Kisah Ratnawati Dua Kali Disapu Banjir Bandang: Tetap Berdiri Demi 4 Buah Hati Meski Kehilangan Suami

Kisah Ratnawati Dua Kali Disapu Banjir Bandang: Tetap Berdiri Demi 4 Buah Hati Meski Kehilangan Suami

Korban bencana banjir bandang Ratnawati (Foto: Kominfo Padang Panjang)

Harris Suyata, Padang Panjang – Raungan alarm peringatan dini kembali memecah malam di sepanjang aliran Sungai Batang Aia Sangkua, Rabu, 26 November 2025. Suara itu mengingatkan warga pada tragedi setahun sebelumnya, ketika galodo memorak-porandakan kampung dan memaksa pemerintah memasang sistem peringatan dini di titik rawan. Namun bagi Ratnawati (32), suara tersebut justru menjadi awal dari kehilangan yang tak akan pernah ia lupakan.

Sejak enam bulan lalu, ia dan keluarganya tinggal di bantaran Sungai Batang Aia Putiah, kawasan yang tak jauh dari Jembatan Kembar Padang Panjang. Di sanalah ia hidup bersama suaminya, Riki Saputra (38), dan empat putri mereka. Meski kerap dihantui kenangan bencana, Ratna merasa rumah barunya cukup aman. Sampai malam itu, ketika bencana datang bukan dari sungai yang diawasi alat peringatan dini, melainkan dari arus deras Batang Aia Putiah, tepat di samping rumah mereka.

Saat proses evakuasi berlangsung sekitar pukul 20.00 WIB, Riki mendesak istrinya dan anak-anak mereka segera mengungsi. Ratna mengikuti saran itu, bergabung dengan kakak iparnya, Maryulis (52), serta dua anak Maryulis menuju rumah kerabat di Jaho. Ia pergi dengan perasaan tenang; suaminya berjanji akan menyusul setelah membantu ronda bersama warga. Ratna tak pernah tahu, itu adalah percakapan terakhir mereka.

Keesokan paginya, Kamis (27/11/2025), Maryulis berniat kembali ke rumah untuk memasak bekal bagi keluarga di pengungsian. Didampingi Rendi, anaknya, mereka berangkat menggunakan mobil. Kemacetan parah di Silaing Bawah akibat akses Mega Mendung yang terputus memaksa Rendi memutar balik. Maryulis lalu menghubungi Riki yang masih berada di kampung. Riki menjemput Maryulis dan keponakannya, Amel, menggunakan sepeda motor—tanpa pernah menyadari bahwa beberapa menit ke depan, rumah yang dituju akan luluh lantak oleh terjangan galodo.

Di tempat mengungsi, Ratna mulai gelisah. Panggilan teleponnya tak kunjung tersambung. Ia sempat menghubungi Amel, yang menyebut bahwa Riki hendak mengisi daya teleponnya. Kegelisahan itu menumpuk, berubah menjadi firasat yang menghantam dadanya bertubi-tubi. Hingga akhirnya, sekitar pukul 11.00 WIB, Rendi datang membawa kabar paling kelam: rumah di Batang Aia Putiah telah disapu galodo. Suaminya, Riki, bersama Maryulis dan Amel, tak berhasil diselamatkan.

Ratna menangis sejadi-jadinya. Dalam hitungan jam, hidupnya berubah total. Ia tak hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga orang-orang terdekat yang selama ini menjadi tiang penyangga hidupnya. Ketika hujan kembali turun deras dan angin kencang memaksa warga Jaho ikut dievakuasi ke lokasi lain, Ratna merasa seluruh pijakannya runtuh sekaligus.

Bagi Ratna, tragedi kali ini seperti luka yang membuka luka lama. Pada 11 Mei 2024, rumah pertama mereka yang berada di seberang sungai, dekat Batang Aia Sangkua, juga lenyap diterjang banjir bandang. Bedanya, pada bencana setahun lalu mereka masih bisa berkumpul berdua. Tahun ini, ia kehilangan suami, kakak ipar, dan keponakannya.

Kini Ratnawati dan empat putrinya tinggal sementara di pos pengungsian Kantor Lurah Silaing Bawah. Wajahnya tampak sedikit lebih tenang meski masih menyimpan kesedihan yang tak pernah benar-benar hilang. Ia bersyukur karena para relawan dan warga memberikan pelayanan terbaik sejak hari pertama mereka tiba.

“Kami seperti satu keluarga sejak di pengungsian,” ujarnya tertahan, sambil sesekali menatap empat anaknya yang tak pernah jauh dari sisi ibunya.

Di balik air mata yang belum kering, Ratna perlahan menata kembali kekuatan. Baginya, masa depan empat putrinya adalah alasan untuk tetap melangkah meski separuh jiwanya serasa ikut hanyut bersama arus. “Mereka alasan saya bernapas,” tuturnya.

Ia bertekad berdiri kembali, membesarkan anak-anaknya, dan memastikan mereka tetap melihat ibu mereka sebagai perempuan yang tak pernah menyerah meski dua kali disapu galodo dan kehilangan tiga anggota keluarga sekaligus. “Meski berat, saya ingin mereka tahu, dari puing-puing galodo ini, kami akan bangkit,” katanya.

Di tengah puing, kehilangan, dan gelapnya hari-hari pascabencana, Ratnawati perlahan memungut kembali sisa-sisa hidupnya. Dengan empat permata hatinya, ia melangkah menuju hari berikutnya—dengan dukungan warga, dengan doa yang tidak pernah putus, dan dengan keberanian yang tumbuh dari luka terdalam seorang ibu. (*)

Baca Juga

Masak Sambalado Tanak Pakai Kayu Bakar, Tradisi Minangkabau Hidup di Padang Panjang
Masak Sambalado Tanak Pakai Kayu Bakar, Tradisi Minangkabau Hidup di Padang Panjang
73 PNS Padang Panjang Ikuti Seminar Persiapan Purna Bakti, Dibekali Hadapi Masa Pensiun
73 PNS Padang Panjang Ikuti Seminar Persiapan Purna Bakti, Dibekali Hadapi Masa Pensiun
Dividen Bank Nagari Rp7,18 Miliar Jadi Hak Pemko Padang Panjang, CSR Pendidikan Rp120 Juta
Dividen Bank Nagari Rp7,18 Miliar Jadi Hak Pemko Padang Panjang, CSR Pendidikan Rp120 Juta
Kisah Ulya Kireina Halim, Siswi Padang Panjang yang Lolos Paskibraka Nasional
Kisah Ulya Kireina Halim, Siswi Padang Panjang yang Lolos Paskibraka Nasional
Semarak Pawai Alegoris Padang Panjang, Pelajar Tampilkan Kostum hingga Miniatur Masjid
Semarak Pawai Alegoris Padang Panjang, Pelajar Tampilkan Kostum hingga Miniatur Masjid
Disabilitas hingga Lansia Terlantar di Padang Panjang Terima Bantuan HUT Kemerdekaan RI
Disabilitas hingga Lansia Terlantar di Padang Panjang Terima Bantuan HUT Kemerdekaan RI