberikan perlawanan sengit kepada Jepang.
Meski demikian, ia melihat Samurai Biru berhasil menunjukkan perkembangan positif. Menurutnya, Jepang kini berada di jalur yang benar untuk menjadi kekuatan yang mampu bersaing hingga fase-fase akhir turnamen.
Ia menegaskan bahwa untuk menjadi juara dunia, setiap tim harus mampu melewati berbagai rintangan berat sejak babak gugur hingga semifinal. Brasil memang memiliki sejarah panjang sebagai juara dunia, tetapi Jepang dinilainya sedang berkembang ke arah yang sangat positif.
Optimisme tersebut bukan tanpa alasan. Marcus Tulio Tanaka pernah merasakan langsung atmosfer kompetisi level tertinggi dunia.
Pada level klub, ia menjadi bagian dari skuad Urawa Red Diamonds yang finis di posisi ketiga dalam ajang pendahulu Piala Dunia Antarklub FIFA pada 2007.
Sebelumnya, ia juga memperkuat Jepang pada Turnamen Sepak Bola Olimpiade Putra 2004 sebelum tampil di Piala Dunia 2010 bersama Samurai Biru.
Selama membela Jepang, Tulio mencatatkan 43 penampilan internasional. Di level klub, ia menjalani karier selama 18 musim di J.League dengan hampir 500 pertandingan.
Sebagai bek, ia dikenal memiliki kemampuan bertahan yang kuat. Dalam beberapa kesempatan, ia bahkan dipercaya bermain sebagai penyerang ketika tim membutuhkan tambahan daya gedor.
Meski wajahnya sangat dikenal masyarakat Jepang, Marcus Tulio Tanaka justru merasa kehidupan paling nyaman berada jauh dari sorotan publik, yakni di kota kecil Palmeira d'Oeste.
Di sana, ia tidak sekadar menikmati masa pensiun, tetapi juga berusaha memberikan manfaat bagi masyarakat yang telah membesarkannya.
Salah satu bentuk pengabdiannya adalah membangun sekolah bernama CEIA menggunakan dana pribadinya bersama sang ayah. Proyek tersebut memakan waktu sekitar satu setengah tahun hingga akhirnya resmi dibuka pada Juni tahun lalu.
Menurut Tulio, keberhasilan yang diraihnya sebagai pesepak bola profesional merupakan anugerah yang harus disyukuri. Karena itu, ia ingin mengembalikan sebagian rezekinya kepada masyarakat melalui sektor pendidikan.
Ia menilai pendidikan merupakan kebutuhan penting yang sebelumnya masih kurang tersedia di kota kelahirannya. Kehadiran sekolah tersebut diharapkan mampu menjadi tempat bagi para siswa untuk belajar sekaligus berolahraga dengan fasilitas yang lebih baik.
Setahun setelah diresmikan, CEIA telah berkembang pesat. Sekolah tersebut kini memiliki sekitar 700 siswa, didukung 42 tenaga pengajar, serta dilengkapi dua unit bus sekolah.
Bagi Marcus Tulio Tanaka, sekolah itu menjadi simbol rasa terima kasih kepada kota yang telah membentuk perjalanan hidupnya.
Saat Jepang menghadapi Brasil di Houston pada Senin sore dalam babak 32 besar Piala Dunia 2026, Tulio mengakui bahwa apa pun hasil akhirnya, dirinya tidak akan benar-benar menjadi pihak yang kalah. Kedua negara memiliki tempat istimewa dalam perjalanan hidupnya.
Setelah seluruh kemeriahan Piala Dunia usai, ia akan kembali ke kehidupan sederhana di peternakannya di Palmeira d'Oeste.
Menurutnya, kebahagiaan kini hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Ia merasa bahagia ketika memancing, menyaksikan anak sapi lahir, atau melihat seekor anak kuda mulai belajar berjalan.
Bagi Marcus Tulio Tanaka, pencapaian sebagai pemain yang pernah tampil di Olimpiade, Piala Dunia Antarklub, hingga Piala Dunia memang menjadi kebanggaan besar. Namun pada fase kehidupannya saat ini, pendidikan, ketenangan, dan kehidupan sederhana justru menjadi makna kebahagiaan yang sesungguhnya.
Kisah hidupnya menjadi cerminan eratnya hubungan antara Brasil dan Jepang, sekaligus menghadirkan dimensi emosional yang membuat laga Jepang vs Brasil di Piala Dunia 2026 memiliki makna jauh lebih besar daripada sekadar pertandingan sepak bola. (*)
















