Makan Ikan Sejak Dini, Cara Dharmasraya Siapkan SDM Berkualitas Menuju 2045

Makan Ikan Sejak Dini, Cara Dharmasraya Siapkan SDM Berkualitas Menuju 2045

Ilustrasi Ikan (Foto: Pexels)

Sumbardaily.com – Upaya membangun kualitas sumber daya manusia (SDM) tidak hanya dilakukan melalui pendidikan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Dharmasraya juga mendorong pemenuhan gizi sejak masa pertumbuhan melalui kebiasaan makan ikan sejak dini.

Langkah itu salah satunya diwujudkan Dinas Pangan dan Perikanan Kabupaten Dharmasraya melalui inovasi Gerakan Makan Ikan di Sekolah (GAS). Program tersebut dikemas sebagai kampanye edukasi untuk mengenalkan ikan kepada anak sekolah sekaligus membangun kebiasaan mengonsumsi pangan bergizi.

Kegiatan GAS tidak sekadar mengajak siswa makan ikan. Edukasi juga diberikan agar anak memahami manfaat ikan, mengenal berbagai olahan ikan, dan memiliki pengalaman langsung menikmati makanan berbahan ikan dengan cara yang lebih menarik.

Kepala Dinas Pangan dan Perikanan Kabupaten Dharmasraya, Hastho Kuncoro, mengatakan pembentukan SDM berkualitas perlu dimulai sejak anak berada dalam masa pertumbuhan. Salah satu fondasi yang dinilai penting adalah pola makan sehat dan pemenuhan kebutuhan gizi.

"Kalau kita berbicara tentang kualitas sumber daya manusia, kita tidak bisa hanya berbicara soal pendidikan. Anak-anak juga membutuhkan asupan gizi yang baik agar pertumbuhan fisik dan perkembangan otaknya dapat berlangsung secara optimal," kata Hastho di Pulau Punjung, Selasa (1/9/2026).

Dalam kesempatan itu, Hastho didampingi Kabid Perikanan Dinas Pangan dan Perikanan Kabupaten Dharmasraya, Selvi Delvia Falinda.

GAS Bukan Sekadar Kampanye Makan Ikan

Menurut Hastho, ikan memiliki kandungan protein berkualitas dan berbagai zat gizi penting yang dibutuhkan tubuh. Kandungan tersebut menjadikan ikan sebagai salah satu pilihan pangan yang dapat mendukung kebutuhan gizi anak selama masa pertumbuhan dan perkembangan.

Namun, tantangan yang dihadapi bukan semata-mata soal ketersediaan ikan. Tidak semua anak memiliki kegemaran mengonsumsi ikan. Kondisi itu membuat edukasi mengenai konsumsi ikan perlu dilakukan dengan pendekatan yang dapat diterima oleh anak-anak.

Pemerintah daerah kemudian mengemas kampanye melalui kegiatan yang lebih dekat dengan kehidupan siswa di sekolah. Melalui GAS, anak-anak tidak hanya diberikan pengetahuan mengenai manfaat ikan, tetapi juga diperkenalkan pada berbagai bentuk olahan yang dinilai lebih menarik dan sesuai dengan selera mereka.

"Ikan tidak semua anak suka makan ikan. Karena itu, kita perlu pendekatan yang berbeda agar ikan tidak dianggap sebagai makanan yang membosankan. Melalui GAS, anak-anak dikenalkan dengan berbagai olahan ikan yang lebih menarik dan sesuai dengan selera mereka," ujarnya.

Pelaksanaan GAS mencakup edukasi mengenai manfaat ikan, kegiatan makan bersama, serta pengenalan aneka olahan ikan kepada siswa. Rangkaian tersebut diharapkan membuat pesan tentang pentingnya konsumsi ikan tidak berhenti pada pengetahuan.

Anak juga mendapatkan pengalaman secara langsung untuk mengenal dan mengonsumsi ikan. Dari pengalaman tersebut, kebiasaan makan ikan diharapkan dapat terbentuk sejak usia sekolah.

"Yang kita bangun bukan hanya kegiatan makan ikan, tetapi kebiasaan. Kita ingin anak-anak mengenal ikan, menyukainya, kemudian terbiasa mengonsumsinya sebagai bagian dari menu sehari-hari," kata Hastho.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu sisi unik GAS. Kampanye konsumsi ikan ditempatkan sebagai proses pembentukan kebiasaan, bukan hanya kegiatan makan bersama yang dilakukan sesaat.

