Sumbardaily.com, Padang - Pemerintah Kota (Pemko) Padang terus memperluas strategi pembangunan berkelanjutan dengan mengajukan sejumlah proyek pelestarian lingkungan dalam skema kerja sama bilateral Indonesia-Jerman tahun 2026.
Inisiatif tersebut diajukan melalui penguatan hubungan kota kembar (sister city) antara Kota Padang dan Hildesheim, Jerman, yang telah terjalin selama hampir empat dekade.
Wali Kota Padang, Fadly Amran menyampaikan bahwa kerja sama internasional ini diarahkan untuk menjawab tantangan lingkungan perkotaan sekaligus mendukung visi jangka panjang Padang sebagai kota sehat, kota pintar, dan destinasi unggulan berbasis budaya serta gastronomi.
Usulan itu disampaikannya dalam Rapat Koordinasi (Rakor) bersama Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia (KLH RI), Ary Sudijanto, yang berlangsung secara dalam jaringan (daring) dari Kediaman Resmi Wali Kota Padang, Senin (12/1/2026).
Rapat koordinasi tersebut juga dihadiri perwakilan Kementerian Luar Negeri RI, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Berlin, serta jajaran direktorat teknis di lingkungan KLH RI.
Kehadiran lintas lembaga ini menunjukkan keseriusan pemerintah pusat dan daerah dalam mendorong kolaborasi global yang berdampak langsung bagi pembangunan daerah.
Dalam forum tersebut, Fadly Amran mengusulkan dukungan Pemerintah Jerman melalui lembaga kerja sama internasional GIZ (Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit) untuk merealisasikan sejumlah proyek strategis di Kota Padang.
Fokus utama diarahkan pada revitalisasi Sungai Batang Arau, terutama terkait pengelolaan air limbah perkotaan, serta pengembangan sistem transportasi massal berbasis listrik untuk layanan Trans Padang.
"Usulan tersebut telah disampaikan sejak November 2025 dan diharapkan dapat segera memasuki tahap realisasi dengan dukungan kementerian terkait," katanya.
Revitalisasi Sungai Batang Arau dinilai krusial karena sungai tersebut tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur lingkungan, tetapi juga memiliki nilai historis dan ekonomi yang tinggi bagi kawasan Kota Tua Padang.
Penguatan kerja sama lingkungan ini juga berkaitan erat dengan langkah Kota Padang yang tengah memposisikan diri sebagai salah satu kota kreatif dunia di bidang gastronomi.
"Kawasan Kota Tua dan Sungai Batang Arau diproyeksikan menjadi etalase utama pengembangan wisata berbasis sejarah, budaya dan kuliner khas Minangkabau," katanya.
Dalam konteks tersebut, revitalisasi sungai menjadi bagian integral dari Program Unggulan (Progul) Jelajah Padang, yang berfokus pada penataan kawasan Kota Tua sebagai pusat aktivitas wisata dan ekonomi kreatif.
"Kami meyakini bahwa perbaikan kualitas lingkungan akan berdampak langsung terhadap peningkatan iklim investasi serta arus kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara," katanya.
Lebih jauh, kata Fadly, kerja sama sister city Padang-Hildesheim diposisikan sebagai salah satu instrumen penting dalam peta jalan pembangunan kota.
"Konsep kota sehat tidak dapat dilepaskan dari ketersediaan infrastruktur lingkungan yang memadai, sistem sanitasi berkelanjutan, serta transportasi rendah emisi yang ramah lingkungan," katanya.
Pembangunan tersebut, menurutnya, juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan Kota Padang dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin nyata, khususnya di wilayah pesisir dan kawasan perkotaan padat penduduk.
Dukungan terhadap usulan Pemko Padang disampaikan oleh Deputi KLH RI, Ary Sudijanto. Ia menilai, inisiatif yang diajukan sejalan dengan agenda nasional dalam pengendalian perubahan iklim serta penguatan tata kelola lingkungan hidup di daerah.
KLH RI, kata Ary, akan berperan dalam mengoordinasikan langkah lanjutan bersama kementerian terkait dan mitra internasional agar kerja sama tersebut dapat diimplementasikan secara terukur dan berkelanjutan.
"Fokus pada pengelolaan sungai, sanitasi, serta transportasi rendah emisi dinilai relevan dengan arah kebijakan pembangunan hijau Indonesia," katanya.
Melalui penguatan kerja sama kota kembar ini, Kota Padang tidak hanya mempererat hubungan internasional, tetapi juga menegaskan komitmen untuk membangun kota yang berdaya saing, berwawasan lingkungan, dan berbasis potensi lokal, mulai dari sejarah, pariwisata hingga gastronomi. (adl)
















