Setelah 3 Hari, TikTok Hidupkan Lagi Fitur LIVE di Indonesia

Setelah 3 Hari, TikTok Hidupkan Lagi Fitur LIVE di Indonesia

Ilustrasi TikTok. (Dok. Pixabay)

Sumbardaily.com, Padang - Fitur TikTok LIVE kembali dapat digunakan oleh pengguna di Indonesia pada Selasa (2/9/2025) sore setelah tiga hari dihilangkan sementara.

Kembalinya fitur ini menjadi kabar gembira bagi jutaan kreator konten dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang selama tiga hari terakhir kehilangan salah satu kanal penting untuk berinteraksi dengan audiens maupun menjual produk secara langsung.

Penonaktifan sementara fitur LIVE sejak Sabtu (30/8/2025) sempat menimbulkan keresahan luas. Banyak pihak mempertanyakan penyebabnya, hingga muncul spekulasi bahwa pemerintah terlibat dalam penghentian layanan. Namun, klarifikasi resmi menyebutkan bahwa keputusan itu sepenuhnya diambil TikTok secara internal.

Pada Sabtu (30/8/2025) malam, pengguna TikTok di Indonesia mendapati bahwa tombol untuk memulai siaran langsung menghilang dari aplikasi.

Sejumlah warganet mengunggah keluhan di media sosial lain seperti X (Twitter) dan Instagram. “Live TikTok hilang? Saya baru sadar pas mau jualan,” tulis seorang pengguna.

Pihak TikTok akhirnya memberikan keterangan. Mereka menyebut penghentian itu sebagai langkah pencegahan karena meningkatnya ketegangan sosial akibat aksi demonstrasi yang berlangsung sejak 25 Agustus di Jakarta dan beberapa kota lain. Fitur LIVE dianggap rawan digunakan untuk menyebarkan konten provokatif atau berisiko memperkeruh suasana.

“TikTok berkomitmen menjaga ruang digital tetap aman. Penonaktifan sementara ini dilakukan untuk melindungi komunitas,” tulis pernyataan resmi TikTok.

Seiring dengan kabar tersebut, muncul dugaan bahwa pemerintah ikut campur dalam penghentian fitur LIVE. Isu ini berkembang di media sosial dengan nada kritik terhadap Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Namun, Menteri Komdigi Meutya Hafid segera menegaskan bahwa pemerintah tidak pernah mengeluarkan instruksi penutupan. “Itu murni keputusan TikTok. Tidak ada tekanan dari kami,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah hanya memantau perkembangan situasi, bukan menekan platform untuk menonaktifkan fitur. Penegasan ini penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap netralitas pemerintah dalam mengatur ruang digital.

Meski dijelaskan sebagai langkah keamanan, banyak kreator yang merasa dirugikan. Bagi mereka, TikTok LIVE adalah urat nadi penghasilan. Kreator bisa berinteraksi langsung dengan penonton, menjual produk, atau menerima hadiah virtual yang dapat diuangkan.

Tagar #TikTokLiveDimatikan bahkan sempat menjadi trending di X. Beberapa kreator mengunggah video ekspresi kecewa. “Tiga hari tanpa live rasanya seperti kehilangan panggung,” kata Dimas, seorang kreator konten kuliner.

Pelaku UMKM juga mengeluhkan hal serupa. “Kami sudah siapkan promo khusus akhir pekan, ternyata live dimatikan. Penjualan turun drastis,” ujar Rani, penjual busana muslim.

Kembalinya Fitur LIVE

Setelah tiga hari penuh penantian, pada Selasa (2/9/2025) sore, pengguna mendapati tombol LIVE kembali muncul di aplikasi.

Kabar ini cepat menyebar, terutama melalui unggahan kreator yang langsung mencoba siaran langsung pertama mereka setelah penonaktifan.

Sejumlah UMKM segera memanfaatkan momentum. Sesi live selling berlangsung kembali, sebagian bahkan mengumumkan promo dadakan sebagai bentuk syukur. “Alhamdulillah bisa live lagi. Kami langsung kasih diskon spesial buat follower,” kata Rani.

Para konten kreator juga menumpahkan kegembiraan. Ada yang menjadikan sesi LIVE perdana sebagai ajang berbagi cerita tentang keresahan tiga hari terakhir, ada pula yang langsung fokus menghibur penonton.

Pandangan Pemerintah

Bagi pemerintah, kembalinya fitur LIVE menandakan situasi sosial mulai terkendali. Menteri Komdigi berharap TikTok mampu meningkatkan sistem moderasi konten agar kejadian serupa tidak perlu terulang.