Dukung Pencegahan Stunting

Pembiasaan makan ikan sejak usia sekolah juga ditempatkan sebagai bagian dari upaya mendukung pencegahan stunting. Menurut Hastho, pemenuhan gizi yang baik selama masa pertumbuhan menjadi hal penting dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Karena itu, edukasi mengenai pangan bergizi perlu terus diberikan kepada anak maupun keluarga. Pengetahuan tersebut diharapkan membantu masyarakat memahami pilihan makanan yang dapat memenuhi kebutuhan gizi tanpa harus selalu menganggap makanan bergizi sebagai sesuatu yang mahal.

"Pencegahan stunting harus dilakukan sejak dini. Edukasi mengenai makanan bergizi perlu terus diberikan kepada anak dan keluarga. Kita ingin masyarakat memahami bahwa makanan bergizi tidak harus mahal dan ikan bisa menjadi salah satu pilihan pangan bergizi," ujarnya.

Hastho menegaskan, GAS merupakan kampanye edukasi dan bukan program bantuan. Fokus utama kegiatan tersebut adalah membangun pengetahuan, kesadaran, serta kebiasaan konsumsi ikan di kalangan anak sekolah.

Dengan pendekatan tersebut, konsumsi ikan diharapkan tidak hanya berlangsung ketika kegiatan GAS digelar. Kebiasaan yang dibentuk di sekolah diharapkan dapat berlanjut dalam kehidupan sehari-hari dan diterapkan di lingkungan keluarga.

Sejalan dengan Penguatan Gizi Masyarakat

Hastho mengatakan pelaksanaan GAS sejalan dengan komitmen Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani dalam membangun kualitas sumber daya manusia melalui penguatan pemenuhan gizi masyarakat.

Menurutnya, pembangunan SDM tidak dapat dipisahkan dari kondisi kesehatan dan kecukupan gizi masyarakat. Karena itu, intervensi pemenuhan gizi dilakukan melalui berbagai tahapan dan kelompok usia.

Pemkab Dharmasraya juga memiliki program unggulan bantuan permakanan bagi ibu hamil dan ibu menyusui. Program tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan pemenuhan gizi sekaligus mencegah stunting sejak dini.

Bantuan permakanan tersebut diberikan secara bertahap, dimulai sejak masa kehamilan hingga enam bulan setelah melahirkan.

Bagi Hastho, program pemenuhan gizi bagi ibu dan kampanye makan ikan bagi anak sekolah memiliki keterkaitan dalam tujuan besarnya. Keduanya merupakan bagian dari upaya menyiapkan generasi yang memiliki kondisi kesehatan dan kualitas yang baik sejak awal kehidupan.

"Semua program ini saling melengkapi. Ada upaya pemenuhan gizi bagi ibu hamil dan ibu menyusui, kemudian ada edukasi dan pembiasaan makan ikan kepada anak-anak di sekolah. Tujuannya sama, yaitu menyiapkan generasi Dharmasraya yang sehat, cerdas, dan berkualitas," kata Hastho.

Ia menilai pembangunan kualitas SDM harus dilakukan secara berkelanjutan. Kesehatan dan kecukupan gizi sejak usia dini menjadi salah satu fondasi yang dapat menunjang kemampuan anak untuk tumbuh, belajar, serta berkembang secara optimal.

Artinya, upaya meningkatkan kualitas SDM tidak cukup dilakukan ketika anak telah memasuki usia produktif. Persiapan tersebut harus dimulai sejak masa pertumbuhan dengan memastikan anak memperoleh edukasi dan asupan gizi yang baik.

Investasi Menuju Indonesia Emas 2045

Hastho menyebut anak-anak yang saat ini mendapatkan pembinaan akan menjadi bagian dari generasi yang menentukan masa depan daerah dan bangsa. Karena itu, investasi terhadap kesehatan, kecerdasan, dan kualitas mereka perlu dilakukan sejak sekarang.

"Anak-anak yang sekarang kita siapkan adalah generasi yang akan menentukan masa depan daerah dan bangsa. Karena itu, mereka harus tumbuh sehat, cerdas, dan memiliki kualitas yang baik. Ini merupakan investasi untuk menyongsong Indonesia Emas 2045," ujarnya.

Dalam konteks tersebut, kebiasaan makan ikan sejak dini dipandang bukan sekadar persoalan menu makanan. Edukasi konsumsi ikan menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan hidup sehat yang diharapkan memberikan dampak terhadap kualitas generasi pada masa mendatang.

GAS sekaligus memperkuat kampanye Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) yang dilaksanakan Dinas Pangan dan Perikanan Kabupaten Dharmasraya.

