Sumbardaily.com – Dalam lanskap informasi yang kian padat dan gaduh, kelompok seni Kataswara merilis single terbaru berjudul “Menyesal Baca Berita”. Karya ini menjadi respons reflektif atas kelelahan kolektif masyarakat yang terus disuguhi arus kabar tanpa henti.
Alih-alih meneriakkan amarah, lagu ini memilih berbicara lewat keputusasaan yang sunyi—sebuah potret generasi yang terlalu banyak tahu, namun semakin sedikit merasakan. Dalam aransemen bernuansa alternative, Kataswara memadukan kesunyian, ledakan emosi, dan ruang renung yang sengaja dibiarkan kosong.
Lewat pendekatan musik hitam-putih yang minimalis, grup seni berbasis Tasikmalaya ini menghadirkan atmosfer getir yang lahir dari rutinitas membaca berita yang kian melelahkan secara emosional.
Lagu tersebut menggambarkan kondisi ketika informasi tidak lagi menjadi pengetahuan, tetapi berubah menjadi beban yang menekan.
Kataswara menyebut “Menyesal Baca Berita” sebagai semacam monumen kecil atas kebingungan zaman. Ketika fakta kerap diperlakukan sebagai hiburan dan kesedihan berubah menjadi tontonan, mereka menempatkan karyanya sebagai penanda kritik sosial yang jujur.
Lagu ini tidak dimaksudkan untuk menawarkan solusi, melainkan membuka ruang bagi pendengar untuk berhenti sejenak, bernapas, dan merenungkan kembali hubungan mereka dengan dunia informasi.
Bait seperti “Buka mata, serasa tak ada kepala / Penguasa bersuara, tak lain hanya bercanda” menjadi salah satu sorotan dalam karya ini. Kataswara mengajak publik melihat absurditas realitas sosial melalui ironi dan satire yang halus.
Kata “sejahtera” yang terdengar indah, namun terasa jauh dari kenyataan, menjadi simbol tentang bagaimana bahasa kerap kehilangan makna dalam percakapan publik.
Melalui single ini, Kataswara ingin menunjukkan bagaimana pengalaman membaca berita kini menyerupai menatap cermin retak—sebuah refleksi yang tetap dipandang meski menyakitkan.
Lagu tersebut menjadi pengingat bahwa di balik derasnya kabar yang masuk setiap hari, ada bagian dari manusia yang perlahan merapuh. Pesan yang mereka sampaikan tidak meledak-ledak, tetapi berjalan pelan dan tajam, seperti asap yang enggan hilang.
Kataswara dikenal sebagai kolektif seni yang bereksperimen di wilayah musik, puisi, performa tubuh, dan teater. Bagi mereka, kata bukan hanya bahasa, tetapi bentuk perlawanan yang bernada.
Pendekatan ini tampak jelas dalam “Menyesal Baca Berita”—karya yang puitis, sarkastik, dan jujur, sekaligus mengajak pendengarnya tertawa getir, menyesal, serta merenungi dunia yang terus bergerak tanpa arah. (*)
















