Sumbardaily.com – Bahasa Inggris yang sebelumnya membuat sebagian siswa memilih diam kini justru menjadi salah satu kegiatan yang paling mereka nantikan di SD Negeri 22 Tuapejat, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar). Perubahan itu terjadi setelah Dika Riyanti, guru di sekolah tersebut, menerapkan sejumlah kegiatan yang mendorong siswa berani menggunakan Bahasa Inggris tanpa takut melakukan kesalahan.
Salah satu pendekatan yang diterapkan Dika adalah program Hello Friday dan English Club. Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya belajar kosakata atau mengerjakan tugas di dalam kelas, tetapi juga mendapat kesempatan untuk tampil, berbicara, berdiskusi, dan mempraktikkan kemampuan Bahasa Inggris secara langsung.
Kisah tersebut dibagikan Dika dalam acara Inspiring Educators 2026, graduation Wardah Inspiring Teacher (WIT) dan Inspiring Lecturer Program (ILP) 2026 yang diselenggarakan ParagonCorp di Jakarta, Sabtu (26/9/2026).
Menurut Dika, salah satu hal penting dalam proses pembelajaran adalah menciptakan suasana kelas yang membuat siswa merasa aman untuk mencoba. Ia pun terus meyakinkan murid-muridnya bahwa kesalahan bukan alasan untuk berhenti belajar.
"Saya selalu berusaha menanamkan kepada mereka, 'Tidak apa-apa salah, yang penting berani mencoba.' Anak-anak perlu merasa bahwa kelas adalah ruang yang nyaman untuk belajar. Ketika mereka berani mencoba, dari situlah rasa percaya diri dan semangat belajar bisa tumbuh," kata Dika, dikutip Minggu (27/9/2026).
Bahasa Inggris Jadi Bekal bagi Anak Mentawai
Selama delapan tahun mengajar di Mentawai, Dika melihat pembelajaran Bahasa Inggris memiliki manfaat yang cukup dekat dengan kehidupan anak-anak di daerah tersebut. Kepulauan Mentawai dikenal sebagai salah satu destinasi selancar dunia. Kondisi itu membuat sebagian siswa yang gemar berselancar memiliki peluang untuk bertemu dengan wisatawan mancanegara.
Situasi tersebut menjadi salah satu alasan Dika berusaha membuat pembelajaran Bahasa Inggris lebih dekat dengan kebutuhan dan kemungkinan masa depan siswanya.
"Mungkin suatu hari mereka bisa berkomunikasi dengan wisatawan, memperkenalkan daerahnya, membantu menunjukkan arah, atau bahkan bekerja di bidang pariwisata. Jadi belajar Bahasa Inggris bukan hanya tentang menghafalkan kosakata, tetapi membuka jendela kesempatan bagi mereka," ujarnya.
Namun, proses tersebut tidak langsung berjalan mudah. Ketika mulai mengajar, Dika mendapati Bahasa Inggris masih tergolong hal yang relatif baru bagi para siswa. Kosakata sederhana, seperti nama-nama benda dan sapaan, belum menjadi bagian dari keseharian mereka.
Kondisi itu juga terlihat dari keberanian siswa ketika diminta mengucapkan kata-kata baru. Sebagian anak masih merasa malu dan memilih untuk tidak berbicara karena khawatir salah.
Dika kemudian mencoba mengubah pola pembelajaran agar siswa tidak hanya berhadapan dengan materi dan hafalan, tetapi memiliki pengalaman langsung dalam menggunakan Bahasa Inggris.
Belajar Bahasa Inggris Lewat Karya dan Penampilan
Berbekal pendekatan yang diperolehnya melalui program WIT, Dika menerapkan pembelajaran berbasis proyek menggunakan metode Card Crafting English. Dalam metode tersebut, siswa membuat kartu kosakata sendiri, kemudian berdiskusi dan berlatih mengucapkan kata-kata yang mereka pelajari.
Dengan cara itu, siswa tidak sekadar menerima dan menghafalkan kosakata dari guru. Mereka terlibat langsung dalam proses membuat materi belajar sekaligus mempraktikkan Bahasa Inggris.
Kegiatan kemudian berlanjut melalui program Hello Friday yang digelar setiap Jumat. Para siswa mendapat kesempatan tampil bergiliran di lapangan sekolah. Bentuk penampilannya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing, mulai dari memperkenalkan diri, menyebutkan kosakata, hingga melakukan percakapan sederhana.
Selain kegiatan pada Jumat, Dika juga menyediakan ruang belajar tambahan melalui English Club setiap Sabtu. Kegiatan tersebut berlangsung di luar jam pelajaran dan dirancang agar siswa dapat bermain sekaligus berlatih menggunakan Bahasa Inggris.
Perubahan pada diri siswa tidak terjadi dalam waktu singkat. Pada tahap awal, masih ada siswa yang berbicara terlalu pelan ketika tampil. Ada pula yang tiba-tiba lupa kosakata saat berada di depan teman-temannya. Sebagian lainnya bahkan masih merasa malu untuk berdiri dan berbicara di hadapan siswa lain.
Namun, proses yang dilakukan secara berulang mulai menunjukkan perubahan. Anak-anak yang sebelumnya cenderung pasif perlahan mulai berani mengangkat tangan, mengajukan pertanyaan, dan mengambil kesempatan untuk tampil.
Bahkan, pertanyaan yang sebelumnya jarang terdengar kini mulai sering disampaikan oleh para siswa kepada Dika.
"Bu, minggu depan saya boleh tampil?"
Bagi Dika, pertanyaan sederhana tersebut menjadi salah satu tanda bahwa proses pembelajaran yang dijalankannya mulai memberikan dampak. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak selalu dapat diukur hanya melalui angka yang diperoleh siswa dalam ujian.
"Ada keberhasilan yang jauh lebih berarti ketika seorang anak yang sebelumnya berkata 'saya tidak bisa' kemudian berubah menjadi 'saya mau mencoba'. Mereka mungkin belum fasih dan masih sering salah, tetapi sudah tidak takut lagi untuk mencoba. Itulah awal dari sebuah perubahan," tuturnya.
Bagian dari Gerakan Pendidikan
Pengalaman Dika bersama siswa-siswanya menjadi bagian dari perjalanan WIT 2026. Ia merupakan satu dari 5.000 guru yang dinyatakan lulus dari program Wardah Inspiring Teacher 2026.
Program WIT bersama Inspiring Lecturer Program (ILP) telah berjalan sejak 2017. Hingga 2026, kedua program tersebut disebut telah menjangkau lebih dari 43.000 guru dan dosen di 38 provinsi.
Bagi Dika, pengalaman tersebut turut memberikan bekal untuk mengembangkan pendekatan pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa. Di Mentawai, upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan yang membuat Bahasa Inggris tidak lagi sekadar menjadi materi pelajaran, tetapi juga ruang bagi siswa untuk membangun keberanian.
Dari siswa yang awalnya takut salah dan memilih diam, perlahan muncul anak-anak yang justru ingin mendapatkan kesempatan tampil. Bagi Dika, keberanian untuk mencoba itulah yang menjadi langkah awal agar siswa terus berkembang, meski dalam prosesnya mereka masih melakukan kesalahan. (*)
















