BNPB Catat Rentetan Bencana Hidrometeorologi, Angin Kencang hingga Longsor Dominasi

BNPB Catat Rentetan Bencana Hidrometeorologi, Angin Kencang hingga Longsor Dominasi

BNPB melaporkan bencana hidrometeorologi seperti angin kencang dan longsor di sejumlah wilayah Indonesia, berdampak pada ratusan warga. (Foto: Istimewa)

Sumbardaily.com—Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan terbaru penanganan bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah Indonesia dalam periode pemantauan Kamis (16/4) pukul 07.00 WIB hingga Jumat (17/4) pukul 07.00 WIB.

Dalam kurun waktu tersebut, fenomena hidrometeorologi basah seperti angin kencang, banjir, dan tanah longsor menjadi kejadian yang paling dominan.

Di Kabupaten Lubuk Linggau, Provinsi Sumatra Selatan, dampak cuaca ekstrem yang terjadi pada Rabu (15/4) pukul 16.30 WIB masih dalam penanganan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah melakukan asesmen serta koordinasi dengan aparat desa. Peristiwa ini menerjang empat kelurahan yang tersebar di Kecamatan Lubuk Linggau Utara II, Lubuk Linggau Timur I, Lubuk Linggau Timur II, dan Lubuk Linggau Barat I. Satu orang dilaporkan mengalami luka-luka akibat kejadian tersebut.

Sementara itu, angin kencang juga melanda Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh, pada Rabu (15/4) sekitar pukul 17.30 WIB. Hingga Kamis (16/4), BPBD bersama instansi terkait masih melakukan pembersihan material terdampak. Kerusakan pada permukiman tercatat cukup signifikan, dengan 15 rumah mengalami rusak berat, 15 rumah rusak sedang, dan 30 rumah rusak ringan. Bencana ini terjadi di tiga desa di Kecamatan Semadam, yakni Desa Kinga Lapter, Kinga Gabungan, dan Sepakat Segenep. Total sebanyak 60 kepala keluarga atau 239 jiwa terdampak, namun tidak ada korban jiwa dilaporkan.

Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Dairi, Sumatra Utara, yang dilanda angin kencang pada Rabu (15/4). Tiga desa di Kecamatan Lae Parira, yaitu Desa Lae Parira, Bulu Duri, dan Sempung Polling terdampak kejadian ini. Sebanyak 20 kepala keluarga terdampak, sementara dua keluarga memilih mengungsi ke rumah kerabat. Hingga Kamis (16/4), BPBD masih melakukan pendataan dan penanganan darurat di lokasi.

Di Provinsi Jawa Timur, longsor terjadi di Kabupaten Pacitan pada Rabu (15/4). Hingga Kamis (16/4), BPBD bersama aparat desa dan warga masih bergotong royong membersihkan material longsor. Kendaraan yang sempat tertimbun telah dipindahkan oleh pemiliknya. Longsor ini tersebar di 10 desa di dua kecamatan, yakni Nawangan dan Bandar, dengan total 33 kepala keluarga terdampak atau terancam.

Bencana tanah longsor juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, pada Rabu (15/4). Sebaran dampak berada di tiga kecamatan, yakni Pagedongan, Wanayasa, dan Madukara. Sebanyak enam keluarga tercatat rumahnya terancam longsoran. BPBD telah melakukan penanganan hingga Kamis (16/4).

Sementara di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, longsor terjadi pada Rabu (15/4) akibat hujan lebat. BPBD bersama dinas terkait telah melakukan penanganan darurat dan pembersihan material di sejumlah lokasi, seperti Desa Bojong Koneng, Situ Ilir, dan Sukaharja. Hingga Jumat (17/4), proses pembersihan masih berlangsung.

BPBD mencatat satu warga mengalami luka ringan. Sebanyak 10 kepala keluarga terdampak dan tujuh keluarga lainnya berada dalam kondisi terancam. Data sementara menunjukkan empat rumah mengalami rusak sedang dan enam rumah rusak ringan, sementara tujuh rumah lainnya terancam longsor.

Menanggapi kondisi tersebut, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah. Berdasarkan prakiraan cuaca, sebagian besar wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat.

BNPB juga meminta BPBD di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota untuk terus memperbarui informasi potensi cuaca hingga ke tingkat desa. Pemantauan intensif terhadap curah hujan, terutama di wilayah hulu dan daerah pegunungan, dinilai penting untuk mengantisipasi risiko banjir dan longsor.

Selain itu, sistem peringatan dini yang didukung komunikasi yang efektif menjadi kunci dalam upaya mitigasi. Langkah ini diharapkan dapat mendorong tindakan cepat sehingga masyarakat dapat terhindar dari risiko bencana yang lebih besar.(*)

Baca Juga

Banjir Terjang Agam, 100 KK Mengungsi-Sekolah TK Ikut Terdampak
Banjir Terjang Agam, 100 KK Mengungsi-Sekolah TK Ikut Terdampak
Bantuan Presiden ke Korban Terdampak Bencana Padang Disalurkan, Jatah Hidup hingga Rp10,8 Juta per Keluarga
Bantuan Presiden ke Korban Terdampak Bencana Padang Disalurkan, Jatah Hidup hingga Rp10,8 Juta per Keluarga
Banjir Rendam Rumah dan Jalan di Tanjung Raya Agam, Air Sungai Asam Meluap
Banjir Rendam Rumah dan Jalan di Tanjung Raya Agam, Air Sungai Asam Meluap
Pemko Padang dan Kadin Resmikan 10 Hunian Tetap untuk Korban Terdampak Banjir Bandang di Batu Busuk
Pemko Padang dan Kadin Resmikan 10 Hunian Tetap untuk Korban Terdampak Banjir Bandang di Batu Busuk
Kemensos Tegaskan Sekolah Rakyat di Padang Belum Dibangun jika Lahan tak Memadai
Kemensos Tegaskan Sekolah Rakyat di Padang Belum Dibangun jika Lahan tak Memadai
Wagub Vasko: Pemulihan Pasca Banjir Bandang di Sumbar Butuh Energi dan Kebersamaan
Wagub Vasko: Pemulihan Pasca Banjir Bandang di Sumbar Butuh Energi dan Kebersamaan