Setelah menyelesaikan studi S-2 Master of Creative Industries Studies di Macquarie University di Sydney, Australia, Rani memulai karir solonya. Rani menjelajahi dunia musik elektronik dan soundscape dengan mengumpulkan beraneka suara khas dan unik dari berbagai tempat di Indonesia.
Karya musik Rani banyak mengangkat tentang suara sosial budaya dan hubungan antara manusia dan nenek moyang mereka.
Dia mengembangkan karya-karya creative soundscape, yaitu merekam soundscapes dari suara-suara di alam, suara aktivitas sosial budaya masyarakat, dan suara dari instrumen maupun pertunjukan tradisional dari berbagai daerah, untuk kemudian materi suara-suara tersebut disusun dan dirangkai menjadi sebuah komposisi musik digital.
Kincia Aia Malenong (M)ASO
Pada kegiatan Oram Awards 2022 ini, selain menerima penghargaan, Rani juga akan menampilkan performance dari salah satu karya masterpiece-nya, yaitu “Kincia Aia” (Kincir Air, bahasa Minangkabau).
Kincia Aia merupakan sebuah teknologi tradisional khas masyarakat Minangkabau, yang menjadi media eksplorasi Rani di proyek musiknya dalam ajang program Musicians in Residence 2021-2022 yang diselenggarakan oleh British Council.
Rani datang ke Inggris bersama M Hario Efenur, suaminya tercinta, dengan membawa sebuah replika kincia aia yang mereka buat, lengkap dengan alu-alu-nya (penumbuk) sejumlah 10 buah, di mana pada tiap alu-alu Rani menempatkan sensor yang sensitif menangkap getaran, melalui pemrograman menggunakan coding, getaran itu diubah dengan softwere MIDI pengolah suara untuk menghasilkan komposisi musik, di mana sumber bunyi musiknya diambil dari kumpulan sampling suara-suara soundscape.
Baca Juga:
Portugal vs Ghana jadi Pertandingan Perdana Ronaldo Usai Keluar dari MU
Rani kembali menampilkan performance karyanya yang berjudul Malenong (M)ASO, yang ini telah di-launching pada 22 Juli 2022 di Nagari Lasi, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar).
“Dalam pengertian bahasa Indonesia, Malenong (M)ASO adalah memutar waktu dan asal. Judul ini saya pilih karena berhubungan dengan konsep karya, yaitu memutar atau menggulirkan teknologi masa lampau sehingga dapat difungsikan lagi ke masa depan”, ungkap Rani Jambak dalam keterangannya.
“Selain itu, ASO atau asal, dimaknai dengan asal muasal Kincia Aia yang digunakan sebagai pengkaryaan musik, adalah produk kecerdasan masyarakat Minangkabau yang telah tercatat dalam sejarah sejak 204 tahun yang lalu”, lanjut Rani Jambak.
















