Sumbardaily.com – Usianya baru 13 tahun, tetapi Isan Adianda sudah mampu menunjukkan prestasi di lintasan balap motor tingkat provinsi. Pembalap muda asal Padang tersebut sukses meraih dua medali emas dan satu medali perak pada cabang olahraga balap motor Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumatera Barat (Sumbar) 2026.
Pencapaian itu menjadi catatan istimewa bagi Isan yang tampil sebagai pembalap termuda dalam cabang olahraga tersebut. Debutnya di ajang olahraga tingkat provinsi itu langsung membuahkan tiga medali, sekaligus memperlihatkan hasil dari proses latihan yang dijalaninya sejak usia dini.
Di balik prestasi tersebut, ada peran besar sang ayah, Gusti Andri. Mantan pembalap itu turut membimbing Isan dalam mengenal dan menekuni olahraga balap motor hingga mampu berkompetisi di Porprov Sumbar.
Isan lahir di Kota Padang pada Januari 2013. Ketertarikannya terhadap dunia balap motor mulai dikembangkan melalui latihan ketika usianya menginjak 10 tahun. Sejak saat itu, kemampuan Isan terus diasah melalui latihan bersama klub IMS (Isan Motor Sport).
Dalam proses tersebut, Gusti Andri tidak hanya memberikan dukungan sebagai orang tua, tetapi juga membagikan pengalaman yang diperolehnya selama berkecimpung di dunia balap. Pengalaman sang ayah menjadi bekal bagi Isan untuk memahami bahwa kemampuan di lintasan perlu dibangun melalui latihan yang konsisten.
Bakat yang dimiliki Isan pun tidak dibiarkan berkembang tanpa arahan. Ia menjalani proses pembinaan dengan kedisiplinan agar kemampuannya semakin terasah dan dapat bersaing dengan pembalap lain.
Hasil dari proses tersebut mulai terlihat ketika Isan mengikuti Porprov Sumbar 2026. Meski menjadi peserta termuda di cabang olahraga balap motor, ia mampu membawa pulang dua medali emas dan satu medali perak.
Perolehan tiga medali itu menjadi pencapaian membanggakan bagi Isan, terutama karena diraih dalam penampilan perdananya di ajang olahraga terbesar di Sumatera Barat tersebut.
Isan Adianda Akui Latihan Setiap Hari Tak Selalu Mudah
Meski berhasil mengukir prestasi, perjalanan Isan untuk menjadi pembalap muda bukan tanpa tantangan. Di tengah kesibukannya sebagai pelajar SMP Perti Padang, ia harus menjalani latihan yang membutuhkan tenaga, waktu, dan konsistensi.
Isan mengakui bahwa berlatih setiap hari terkadang membuatnya merasa lelah. Rasa jenuh juga sesekali muncul selama menjalani rutinitas tersebut.
Namun, kondisi itu tidak membuatnya berhenti mengejar target. Ia berusaha mengatasi rasa malas dengan mengingat kembali tujuan yang ingin dicapai melalui olahraga balap motor.
Bagi Isan, keinginan untuk menjadi pembalap berprestasi harus diimbangi dengan kemauan menjalani latihan. Ia menyadari bahwa kemampuan di lintasan tidak cukup hanya mengandalkan bakat, tetapi juga membutuhkan usaha yang berkelanjutan.
Prinsip tersebut menjadi salah satu pegangan Isan dalam mempertahankan semangatnya.
“Mana mungkin bisa berprestasi kalau malas latihan,” menjadi prinsip yang dipegangnya untuk terus berlatih dan meningkatkan kemampuan.
Pandangan itu mencerminkan kesadarannya bahwa hasil yang diraih dalam kompetisi merupakan bagian dari proses panjang. Sebelum bisa berdiri di podium Porprov, ia harus melewati latihan dan pembinaan untuk mengembangkan kemampuan balapnya.
Disiplin menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Dengan terus berlatih, Isan berupaya memperbaiki kemampuannya agar dapat menghadapi persaingan di lintasan balap.
Marc Márquez Jadi Idola Isan Adianda
Dalam menekuni dunia balap motor, Isan memiliki sosok yang menjadi idolanya, yakni Marc Márquez, pembalap asal Spanyol yang dikenal melalui kiprahnya di ajang MotoGP.
Kecintaannya terhadap olahraga balap motor menjadi salah satu alasan Isan terus mengembangkan kemampuan. Sosok pembalap idolanya turut menjadi inspirasi dalam menjalani proses untuk meningkatkan keterampilan di lintasan.
Isan sendiri merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, buah hati pasangan Gusti Andri dan Isma Joseana. Dukungan keluarga menjadi bagian dari perjalanan yang dijalaninya sejak mulai berlatih pada usia 10 tahun.
Kehadiran Gusti Andri sebagai ayah sekaligus mantan pembalap memberikan pengalaman tersendiri bagi Isan. Ia dapat memperoleh arahan dari seseorang yang telah lebih dahulu mengenal tantangan dan persaingan dalam olahraga tersebut.
Dengan dukungan keluarga, pembinaan melalui klub IMS, serta pengalaman mengikuti kompetisi, Isan mulai membangun perjalanan sebagai pembalap muda asal Padang.
Prestasi di Porprov Sumbar 2026 menjadi salah satu pencapaian penting dalam proses tersebut. Raihan dua emas dan satu perak memperlihatkan hasil yang mampu dicapainya pada usia yang masih belia.
Isan Ajak Anak Muda Pilih Balap Resmi daripada Balapan Liar
Selain berbicara mengenai prestasinya, Isan juga menyampaikan pesan kepada anak-anak muda yang memiliki ketertarikan terhadap balap motor. Ia mengajak generasi seusianya agar menyalurkan hobi tersebut melalui kompetisi resmi dan tidak melakukan balapan liar di jalan raya.
Menurut Isan, minat terhadap balap motor sebaiknya diarahkan ke kegiatan yang memiliki aturan dan jalur kompetisi yang jelas. Dengan mengikuti perlombaan resmi, kemampuan dapat terus dikembangkan sekaligus memberikan kesempatan untuk meraih prestasi.
Ajakan tersebut juga berkaitan dengan pentingnya menghindari balapan liar yang dilakukan di jalan umum. Bagi Isan, kegemaran memacu kendaraan dapat disalurkan melalui kegiatan olahraga yang terorganisasi.
“Ayo ikut balap resmi. Selain aman dan terhindar dari kejaran polisi, menang dapat hadiah dan bonus lagi,” ajak Isan.
Pesan itu disampaikan berdasarkan pengalamannya menekuni balap motor melalui latihan dan kompetisi. Ia menunjukkan bahwa olahraga tersebut dapat menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan apabila dijalani secara disiplin dan mengikuti aturan.
Ajakan Isan juga menegaskan perbedaan antara menyalurkan hobi melalui perlombaan resmi dan melakukan balapan liar di jalan raya. Kompetisi resmi memberikan ruang bagi pembalap untuk menguji kemampuan dalam kegiatan olahraga yang terarah. (*)
















