Sumbardaily.com - Pembangunan rumah contoh Hunian Tetap (Huntap) mandiri bagi warga terdampak bencana hidrometeorologi di Kota Pariaman resmi dimulai.
Program ini ditandai dengan peletakan batu pertama yang dilakukan oleh Sekretaris Utama (Sestama) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Rustian, di Desa Sintuak, Kecamatan Pariaman Utara, Jumat (1/5/2026).
Momentum ini menjadi titik awal fase pemulihan bagi masyarakat terdampak, sekaligus penanda berakhirnya masa darurat dan pengungsian menuju kehidupan yang lebih layak.
Melansir halaman resmi Pemerintah Kota Pariaman, Rustian menyampaikan keprihatinannya terhadap warga terdampak, salah satunya Emridona yang menjadi penerima bantuan Huntap.
Ia menegaskan bahwa penanganan bencana tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus melibatkan berbagai pihak melalui pendekatan multi-helix.
“Pemerintah tidak bekerja sendiri. Penanganan bencana adalah urusan bersama. Kami memastikan pendampingan akan terus dilakukan hingga seluruh siklus pemulihan selesai,” ujar Rustian.
Ia menjelaskan bahwa konsep multi-helix mencakup lima unsur utama, yakni pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas atau masyarakat, serta media.
Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk memastikan proses rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan optimal.
Salah satu hal yang menjadi sorotan dalam pembangunan Huntap di Kota Pariaman adalah penggunaan teknologi rumah sapa block.
Material ini disebut memiliki kualitas tinggi serta memberikan keamanan dan kenyamanan lebih bagi penghuni.
Rustian menyebutkan, Kota Pariaman menjadi daerah pertama yang menerapkan teknologi ini untuk hunian tetap.
“Kota Pariaman menjadi daerah pertama yang menerapkan model hunian dengan teknologi ini, yang diharapkan dapat menjadi percontohan bagi daerah lain di Sumatera Barat dan Indonesia,” katanya.
Dalam konteks penanggulangan bencana, pemerintah memiliki peran utama sebagai penanggung jawab, baik di tingkat pusat maupun daerah.
Pemerintah pusat melalui BNPB bertugas menyiapkan regulasi, kebijakan, hingga dukungan infrastruktur mulai dari tahap tanggap darurat hingga rehabilitasi dan rekonstruksi.
BNPB juga bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk memastikan distribusi bantuan dan pembangunan kembali wilayah terdampak dapat berjalan dengan baik.
Sementara itu, Wali Kota Pariaman, Yota Balad, menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat atas dukungan yang diberikan kepada daerahnya. Ia menilai pembangunan Huntap ini menjadi simbol kebangkitan bagi masyarakat terdampak bencana.
“Hari ini adalah momen yang bersejarah dan penuh harapan. Peletakan batu pertama rumah contoh hunian tetap (Huntap) mandiri tipe 36 ini merupakan simbol nyata dari berakhirnya masa darurat dan pengungsian, serta dimulainya fase pemulihan kehidupan yang lebih baik, lebih aman, dan lebih tangguh,” ungkap Yota.
Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah berkomitmen untuk mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Menurutnya, meskipun bencana meninggalkan duka, upaya pemulihan harus tetap berjalan demi masa depan masyarakat.
Pembangunan Huntap mandiri ini turut didukung oleh penggunaan material sapa block dari Semen Padang Indonesia. Program ini juga memberikan fleksibilitas bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Batang Mangor dan merasa terancam untuk mengajukan diri sebagai penerima bantuan.
Program tersebut merupakan hasil tindak lanjut dari pertemuan antara Pemerintah Kota Pariaman dengan Sestama BNPB pada 27 April lalu.
Yota Balad menjelaskan bahwa saat ini baru satu unit Huntap mandiri yang dibangun sebagai contoh. Namun, peluang untuk pengembangan masih terbuka bagi masyarakat lain yang memenuhi syarat.
“Untuk saat ini baru 1 unit huntap mandiri yang kita bangun, namun apabila masyarakat Kota Pariaman yang merasa terancam dengan kondisi rumah pasca bencana hidrometeorologi, bisa melaporkan ke BPBD Kota Pariaman dan akan kita usulkan pembangunan huntap dengan syarat menyediakan lokasi tanah tempat pembangunan huntap,” jelasnya.
Ia berharap program ini dapat membantu masyarakat kembali menata kehidupan di tempat asal mereka dengan kondisi hunian yang lebih aman dan layak.(*)
