“Kami menghargai inisiatif TikTok menjaga keamanan. Namun, ke depan sebaiknya ada solusi lain yang tidak merugikan kreator dan UMKM,” kata Meutya Hafid.

Ia menambahkan, pemerintah tetap mendukung ekosistem digital yang sehat. Kehadiran platform seperti TikTok diharapkan mampu memperkuat ekonomi kreatif sekaligus menjaga stabilitas ruang publik.

Platform global seperti TikTok punya tanggung jawab besar. Dalam situasi rawan, mereka memilih menutup salah satu fitur paling vital.

Ini langkah drastis, tetapi mungkin dianggap perlu. Jangan sampai penonaktifan mendadak membuat publik kehilangan kepercayaan. Harus ada mekanisme yang lebih jelas.

Dampak bagi UMKM

Bagi UMKM, tiga hari tanpa LIVE terasa sangat panjang. Sejumlah pelaku usaha mengaku omzet turun hingga 40 persen karena mereka sangat bergantung pada live selling.

Eka, penjual aksesoris di Bukittinggi, bercerita bahwa ia sudah menyiapkan stok besar untuk promosi akhir bulan. “Begitu LIVE hilang, penjualan sepi sekali. Kami berusaha alihkan ke marketplace lain, tapi responnya jauh berbeda,” ujarnya.

Kini, dengan kembalinya LIVE, UMKM seperti Eka dan Rani berharap bisa mengejar ketertinggalan. Mereka bahkan mulai merancang strategi cadangan untuk menghadapi kemungkinan gangguan di masa depan.

Meski fitur sudah kembali, tantangan besar masih membayangi, bagaimana mencegah penyalahgunaan LIVE tanpa harus menonaktifkan seluruh layanan.

TikTok dituntut memperkuat sistem moderasi. Algoritma dan tim kurasi konten perlu bekerja lebih cepat mendeteksi siaran yang berpotensi memicu konflik. Selain itu, edukasi kepada kreator dan pengguna juga harus digencarkan agar mereka memahami batasan konten yang aman.

Kembalinya TikTok LIVE memberi sinyal positif bagi ekosistem digital Indonesia. Namun, insiden ini juga menjadi pelajaran penting.

Konten Kreator dan UMKM kini sadar bahwa ketergantungan berlebihan pada satu fitur bisa menimbulkan kerentanan. Tidak hanya bergantung pada satu kanal. Instagram, YouTube, marketplace, semua bisa menjadi alternatif.

Kembalinya fitur LIVE dinilai tidak hanya memulihkan semangat kreator dan UMKM, tetapi juga menegaskan peran besar media sosial dalam kehidupan sehari-hari masyarakat modern.

Insiden ini sekaligus mengingatkan pentingnya sinergi antara platform, pemerintah, dan komunitas. Dengan komunikasi yang terbuka dan moderasi yang kuat, ruang digital bisa tetap menjadi tempat aman sekaligus produktif bagi semua pihak. (adl)

Baca Juga

Bukan Seluruh Sumbar, Ini Daerah yang Diprediksi Tetap Dapat Hujan Normal pada Oktober 2026
Bukan Seluruh Sumbar, Ini Daerah yang Diprediksi Tetap Dapat Hujan Normal pada Oktober 2026
Kesehatan Jadi Penentu Keberangkatan Haji 2027, Menhaj Minta Jemaah Siapkan Fisik Sejak Dini
Kesehatan Jadi Penentu Keberangkatan Haji 2027, Menhaj Minta Jemaah Siapkan Fisik Sejak Dini
TikTok Nonaktifkan 9 Juta Akun Anak, Komdigi Soroti Ancaman AI
TikTok Nonaktifkan 9 Juta Akun Anak, Komdigi Soroti Ancaman AI
UMKM Sumbar Dapat Dukungan Rp115 Miliar, 10 Persen Ditargetkan Naik Kelas
UMKM Sumbar Dapat Dukungan Rp115 Miliar, 10 Persen Ditargetkan Naik Kelas
Sumatera Selatan Catat 130 Titik Panas, Karhutla Masih Jadi Ancaman di Sumatera
Sumatera Selatan Catat 130 Titik Panas, Karhutla Masih Jadi Ancaman di Sumatera
Judi Online Diduga Beroperasi di Rumah Dinas TNI, DPR Minta Pengusutan Tak Berhenti pada Pelaku
Judi Online Diduga Beroperasi di Rumah Dinas TNI, DPR Minta Pengusutan Tak Berhenti pada Pelaku