Jika Gemarikan menjadi gerakan untuk mendorong masyarakat semakin mengenal dan mengonsumsi ikan, GAS memberikan pendekatan yang lebih langsung kepada kelompok anak sekolah. Kampanye tersebut dibawa ke lingkungan pendidikan agar pesan mengenai manfaat konsumsi ikan dapat diterima anak sejak usia sekolah.

Selain meningkatkan minat konsumsi ikan, kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk memperkenalkan potensi perikanan kepada generasi muda. Anak-anak diperkenalkan pada ikan sebagai bagian dari pola makan sehat keluarga.

Dengan cara tersebut, edukasi tidak hanya diarahkan agar anak mau makan ikan, tetapi juga untuk membangun pemahaman mengenai pentingnya pilihan pangan bergizi dalam kehidupan sehari-hari.

Inovasi dari Dinas Pangan dan Perikanan Dharmasraya

GAS merupakan inovasi yang digagas Elvira Notta, Pengawas Perikanan Ahli Muda pada Dinas Pangan dan Perikanan Kabupaten Dharmasraya.

Inovasi tersebut mengemas edukasi konsumsi ikan melalui aktivitas yang sederhana, edukatif, dan menyenangkan bagi siswa. Pendekatan tersebut menjadi bagian penting agar kampanye makan ikan dapat diterima oleh anak-anak dengan cara yang tidak monoton.

Melalui lingkungan sekolah, pesan mengenai konsumsi ikan dapat disampaikan secara langsung kepada siswa. Pengalaman tersebut kemudian diharapkan dapat dibawa pulang dan menjadi bahan pembiasaan di lingkungan keluarga.

Bagi pemerintah daerah, sekolah menjadi salah satu ruang strategis untuk menanamkan kebiasaan sejak dini. Anak yang telah mengenal ikan, memahami manfaatnya, dan terbiasa mengonsumsinya diharapkan dapat membawa kebiasaan tersebut hingga tumbuh dewasa.

Hastho berharap GAS dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan cakupannya semakin luas. Dengan demikian, pembiasaan makan ikan tidak berhenti sebagai kegiatan edukasi di sekolah, tetapi dapat berkembang menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga berharap kebiasaan tersebut dapat diteruskan di lingkungan keluarga sehingga pesan mengenai pentingnya konsumsi pangan bergizi semakin luas diterapkan masyarakat.

Pada akhirnya, GAS diharapkan ikut berkontribusi terhadap lahirnya generasi Dharmasraya yang sehat, cerdas, produktif, dan berdaya saing.

Upaya membiasakan makan ikan sejak dini pun ditempatkan sebagai bagian dari investasi jangka panjang. Edukasi yang dimulai dari sekolah diharapkan berjalan beriringan dengan program pemenuhan gizi bagi ibu hamil dan ibu menyusui sehingga pembangunan kualitas SDM dilakukan secara berkesinambungan.

Melalui penguatan edukasi, pemenuhan gizi, dan pembentukan kebiasaan makan sehat, Pemerintah Kabupaten Dharmasraya berharap dapat menyiapkan generasi yang memiliki fondasi kesehatan dan kualitas yang baik untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. (*)

Baca Juga

Waspada Gelombang Tinggi hingga 2,5 Meter di Perairan Sumbar 2-5 September 2026
Waspada Gelombang Tinggi hingga 2,5 Meter di Perairan Sumbar 2-5 September 2026
Sungai Batang Siat Menghitam, DLH Sumbar dan Dharmasraya Cek IPAL 2 PKS
Sungai Batang Siat Menghitam, DLH Sumbar dan Dharmasraya Cek IPAL 2 PKS
DPRD Pasaman Barat Sahkan Perubahan APBD 2026, Total Anggaran Capai Rp1,41 Triliun
DPRD Pasaman Barat Sahkan Perubahan APBD 2026, Total Anggaran Capai Rp1,41 Triliun
Hampir 20 Tahun Teliti Penyu, Dosen Bung Hatta Ungkap Tantangan Konservasi di Mentawai
Hampir 20 Tahun Teliti Penyu, Dosen Bung Hatta Ungkap Tantangan Konservasi di Mentawai
Bantuan Pangan 3 Bulan Disalurkan di Padang Panjang, 6.017 Keluarga Terima Beras
Bantuan Pangan 3 Bulan Disalurkan di Padang Panjang, 6.017 Keluarga Terima Beras
Tim SAR gabungan mengevakuasi mayat yang ditemukan warga di wilayah Sungai Bangek, Kota Padang.
Identitas Mayat di Sungai Bangek Padang Terungkap, Ternyata Warga Air Dingin