Sumbardaily.com - Perubahan cuaca yang semakin sulit diprediksi mulai menjadi tantangan serius bagi petambak udang di Lhokseumawe. Fluktuasi suhu, salinitas, hingga tingkat keasaman air tambak dapat memicu stres pada udang, meningkatkan risiko serangan penyakit, bahkan berujung pada kematian dan merosotnya hasil budidaya.
Kondisi tersebut coba dijawab melalui Program Gampong Berdikari yang dijalankan Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut melalui Terminal BBM Lhokseumawe di Gampong Padang Sakti, Kecamatan Muara Satu.
Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) tersebut tidak sekadar berorientasi pada bantuan, tetapi diarahkan untuk memperkuat kemampuan petambak menghadapi dampak perubahan iklim dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan dalam program tersebut adalah pelatihan pembuatan probiotik Mikro Organisme Lokal (MOL).
Petambak dibekali keterampilan mengolah limbah buah yang berasal dari pasar menjadi probiotik alami yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan budidaya udang vaname.
Langkah itu menjadi penting karena perubahan kondisi lingkungan perairan dapat secara langsung memengaruhi keberlangsungan budidaya.
Ketika suhu, salinitas dan pH air mengalami perubahan, udang berpotensi mengalami stres dan lebih rentan terhadap penyakit. Jika kondisi tersebut tidak dapat dikendalikan, produktivitas tambak dan pendapatan petambak ikut terancam.
Penjabat Sementara (Pjs) Area Manager Communication, Relations and CSR Pertamina Patra Niaga Sumbagut, Silvani Maiyestuhariani mengatakan, pelatihan tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas petambak sekaligus memperkenalkan pemanfaatan bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah.
"Probiotik MOL pada program Gampong Berdikari ini merupakan inovasi pertama di Kota Lhokseumawe yang mengoptimalkan limbah buah pasar dan diformulasikan dengan daun murbei sebagai bahan tambahan alami," katanya, Sabtu (22/8/2026).
Menurutnya, probiotik MOL yang dihasilkan dari bahan lokal tersebut berfungsi sebagai immunostimulan. Pemanfaatannya ditujukan untuk membantu meningkatkan daya tahan udang ketika menghadapi perubahan kualitas lingkungan perairan.
Dengan pendekatan tersebut, petambak tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai pengelolaan tambak, tetapi juga didorong untuk memiliki kemampuan memproduksi kebutuhan pendukung budidaya secara mandiri.
Cara ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan petambak terhadap produk probiotik komersial.
Program Gampong Berdikari juga membawa persoalan lingkungan ke dalam skema pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Limbah organik dari pasar yang sebelumnya berpotensi menjadi sumber pencemaran diolah kembali menjadi produk yang memiliki nilai guna bagi sektor perikanan.
Silvani menyebut pendekatan tersebut sekaligus menjadi penerapan prinsip ekonomi sirkular. Sampah organik tidak berhenti sebagai limbah, tetapi dimanfaatkan kembali sehingga menghasilkan nilai tambah dan mendukung keberlanjutan aktivitas budidaya.
"Program ini juga mendukung salah satu program unggulan Pemerintah Kota (Pemko) Lhokseumawe yaitu “Broh Jeut Ke Peng” (sampah jadi uang)," ucapnya.
Melalui pelatihan tersebut, Pertamina berharap masyarakat, khususnya petambak udang di Gampong Padang Sakti, memiliki kapasitas yang lebih kuat dalam menghadapi perubahan lingkungan.
Produksi probiotik secara mandiri juga diharapkan dapat memberikan pilihan yang lebih mudah diakses petambak dalam menjaga kondisi tambak.
Penggunaan probiotik alami diharapkan membantu menjaga kualitas air, meningkatkan kesehatan udang, serta mengurangi risiko kegagalan panen yang dapat terjadi akibat penyakit yang dipicu perubahan kondisi lingkungan.
Bagi petambak, kemampuan mengolah limbah menjadi produk yang bermanfaat juga membuka pendekatan baru dalam mengelola kegiatan budidaya.
Di sisi lain, pemanfaatan limbah buah pasar menunjukkan bahwa upaya menghadapi perubahan iklim dapat berjalan beriringan dengan pengelolaan lingkungan dan penguatan ekonomi masyarakat.
Program TJSL Gampong Berdikari menjadi bagian dari komitmen Pertamina Patra Niaga Sumbagut melalui Terminal BBM Lhokseumawe untuk menghadirkan inovasi berbasis potensi lokal.
Program tersebut diarahkan agar masyarakat pesisir memiliki kemampuan yang lebih adaptif terhadap tantangan perubahan iklim sekaligus memperoleh manfaat ekonomi yang berkelanjutan.
Pelaksanaan program juga berkontribusi terhadap sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Kontribusi tersebut mencakup SDGs 1 Tanpa Kemiskinan, SDGs 2 Tanpa Kelaparan, SDGs 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDGs 12 Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDGs 13 Penanganan Perubahan Iklim, serta SDGs 14 Ekosistem Laut.
Kontribusi itu diwujudkan melalui penguatan ekonomi sirkular, peningkatan ketahanan budidaya perikanan, serta pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.
Dengan demikian, program tersebut tidak hanya menyentuh aspek produksi tambak, tetapi juga menghubungkan persoalan limbah, perubahan iklim, lingkungan perairan, dan kesejahteraan masyarakat dalam satu pendekatan.
Ke depan, Pertamina Patra Niaga berkomitmen untuk terus menghadirkan berbagai inisiatif sosial yang memberikan dampak positif dan berkelanjutan di wilayah operasional perusahaan.
"Program Gampong Berdikari di Lhokseumawe menjadi salah satu upaya untuk mendorong masyarakat memanfaatkan potensi lokal sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi dan lingkungan di kawasan pesisir," pungkas Silvani. (*)















